Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 108


__ADS_3

Diki melihat Starla pergi. Diki tersenyum.


"Aku tau walaupun sebenarnya dia marah, Tapi dia sangat perhatian. Aku sangat lapar sekali." ucap Diki dia langsung Makan.


Mood nya seketika kembali lagi.


Keesokan harinya di pagi hari yang cerah Starla baru saja sampai di kampus. Dia meletakkan jualannya di kantin terlebih dahulu untuk menambah-nambah penghasilan nya.


Tidak beberapa lama dia di panggil oleh Dosen. Dia sudah tau namun uang nya belum cukup.


Dosen memberikan waktu, Kalau tidak di bayar Starla mungkin tidak bisa ikut ujian.


Starla keluar dari berfikir bagaimana mendapatkan uang dengan cepat..


Dia duduk di depan kelas sebelum kelas dulu mulai. Wajah nya terlihat sangat murung dan sedih sekali.


"Ada apa lagi sih dengan tuh anak, perasaan setiap hari ada saja masalah dia." batin Hima yang melihat Teman nya.


"Starla... kamu kenapa lagi sih?" tanya Hima sambil duduk di samping Starla.


Starla langsung Sada dia menoleh ke arah Hima.


"Eh kamu sudah datang, ayo masuk ke dalam kelas.


"Jangan mengalihkan pembicaraan ku, katakan kamu ada masalah apa lagi sih?" tanya Hima.


"Gak ada apa-apa kok."


"Jelas-jelas aku melihat kamu dari tadi terlihat sangat murung di sini." ucap Hima.


"Aku seriusan gak apa-apa kok, kamu jangan khawatir seperti itu." ucap Starla. "Bagaimana aku tidak khawatir? Kamu saja setiap hari seperti ini. Kamu anggap aku teman gak sih?" ucap Hima.


Starla tersenyum.


"Aku baik-baik saja, aku kamu to percaya sama aku? aku hanya memikirkan keadaan ibu ku saja." ucap Starla.


Hima memeluk Starla. "Aku tau kamu adalah wanita yang sangat kuat, kamu anak yang baik. Bu Irma pasti cepat sehat. Aku akan berdoa untuk kamu dan Bu Irma. Kalau ada masalah cerita sama aku yah." ucap Hima.


"Terimakasih banyak yah Hima." ucap Starla..Hima tersenyum. Mereka masuk ke dalam kelas.


Martin melihat itu dari kejauhan. Dia segera menyusul Diki ke Cafe.


"Tumben kakak ke sini jam segini? apa kakak tidak ke kantor?" tanya Diki sambil meletakkan kopi di depan kakak nya.


"Kakak baru saja dari kampus." ucap Martin. "Pasti menemui Starla, aku sudah bilang sama kakak untuk berhenti menemui Starla, jangan membuat dia semakin sedih dan marah." ucap Diki.

__ADS_1


"Lalu hanya kamu yang bisa menemui dia? Kamu pikir kakak tidak tau kalau kamu dua malam ini datang membantu dia jualan?" ucap Martin.


"Aku melakukan itu menebus semua kesalahan kakak. Kakak tidak sadar sekarang ini situasi nya seperti ini karena kakak." ucap Diki.


"Baiklah kakak minta maaf..Kakak ke sini kebetulan lagi ada kerjaan dekat sini."


"Tadi kakak hanya melihat Starla dari jauh, dia terlihat sangat murung tidak seperti biasanya. Apa kamu tau apa masalah dia?" tanya Martin.


Diki terdiam sejenak.


"Tidak mungkin aku ngasih tau tentang SPP Starla..Kak Martin pasti akan membayar nya langsung dan membuat Starla marah." batin Diki.


"Aku tidak tau, dia sangat dingin sekarang Kepada ku." ucap Diki. Martin menghela nafas panjang.


"Seandainya saja pada saat itu kakak tidak emosi mungkin semua nya tidak akan seperti ini." ucap Martin.


"Oh iya aku mau bertanya satu hal kepada kakak, kakak harus menjawab nya dengan jujur." ucap Diki.


"Ada apa?" tanya Martin.


"Apa sebelum nya kakak sudah tau Starla adalah anak dari pak Haris?" tanya Diki. Martin terdiam sejenak.


"Jawab dengan jujur kak kalau kakak masih ingin aku mempercayai kakak." ucap Diki.


Martin mengangguk. "Kakak mengenal dia pada saat kamu dengan dia bermasalah di Sekolah SMA pada saat itu.


"Jadi kakak sengaja mendekati Starla hanya karena merasa bersalah?" tanya Diki , Martin terdiam.


"Kakak sungguh mempermainkan Starla dengan sangat jahat." ucap Diki.


"Bukan seperti itu. Kakak berniat untuk melindungi Starla dan Ibu nya. Itu saja." ucap Martin.


"Jadi kakak sesungguhnya tidak mencintai Starla. Martin diam lagi..Diki menggeleng kan kepala nya.


"Ternyata selama ini kakak berpura-pura?" tanya Diki.


"Kakak benar-benar tidak pernah serius dengan perempuan mana pun, bahkan Tifani." ucap Diki.


"Papah dan Mamah sudah membuat kakak seperti ini." ucap Martin. Diki menghela nafas panjang.


"Kakak sudah menghianati Tifani." ucap Diki lagi.


Martin terdiam. "Oh iya kebetulan sekali kakak ke sini." ucap Diki sambil mengeluarkan Kertas satu lembar yang cukup tebal dia berikan kepada Martin.


"Apa ini?" tanya Martin.

__ADS_1


"Surat undangan pernikahan Tifani dengan calon suami nya." Martin terlihat sangat kaget sekali sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


"Baca lah dengan baik." ucap Diki. Martin sangat lemas.


"Orang tua Tifani menjodohkan dia dengan sepupunya. Dan acara nya akan di langsung kan dua Minggu lagi." ucap Diki.


"Tidak mungkin secepat ini Tifani menikah dengan pria lain, kenapa dia tidak membicarakan hal ini kepada ku?" tanya Martin.


"Kenapa dia harus membicarakan ini kepada kakak? Bukan kah kalian sudah tidak memiliki hubungan lagi?" ucap Diki.


Martin berdiri dia langsung merobek kertas undangan itu dan pergi..Diki menghela nafas panjang.


Tiba-tiba teman Diki duduk di SMP Diki.


"Berantem lagi?" tanya Teman nya..Diki menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kok." ucap Diki. "Huff bisa gak sih satu hari saja aman tentram dan damai?" ucap teman nya. Diki Menatap teman nya.


"Apa kamu sudah memasak kue untuk Bu Irma.


"Belum."


"Ya sudah kalau begitu biar aku saja." Ucap Diki, mereka berjalan ke arah dapur. Diki berpapasan dengan Jihan.


Jihan hanya menunduk kan kepala nya karena sampai sekarang mereka tidak berbicara satu sama lain.


Di malam hari nya....


"Selamat malam Cantik." Sapa Diki tiba-tiba datang membuat Starla kaget. Starla menghela nafas panjang melihat Diki.


"Bisa gak sih datang gak usah ngejutin gitu!" ucap Starla. Diki tertawa kecil.


"Lagian ngapain melamun sih? Cantik-cantik kok ngelamun." ucap Diki.


Starla menghela nafas panjang.


"Ini sudah jam berapa kok dagangan kamu masih banyak?" tanya Diki.


Starla menoleh ke arah samping mereka ternyata berjualan yang sama dan memakai tahtik yang sama agar jualan mereka laris.


Diki menggeleng kan kepala nya.


"Benar-benar yah mereka hanya bisa mencuri ide orang lain saja." ucap Diki.


"Humm gini aja deh aku punya ide bagaimana kalau aku menawarkan ke tengah-tengah. Aku akan meminta semua orang datang ke sini." ucap Diki.

__ADS_1


"Itu cukup melelahkan, sebaiknya jangan." ucap Starla.


Diki menggeleng kan kepala nya. Dia langsung membawa sebagian ke tengah-tengah pasar malam.


__ADS_2