
"Tidak apa-apa." ucap Diki. Starla tersenyum dia melihat ke sekeliling mereka. Terlihat sangat sepi dia mencium Diki.
"Berkendara dengan baik, kabarin aku kalau sudah sampai di rumah." ucap Starla. Diki tersenyum. Wajah nya terlihat sangat bahagia sekali mendapatkan hadiah ciuman dari pujaan hati nya.
Keesokan harinya... Starla menelpon Diki namun tidak di angkat dia langsung ke apartemen nya.
"Diki!!! Diki!!" panggil Starla sambil berjalan ke dalam kamar.
"Ya ampun sayang kamu juga belum bangun?" ucap Starla melihat Diki masih enak memeluk bantal guling nya.
Starla membuka gorden dia juga menarik selimut Diki.
"Sayang bangun... Nanti Kita telat ke kampus." ucap Starla.
Diki tidak menghiraukan nya dia tetap tidur. Starla menggoyang kan badan Diki namun tidak juga bangun sampai Starla bingung.
"Diki ayo bangun..kamu mau telat ke kampus?" tanya Starla masih berusaha membangun kan Diki. Diki bergeliat dia melihat Starla.
"Ya ampun Starla kamu berisik banget." ucap Diki.
"Brisik-brisik! Ayo buruan bangun." ucap Starla menarik tangan Diki.
Diki melihat jam. Dengan Santainya dia masih mau berbaring.
"Ayo bangun Diki......" ucap Starla tidak mengijinkan Diki tidur lagi.
"Iyah-iyah aku bangun." Ucap Diki. Starla memberikan handuk. Setelah itu dia mencari kan baju untuk Diki agar cepat.
"Ayo buru Diki!" ucap Starla. "Kamu kenapa terburu-buru banget sih?" ucap Diki sambil memasang baju nya.
"Bagaimana tidak terburu-buru, aku ada kelas pagi, aku ada janji juga dengan dosen." ucap Starla.
"Kenapa kamu tidak pergi duluan saja? Aku sangat ngantuk."
"Tadi malam perasaan kita pulang cepat, kamu main game semalaman yah?!"
Diki menggeleng kan kepala nya.
"Aku kecapean."
"Cape? Emangnya kamu ngapain?"
Diki menggeleng kan kepala nya lagi. "Tidak ada." ucap Diki. "Sudah ayo berangkat."
"Tunggu dulu," Starla menyisir rambut Diki.
Diki menatap wajah Starla. "Saya akan berusaha lebih keras, sampai saya benar-benar bisa membahagiakan kamu." batin Diki.
Dia melakukan semua nya hanya untuk Starla. Dia belum ingin jujur sebelum usaha nya benar-benar naik dan menjamin kehidupan nya.
"Ayo." Mereka pun berangkat, tidak membutuhkan banyak waktu hanya sekitar sepuluh menit sudah sampai di kampus.
"Aku ke ruangan Dosen langsung yah." ucap Starla. Diki menahan tangan Starla.
"Tunggu dulu." ucap Diki langsung mencium bibir Starla.
__ADS_1
"Diki.. Aku sudah pakai lipstik, tuh kan jadi nempel di bibir kamu juga." ucap Starla.
"Tidak apa-apa, kamu pergi lah." ucap Diki. Starla mencium bibir Diki lagi dan setelah itu pergi.
Diki tersenyum. Dia jadi Baper sendiri.
"Huff ya sudah lah sebaiknya aku ke kelas."
Namun tidak lupa dia juga menghapus lipstik yang di bibir nya.
Diki masuk ke dalam kelas, Hima langsung menarik tangan nya.
"Diki aku pengen tanya sesuatu boleh gak?" tanya Hima.
"Apa?" tanya Diki.
"Huff santai saja kamu Menatap ku." ucap Hima karena Diki selalu memasang wajah datar dan tatapan tajam.
Sementara kalau kepada Starla dia seperti pria yang benar-benar ramah dan selalu memasang wajah tersenyum.
"Cepat katakan ada apa?" tanya Diki.
"Humm kalau boleh tau Rendi itu benar-benar gak punya pacar yah?" tanya Hima.
"Huff tentang Rendi lagi, semalam kamu menanyakan ini juga. Dan sekarang kamu menanyakan ini juga." ucap Diki.
"Ya abisnya aku tidak mau di bohongi."
"Setau aku dia tidak mempunyai pacar, aku tidak tau kebenaran nya." ucap Diki.
"Hmm seperti nya aku mulai menyukai dia."
"Rendi sangat tipe ku sekali." ucap Hima. "Terserah kamu saja. Sebaiknya kamu pindah ke meja kamu." ucap Diki.
"Starla mana?" tanya Hima.
"Ke ruangan dosen." ucap Diki.
"Ke ruangan dosen? Apa mau ketemu kak Martin?"
"Seperti nya." ucap Diki. "Kamu tidak cemburu. Diki menggeleng kan kepala nya.
"Bohong! Mata mu tidak bisa berbohong Diki." ucap Hima.
"Kamu balik ke meja sekarang!" ucap Diki. "Iyah-iyah, galak banget sih. Kalau Starla tau aslinya seperti ini dia tidak Akan mau sama kamu " ucap Hima.
Diki diam. "Aku yakin kamu pasti melakukan sesuatu agar Starla mau pacaran sama kamu kan?" ucap Hima.
"Balik gak?!"
"Ada apa ini ribut-ribut." Starla baru saja datang.
"Eh kamu sudah datang." ucap Hima. "Gak apa-apa kok, aku balik ke meja aku dulu yah." Hima balik.
Starla menatap Diki.
__ADS_1
"Kenapa kamu marah kepada Hima ?"
"Tidak ada." jawab Diki.
"Nih Dosen ngasih ini ke aku." ucap Starla. Diki membaca nya.
"Kamu ikut olimpiade?" tanya Diki.
Starla mengangguk. "Aku kemarin mengajukan diri dan ternyata aku aku terpilih." ucap Starla.
Diki terdiam sejenak. "Kok kamu dia sih? kamu gak senang yah?" tanya Starla.
"Bukan sore itu. Tapi apa kamu yakin? Saingan kamu sangat banyak." ucap Diki.
"Aku yakin sekali." ucap Starla.
"Ini bukan pertama kalinya, kamu pasti tau juga. Hanya saja seperti nya ini akan lebih sulit, itu sebabnya aku harus belajar lebih keras." ucap Starla.
"Kalau begitu aku akan mendukung kamu, apapun itu aku percaya kamu bisa melakukan nya." ucap Diki.
Starla tersenyum dia sangat senang mendapat kan pujian. "Diki memberikan semangat, namun kenapa wajah nya tidak bersemangat gitu yah." batin Starla sambil kembali ke kursi nya.
Ibu Starla di rumah. Dia sedang melayani pelanggan namun dia kaget karena seseorang yang dia kenal datang. Wajah nya terlihat sangat takut.
Starla di sore hari baru pulang dia baru saja sampai di rumah.
"Kenapa warung tutup?" ucap Starla.
Dia tidak melihat Ibu nya dan ternyata dia di kamar.
"Ibu sakit lagi?" tanya Starla. Ibu nya melihat Starla dia tersenyum.
"Ibu kenapa?" tanya Starla karena melihat kaki nya di balut dengan kain kasa.
"Ibu tadi..."
"Ada apa Bu?" tanya Starla.
"Tadi...." "Tadi apa Bu? jangan membuat aku penasaran."
"Tadi Pak Faisal datang."
Starla kaget.
"Apa dia datang meminta uang?" tanya Starla. Ibu nya mengangguk.
"Semua tabungan dan uang warung habis di ambil oleh pak Faisal." ucap Ibu nya.
Starla syok mendengar itu. Dia duduk lemas.
"Apa semua nya sudah lunas?"
"Tidak mungkin bisa lunas nak, uang sebanyak itu mana mungkin ibu bisa bayar." ucap ibu nya.
Starla sedih dia diam. "Pak Faisal juga bilang kalau dalam jangka Tiga bulan kita tidak bisa melunasi nya dia akan mengambil rumah ini." ucap ibu nya.
__ADS_1
"Gak bisa gitu dong Bu." ucap Starla.
"Pak Faisal sudah terlalu berlebihan." ucap Starla marah dia mau menyusul pak Faisal namun di tahan oleh Ibu nya.