
Besok seperti biasa di ke kampus di pagi hari.
"Selamat pagi Starla." sapa Hima. Starla tersenyum.
"Kok kamu lemas banget sih? Wajah kamu juga sangat pucat. Ada apa?" tanya Hima.
"Gak apa-apa kok, aku hanya kelelahan saja." ucap Starla.
Hima menghela nafas panjang.
"Huff kamu jangan terlalu kecapean yah, aku khawatir kamu sakit. Lihat wajah kamu sangat pucat." Hima memeriksa suhu badan Starla dan ternyata sedikit hangat.
Untung saja Hima Membawa satu obat di tas nya dan memberikan nya kepada Starla.
Berkat obat itu Starla bisa menyudahi kelas nya hari ini. Dia tidak langsung pulang dia pergi ke UKS untuk istirahat sejenak.
Kebetulan Martin lewat dengan teman-teman nya di depan pintu UKS.
"Loh kok pintu ini terbuka?" ucap teman nya.
"Sudah biarkan saja sebaiknya kita pergi." ucap teman nya. "Kalian duluan saja, aku akan memeriksa ke dalam." ucap Martin.
"Loe yakin mau masuk ke dalam?" tanya teman nya. Martin mengangguk. Dia masuk ke dalam setelah teman-teman nya pergi.
"Starla! Kenapa kamu di sini?" tanya Martin. Starla menoleh ke arah Martin dia langsung duduk.
"Aku minta maaf sudah mengganggu tidur kamu." ucap Martin. Starla tidak mengatakan apapun namun wajah nya menjelaskan kalau dia tidak mau di ganggu dan tidak mau berbicara akhirnya Martin pergi dari sana.
Dia langsung menelpon Diki.
"Halo Ki kamu masih di universitas?" tanya Martin.
"Ini baru saja mau ke Cafe." jawab Diki.
"Tadi kakak melihat Starla di UKS, keadaan nya terlihat tidak baik." ucap Martin.
Diki menghela nafas panjang. "Aku dengan Starla kurang baik lagi kak, kalau aku datang aku takut akan membuat nya marah dan semakin marah." ucap Diki.
"Oohh ya sudah kalau begitu, kakak hanya mengatakan itu saja." ucap Martin. Panggilan telepon pun langsung mati.
__ADS_1
Martin masuk ke dalam Mobil nya.
"Huff akhirnya semua nya selesai. Aku sudah bisa fokus pada pekerjaan ku." ucap Martin.
Dia membuka handphone nya. Dia melihat ada pesan dari teman nya yang tinggal satu kota dengan Tifani.
Martin menanyakan Tifani sungguh menikah, dan ternyata mereka kurang tau karena sudah jarang bertemu dengan Tifani.
Martin menghela nafas panjang dia menarik rambut nya karena kepala nya terasa sangat pusing.
"Aku sangat bodoh. Aku tidak pantas bersama kamu Tifani. Aku harus sadar diri. Namun sekarang kenapa aku harus merasakan putus asa, patah hati yang begitu dalam." ucap Martin.
"Aku sangat mencintai kamu, namun aku sadar kalau cinta kita hanya akan menyakiti diri masing-masing."
Martin mengingat pertama kali dia merasakan bosan dengan Tifani dan mulai selingkuh di Saat orang tua nya sudah meninggal.
Dia merasa sangat jahat. Tifani sangat baik sehingga dia tidak pantas. Bukan karena tidak mencintai Tifani dia bermain perempuan, namun agar Tifani menjauhi dia dan membenci dia agar lebih mudah berpisah.
Namun semua nya sangat menyiksa kedua nya. Tifani berusaha untuk sabar dan selalu menerima apa yang terjadi dan pada akhirnya menyerah.
Dan sekarang Martin menyesali perbuatannya, dia sangat menyesal sudah meninggal Tifani. Mengetahui Tifani mau menikah dia bahkan tidak bisa tidur sama sekali.
"Tapi aku percaya kamu akan bahagia dengan pilihan kamu, aku selalu berdoa yang terbaik untuk kamu walaupun hati ku sangat tidak terima." ucap Martin.
Di malam hari nya Diki datang ke pasar malam dia melihat lapak Starla kosong dia tidak melihat Starla berjualan di sana.
"Loh Starla Kemana? Kenapa dia tidak datang?" tanya Diki. Dia mencoba menelpon nomor Starla namun tidak aktif.
Diki tiba-tiba khawatir karena mengingat kata-kata kakak nya.
Diki langsung ke rumah Starla. Sampai di depan rumah dia melihat Bu Irma menunggu di depan seperti biasa.
Diki tidak turun, di takut membuat Bu Irma takut.
"Aku harus pulang lebih awal setiap hari, ibu tidak akan masuk ke dalam rumah sebelum aku pulang." ucap Starla mengatakan nya kepada Diki beberapa hari yang lalu.
"Bu Irma tidak mungkin duduk di luar kalau Starla sudah pulang, jangan-jangan sampai sekarang Starla belum juga pulang." ucap Diki.
"Jangan bilang sampai sekarang dia masih di UKS." batin Diki dia langsung melajukan mobil nya ke universitas..
__ADS_1
"Pak! Pak buka pintu nya dulu. Saya mau melihat teman saya seperti nya masih di dalam."
"Tidak mungkin malam-malam seperti ini masih ada orang di kampus." ucap security.
"Pak saya mohon." Diki memaksa akhirnya security membuka gerbang.
Diki berjalan masuk ke dalam UKS.
"Starla! Starla!" panggil Diki. Tidak kelihatan sangat gelap.. Setelah Lampu hidup dan ternyata Starla masih berbaring di sana dengan wajah yang sangat pucat, kedinginan dan juga badan yang sangat panas.
"Starla apa yang terjadi? Kenapa kamu di sini?" tanya Diki.
Namun seperti nya Starla tidak sadar. Diki menggendong nya ke dalam mobil di bantu oleh security.
Diki mau mengantar kan Starla pulang tidak mungkin, ibu nya akan marah kalau Diki dan Starla Pulang bersama, apa lagi keadaan Starla seperti itu.
Akhirnya Diki membawa Starla ke apartemen nya agar bisa di urus oleh nya, dokter juga lebih dekat ke apartemen nya.
Diki meminta tolong kepada Hima yang kebetulan di luar untuk bila ke pada Bu Irma kalau Starla tidak bisa pulang.
Hima sampai di sana, dia mendapati Bu Irma sedang tidur.
"Bu..." panggil Hima.
"Starla.. Kamu sudah pulang nak? Dari tadi ibu sangat mengkhawatirkan kamu " ucap Bu Irma namun dia sangat kecewa melihat Irma datang.
"Bu ini aku Hima, aku datang ke sini mau bilang kalau Starla tidak bisa pula karena ada organisasi kampus jadi dia akan menginap di rumah teman nya."
"Kenapa tidak ijin kepada ibu langsung."
Hima diam. "Ibu jangan menunggu nya di luar, nanti ibu bisa sakit." ucap Hima.
"Kamu tidak perlu sok perhatian seperti itu kepada saya..Saya tidak mau dekat-dekat orang yang berkawan dengan pembunuh itu." ucap Bu Irma langsung masuk ke dalam.
Rendi datang menepuk pundak Hima.
"Itu hal biasa. Bu Irma sudah tua, dia juga sedang prustasi dan juga tidak bisa melupakan masa lalu." ucap Rendi.
Hima tersenyum. "Ya udah kalau begitu kita pulang sebelum larut malam, nanti orang tua kamu akan marah-marah." ucap Diki.
__ADS_1
Hima mengangguk. "Makasih yah sudah mengantarkan aku jauh-jauh ke sini. Aku jadi gak enak merepotkan kamu." ucap Hima.