
"Berapa meja yang akan kakak pesan?" tanya Jihan.
"Dua saja." ucap Diki. "Oohh oke kak, semua nya akan kamu atur." ucap Diki.
Dia sudah tau Cafe yang di maksud oleh kekasih nya adalah Cafe nya sendiri.
Diki melihat sudah jam lima sore.
"Saya harus pamit pulang." ucap Diki.J J J J
"Baik kak." ucap Jihan. Diki pun pergi.
"Ya ampun kok kak Diki makin ganteng aja sih? aku semakin jatuh cinta kepada nya." ucap Jihan.
"Sadar.. kita hanya karyawan di sini." ucap teman nya. Jihan menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada salah nya menyukai seseorang." ucap Jihan.
"Huff terserah kamu saja, ayo lanjut kerja." ucap Teman-teman nya.
Di apartemen Diki.. Starla baru aja bangun tepat jam lima sore.
"Ya ampun sudah jam lima sore saja." ucap nya, dia melihat tubuh nya sudah di kamar Diki.
Namun pemilik kamar tidak kelihatan.
"Diki kemana sih?" Starla keluar dari kamar namun di depan juga sangat sepi tidak ada Diki di sana.
Starla duduk di sofa sambil mengumpulkan nyawa nya. Dia mendengar suara pintu terbuka dia langsung menoleh ke arah Diki.
"Kamu dari mana saja?" tanya Starla sambil meletakkan dagu nya di sandaran sofa.
Diki tersenyum melihat Starla seperti nya masih belum sadar sepenuhnya. Mata nya masih setengah terbuka.
Diki meletakkan barang bawaan nya di meja dan mendekati Starla.
"Aku baru saja membeli makanan dari luar..Kamu baru bangun?" tanya Diki sambil mengelus rambut Starla.
Starla mengangguk. Diki tersenyum.
"Kenapa kamu keluar dari kamar kalau masih ngantuk?" tanya Diki.
"Aku harus pulang sebelum matahari terbenam." ucap Starla.
"Di luar sudah mau hujan, sebaik nya kamu tidak perlu pulang, kita berangkat dari sini saja nanti malam." ucap Diki.
Starla menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak memiliki baju ganti." ucap Starla.
__ADS_1
"Kamu punya satu pasang waktu mabuk bersama Hima." ucap Diki. Starla diam. Dia merentangkan tangan nya kepada Diki.
"Kenapa?"
"Peluk aku? Sangat dingin sekali." ucap Starla. Cuaca sudah mulai sangat dingin sekali.
"Tapi aku baru saja dari luar, saya tukar baju dulu." ucap Diki masuk ke kamar. Starla mengikuti nya.
Sampai di kamar dia memeluk Diki dan kedua nya tidur di kasur yang sama. Karena Starla masih ngantuk dan juga tidak bisa pulang.
Hari semakin malam Starla dan Diki sedang di perjalanan menjemput Hima.
Sesampainya di sana orang tua Hima langsung mengintrogasi Diki, tidak biasanya Malam-malam laki-laki menjemput putri nya.
Namun setelah tau teman satu kampus orang tua nya Langsung mengijinkan.
"Wahh parah sih orang tua kamu Hima, aku pikir mereka tidak akan seperti itu kepada kamu." ucap Starla.
"Yah begitulah orang tua ku, itu sebabnya Aku tidak mengenal kan pacar ku kepada mereka." ucap Starla.
"Tapi seharusnya kamu harus mengenalkan ke mereka, agar kalau terjadi apa-apa orang tua kamu bisa tau." ucap Starla.
"orang tua ku belum setuju apa berpacaran dengan laki-laki." ucap Hima.
"Huff baiklah aku mengerti kok. Lalu sekarang pria yang akan bertemu dengan kamu sudah di mana?" tanya Starla.
"Sudah di tempat janjian, dia sudah menunggu dari tadi, aku jadi tidak enak kalau telat seperti ini." ucap Hima.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di Cafe yang sudah di janjikan.
"Wahh pantesan saja sangat ramai. Selain Makanan yang enak tempat nya juga Cantik." ucap Starla.
"Tapi baru kali ini aku melihat Cafe penuh dengan warna hijau." ucap Starla. Diki menoleh ke arah Starla.
"Kamu terlalu banyak protes, ayo kita turun." ucap Diki.
"Yahh abis nya ini warna kesukaan ku, aku sangat kagum banget melihat dekorasi nya." ucap Starla.
Mereka masuk ke dalam.
"Kak Rendi kan?" ucap Hima kepada pria yang duduk di meja yang sudah di pesan.
Pria itu menoleh ke arah Hima. "Iyah.. Kamu Hima kan?" tanya Rendi.
Hima tersenyum. "Ya ampun ternyata lebih tampan yang asli nya." batin Hima.
"Loh itu kan Rendi." ucap Diki dalam hati.
__ADS_1
"Wahh Hima tidak salah pilih, dia mendapat kan pria yang sangat tampan sekali.. Badan nya begitu kekar." ucap Starla.
"Tidak perlu berlebihan. Aku juga memiliki badan yang kekar dan juga tampan." ucap Diki. Starla melihat badan Diki.
"Badan kamu tidak kekar sama sekali. Kamu tidak perlu olahraga sih." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Aku hanya bercanda." ucap Starla karena melihat wajah Diki sudah cemberut.
Diki menghela nafas panjang.
"Aku mengenal pria itu." ucap Diki. "Hah? Masa sih?" tanya Starla.
"Dia adalah Anak dari Tante dan Om ku." ucap Diki. Starla kaget mendengar nya.
"Tapi kamu tidak perlu khawatir dia baik kok, aku yakin sekarang dia juga sedang mencari pacar karena setahu aku dia tidak pernah pacaran." ucap Diki.
"Wahh bagus banget." ucap Starla.
Dia melihat Hima dan Rendi sangat akrab berbicara. Hima masih malu-malu Wajar lah namanya juga pertama kali.
Starla melihat seisi Cafe itu.
Dia melihat kasir yang Melihat ke arah Diki terus.
Diki menoleh ke arah kasir perempuan itu langsung tersenyum.
"Apa sebelum nya kamu sudah pernah ke sini?" tanya Starla. Diki mengangguk.
"Sama siapa? Kok kamu gak pernah ngajak aku sih?" tanya Starla.
"Sama teman-teman." ucap Diki.
"Kamu tau gak siapa yang punya Cafe ini?" tanya Starla. Diki diam.
"Ini sama persis seperti Cafe impian ku. Cafe yang di kelilingi warna hijau, tanaman yang subur dan juga desain seperti ini." ucap Starla.
"Oohh. Bagus deh kalau sama. Jadi kamu akan lebih sering ke sini." ucap Diki.
"Bukan seperti itu, aku ingin tau siapa yang membuat ini. Kenapa semua nya bisa sama seperti yang aku pengen?" ucap Starla.
"Mungkin dia juga sama-sama suka warna Hijau. Dia mungkin suka juga dengan desain kreatif berbeda dengan orang lain." ucap Diki.
"Sayang.. Boleh gak aku minta tolong kamu cari tau siapa yang punya, aku mau bertemu dengan dia." ucap Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya. "Tidak semudah itu."
"Kamu kan memiliki jaringan yang cukup jauh, kamu juga memiliki banyak teman yang dunia perbisnisan." ucap Starla.
__ADS_1
"Aku tidak tau harus mencari nya kemana. Lagian untuk apa sih?" tanya Diki.
"Aku mau bilang makasih sudah membuat tempat seperti ini. Walaupun aku masih lama memiliki Cafe sendiri tapi melihat ini aku semakin semangat." ucap Starla.