
"Aku sudah di depan rumah mu!" ucap Diki.
"What!? Cepat banget." ucap Starla kaget. Dia seperti tidak percaya dia langsung melihat ke luar namun tidak melihat mobil Diki.
"Kamu jangan mencoba membohongi aku Diki! aku sedang tidak mood hari ini." ucap Starla.
"Starla.... Kamu lagi apa nak? Diki ada di luar menunggu kamu kata nya mau mengerjakan tugas bersama." ucap ibu nya dari balik Pintu Kamar nya.
"Iyah mah, ini aku keluar."
"Huff benaran dia ke sini?" ucap Starla. Dia langsung turun ke bawah.
Dia melihat Diki sudah duduk di depan Laptop nya di teras rumah.
"Kamu ke sini gak naik mobil?" tanya Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya. Starla melihat motor mahal di parkiran motor.
"Kamu ke sini naik motor?" tanya Starla.
"Iyah." jawab Diki.
"Tidak biasanya." ucap Starla.
Diki diam. Starla masuk Mengambil buku nya dan duduk di depan Diki.
"Kamu sudah hampir selesai." ucap Diki setelah melihat buku Starla.
"Ada dua lagi, aku tidak paham sama sekali." ucap Starla.
Diki melihat nya. "Humm coba sini deh, aku bantu jelasin." ucap Diki. Mereka mulai fokus membahas tugas dan pelajaran yang tidak di mengerti satu sama lain.
Starla sedang menulis namun rambut nya yang tidak di ikat mengganti nya.
Diki melihat nya dia langsung menyelipkan rambut Starla ke telinga Starla. Namun rambut nya tetap saja mengganggu.
Diki melihat gelang karet yang dia pakai. Dia mengikat rambut Starla menggunakan karet itu.
Starla menoleh ke arah Diki. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Starla.
"Agar kamu lebih nyaman." ucap Diki. Starla memegang rambut nya.
"Sudah lanjut saja menulis." ucap Diki.
Dua jam sudah mereka duduk di teras akhirnya tugas nya selesai.
"Aaaahhh akhirnya selesai juga." Ucap Starla sambil meregangkan otot-otot nya. Diki memerhatikan wajah Starla.
"Humm setelah ini kegiatan kamu ap?" tanya Diki. Starla mengingat apa yang harus dia lakukan setelah ini.
"Seperti nya tidak ada lagi, aku ingin tidur." ucap Starla.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Bagaimana kalau kita makan siang di luar? Aku traktir kamu deh sebagai tanda terimakasih sudah membantu aku mengerjakan tugas." ucap Diki.
"Aku yang berterima kasih sama kamu. Sebagai tanda terima kasih nya aku mau makan di luar, tapi tetap kamu yang bayar." ucap Starla.
Diki tersenyum mendengar itu.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah." ucap Diki.
"Ya udah kalau begitu aku bawa ini semua ke dalam dulu yah." ucap Starla.
Starla sama Diki pamit dulu.
Starla dan Diki memakai helm.
"Kita naik motor ini?" tanya Starla. Diki mengangguk.
"Tapi aku takut, ini tinggi banget." ucap Starla.
"Tidak apa-apa, kamu naik saja." ucap Diki.
Starla untuk pertama kalinya naik motor seperti itu.
"Wahh takut banget." ucap Starla langsung memegang kedua pundak Diki.
"Pegangan yang erat." ucap Diki.
Starla mengangguk.
Motor mulai meninggalkan Rumah itu.
"Starla sama Diki mau kemana Bu?" tanya karyawan yang sedang makan siang di dapur.
"Mereka mau makan Siang di luar, mungkin mereka mau mencari makanan rasa baru." ucap Bu Irma.
"Oohh gitu yah Bu, sebenarnya Starla pacaran sama pak Martin atau Diki sih Bu?"
"Sama nak Martin lah." ucap Bu Irma.
"Pelan-pelan Diki! Aku takut." ucap Starla.
Starla memegang Diki cukup erat karena dia merasa ketakutan sekali.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai.
"Plakk!!!" Tiba-tiba Starla memukul punggung Diki.
"Auh! kenapa?" tanya Diki.
"Kamu masih nanya?" ucap Starla.
Diki tersenyum melihat wajah kesal Starla.
"Baiklah aku minta maaf. Nanti aku tidak akan kencang-kencang lagi." ucap Diki.
"Bodo amat, aku akan pulang naik ojek saja." ucap Starla. Diki mengikuti Starla masuk ke dalam Cafe.
Mereka memesan makanan. "Sudah jangan cemberut, kamu harus merasakan makanan di sini sangat enak sekali." ucap Diki.
Starla melihat Diki langsung makan, dia makan begitu lahap sekali sehingga membuat Starla kaget.
Tidak beberapa lama Diki selesai makan, dia bersendawa membuat Starla menatap kesal.
Starla belum selesai makan namun Diki sudah selesai.
"Jangan bilang kamu membawa motor seperti kilat karena kelaparan yah?" tanya Starla.
__ADS_1
Diki mengangguk.
"Aku tidak bisa menahan nya lagi, aku minta maaf." ucap Diki.
"Huff kenapa tidak makan di rumah saja kalau begitu?" tanya Starla.
"Aku hanya ingin sesekali mengajak kamu makan di luar." ucap Diki.
Starla menghela nafas panjang. Dia melihat ke arah Diki yang mengeluarkan rokok dari kantong jaket nya.
Bukan pertama kali dia melihat Diki merokok jadi tidak heran.
"Uhuk!! uhuk!!" Dia batuk karena asap nya mengarah ke arah Starla.
Diki langsung mengehentikan rokok nya dia berusaha mengibaskan Asap rokok dari Starla.
"Kamu tidak bisa terkena asap rokok?" tanya Diki. Starla mengangguk.
"Hum aku tidak bisa, aku merasa sesak nafas dan itu sangat bau sekali." ucap Starla.
Diki meletakkan Rokok nya dan berhenti merokok.
"Kalau kamu mau merokok ke depan saja." ucap Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya. "Sudah kok, tidak apa-apa." ucap Diki.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, Diki membayar nya dan keluar dari sana.
"Kamu mau naik ojek kan? Aku akan memesan kan taksi." ucap Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa, aku pulang bareng kamu saj." ucap Starla. "Kamu yakin?" tanya Diki. Starla mengangguk.
Diki memberikan helm dan naik ke motor.
Kali ini Diki membawa motor dengan santai.
"Apa kamu tidak memiliki uang lebih untuk membeli kan aku eskrim? Sepanjang jalan ini semua nya menjual eskrim." ucap Starla.
"Kamu mau?" tanya Diki.
"Enggak!" jawab Starla dengan judes. Diki menghela nafas panjang.
"Sekali lagi aku tanya kamu mau gak?" tanya Diki.
"Gak usah." ucap Starla. Diki menghela nafas panjang.
"Huff dasar perempuan yah!" ucap nya dia langsung turun membeli eskrim di sekitar mereka.
Kebetulan lagi di dekat taman mereka duduk bersama di sana.
Karena Tengah hari jadi cukup terik sekali.
Diki melihat Starla yang sangat suka dengan eskrim itu.
"Umur kamu saja yang sudah tua, namun sifat tetap sama seperti anak kecil!" ucap Diki.
"Aku belum tua." ucap Starla.
Starla melihat gulali lewat, bentuk nya sangat lucu-lucu, dia merabah saku celana nya namun tidak ada uang.
__ADS_1
Dia menoleh ke arah Diki. "Kamu jadi laki-laki kok gak peka banget sih? Bagaimana pacar kamu bahagia kalau kamu sangat pelit seperti ini, pantesan saja kamu putus dengan Laura." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Kamu mau apa? Bilang saja jangan mencari masalah." ucap Diki.