
"Ya Allah Bu kenapa ibu tidak menelpon aku? Ya udah kalau begitu ibu duduk di sini dulu, aku akan melayani pembeli yang sudah marah-marah dulu."
Starla melayani mereka semua Tampa henti agar tidak ada yang ribut-ribut.
Setelah selesai dia mengoleskan minyak ke kaki ibu nya.
"Ibu istirahat saja yah di kamar, aku akan melanjutkan nya." ucap Starla.
"Kamu yakin nak?" tanya ibu nya.
"Iyah Bu." ucap Starla.
Dia membantu ibu nya ke kamar.
Setelah selesai mengurus ibu nya dia kembali ke warung untuk melayani pembeli dan melayani yang mau membayar.
"Huff ternyata pekerjaan ibu sehari-hari seperti ini? pantesan saja ibu sampai sakit seperti itu." ucap Starla.
Di malam hari nya dia datang ke kamar ibu nya.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Starla.
Ibu nya yang terbaring Lemas menoleh ke arah Starla.
"Masih lemas nak." ucap Ibu nya. Starla memeriksa suhu badan ibu nya sedikit hangat.
"Nih ibu minum obat dulu yah." Starla memberikan obat kepada Bu Irma.
Setelah selesai minum obat Starla memijit-mijit badan ibu nya supaya lebih baik.
"Tiba-tiba Ibu kefikiran kepada Martin dan Diki. Apa kabar mereka?" tanya Bu Irma.
"Alhamdulillah baik-baik saja Bu." ucap Starla.
"Kalau mereka tidak sibuk suruh mereka datang ke sini." ucap Bu Irma.
"Iyah bu." ucap Abel.
Ibu nya memerhatikan wajah Starla.
"Ada apa dengan wajah mu nak? Kenapa kamu tidak bersemangat seperti biasa nya?" tanya ibu nya.
"Enggak kok Bu, aku hanya memikirkan kesehatan ibu." ucap Starla.
"Kamu tidak perlu khawatir nak, ibu akan melakukan apapun agar kamu bisa kuliah dan juga agar kamu senang." ucap Bu Irma.
"Kalau melihat ibu sakit seperti ini apa gunanya aku kuliah di universitas terbaik?" tanya Abel.
Ibu nya terdiam. "Sebaiknya ibu istirahat saja, aku akan mencari kan karyawan." ucap Starla.
"Pokoknya ibu tidak boleh menolak, ibu harus lebih banyak istirahat.. Jangan membuat aku khawatir." ucap Abel.
"Sudah jangan sedih gitu, ibu hanya kecapean saja bentar lagi pasti sembuh." ucap Bu Irma.
__ADS_1
Abel diam. Ibu nya menatap wajah Abel.
"Ibu sudah sangat tua nak. Ibu juga sudah sering sakit-sakitan. Ibu sangat ingin kamu memiliki kekasih yang bisa menjaga kamu." ucap ibu nya.
"Tapi Bu.." ucap Starla.
"Ibu tau kalau kamu suka sama nak Martin, seperti nya nak Martin juga suka sama kamu." ucap Ibu nya.
"Humm ibu berbicara apa sih, jauh sekali pembicaraan nya." ucap Starla.
"Salah ibu berharap kalau kamu dengan nak Martin. Kalau kamu dengan nak Martin ibu sangat percaya." ucap Ibu nya.
"Ibu juga berharap kamu bisa bahagia dengan pilihan kamu nak, walaupun ibu meminta kamu fokus belajar tapi tetap saja kamu harus memiki pacar." ucap ibu nya.
"Aku belum kefikiran ke sana Bu." ucap Abel. "Kamu harus memikirkan nya nak, itu demi kebaikan kamu juga." ucap ibu nya.
Starla tersenyum. "Sudah jangan membahas itu lagi Bu, sebaiknya ibu lanjut tidur saja." ucap Starla.
Ibu nya tersenyum. "Tetap saja ibu akan berharap kepada nak Martin menjadi kekasih kamu nak." ucap Ibu nya.
"Ibu tidur saja yah, kalau besok belum juga baikan aku akan membawa ibu ke dokter." ucap Starla. Ibu nya tersenyum.
"Selamat malam Ibu." dia mencium pipi ibu nya dan setelah itu dia keluar dari kamar itu.
Dia sampai di kamar nya.
Abel membuka handphone nya dia melihat tidak ada notifikasi masuk dari Martin. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Martin beberapa kali namun tidak ada balasan sama sekali.
"Kak Martin kemana sih?"
Karena tidak bisa menghubungi Martin dia memutuskan menghubungi Diki.
Diki yang sedang bermain game dia melihat ke arah ponsel nya yang berbunyi. Awalnya dia slow respon.
Setelah melihat nama Abel dia langsung menghentikan game nya.
"Kenapa dia menelpon ku tiba? Tidak biasanya." batin Diki.
"Halo.." sapa Diki.
"Halo Diki, maaf aku mengganggu kamu." ucap Abel.
"Tidak apa-apa, kenapa kamu menelpon aku?" tanya Diki.
"Humm aku mau nanya kak Martin." ucap Abel.
"Ada apa?" tanya Diki dia langsung terdiam karena langsung kecewa.
Dia sangat berharap kalau Starla membahas tentang dia namun ternyata Martin.
"Aku menghubungi nya dari kemarin namun tidak ada balasan." ucap Starla.
"Aku tidak tau. Kenapa kamu tidak datang melihat nya?" ucap Diki.
__ADS_1
"Aku tidak bisa meninggalkan ibu ku yang sakit, kamu satu rumah dengan kak Martin kenapa kamu tidak tau tentang nya?" tanya Starla.
"Aku tidak melihat nya satu hari ini." ucap Diki.
"Tolong lihat dia, aku sangat khawatir." ucap Starla.
"Kenapa kamu mengkhawatirkan nya?" tanya Diki.
Starla menghela nafas panjang.."Kamu sudah berjanji untuk berdamai dengan kak Martin, kenapa kamu masih keras hati sih?" ucap Starla.
"Aku mohon bilang sama kak Martin kalau aku sedang mencari nya." ucap Starla.
"Aku sudah mengantuk." jawab Diki.
"Aku mohon, kamu lakukan itu untuk ku." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Kalau kamu melakukan nya besok aku akan mentraktir kamu makan di mana pun yang kamu mau." ucap Starla.
"Huff baiklah." ucap Diki. Dia keluar dari kamar nya dan langsung ke kamar Martin.
"Tok!! Tok!! tok!! Diki memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar kakak nya untuk pertama kalinya.
Martin membuka pintu dia melihat Diki.
Diki tidak mengatakan apapun dia langsung memberikan handphone nya kepada Martin.
"Ada apa?" tanya Martin.
"Starla ingin berbicara." ucap Diki.
"Halo kak Martin, kakak dari mana saja? kenapa kakak tidak menjawab pesan ku? Aku sangat mengkhawatirkan Kakak." ucap Starla.
"Maafin kakak, kakak tidak sadar ada pesan masuk." ucap Martin.
"Kakak baik-baik saja kan?" tanya Starla.
"Kamu jangan khawatir." ucap Martin.
Starla menghela nafas panjang.
"Besok saya akan datang menjemput kamu, ini sudah malam tidur lah." ucap Martin.
"Baiklah kak, selamat malam." ucap Starla dia sudah sangat lega mendengar Martin baik-baik saja.
Setelah selesai menelpon dengan Martin telpon langsung mati.
"Kenapa kamu tidak mengobati luka mu?" tanya Martin kepada Diki karena melihat luka nya tidak kunjung sembuh sementara luka di wajah nya sudah sembuh.
Diki tidak menjawab dia langsung pergi meninggalkan Martin.
Berjalan ke kamar nya dia melihat ponsel nya ada pesan dari Starla.
"Makasih yah." ucap Starla. Diki tersenyum walaupun dia hanya di ucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Aku rasa aku sudah gila, kenapa aku tiba-tiba cemburu melihat Starla dekat dengan kak Martin." ucap Diki.