Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 114


__ADS_3

"Humm Sudah lama kak Diki tidak merasakan sup Alan ibu. Tapi kalau aku memasak nya nanti kak Diki gak datang. Lagian dia pasti sudah bosan makan sup." ucap Starla.


Di sore hari nya Diki keluar dari Cafe.


"Kak ini kue yang kakak minta." ucap karyawan nya.


"Terimakasih." ucap Diki meletakkan di dalam mobil nya.


"Oh iya hari ini saya akan singgah di rumah Jihan melihat keadaan nya, apa ada yang mau ikut?"


Semua nya langsung menggeleng kan kepala nya membuat alasan masing-masing.


Setelah selesai berbicara Diki pun langsung pergi dari Cafe. Diki berjalan ke arah rumah nya Jihan.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Jihan.


"Tok!! Tok!!" ketukan pintu.


Tidak beberapa lama akhirnya pintu di buka.


"Iyah, siapa?" tanya Jihan. sambil membuka pintu.


Jihan melihat Diki di balik pintu nya dia sangat kaget.


"Kak Diki! kenapa kakak di sini?" tanya Jihan.


"Aku mendengar dari yang lain kalau kamu sakit. Itu sebabnya aku datang melihat keadaan kamu." ucap Diki. Jihan terdiam.


"Kamu berbohong?" tanya Diki.


"Bu-bukan kak, aku tidak berniat seperti itu." ucap Jihan.


"Kelihatan nya kamu baik-baik saja, apa kamu tidak datang ke Cafe karena bosan dan tidak mau bertemu dengan ku?" tanya Diki.


"Bukan kak, aku minta maaf. Aku hanya kurang enak badan sedikit sehingga butuh istirahat." ucap Jihan.. Diki menghela nafas panjang dia melihat Jihan.


"Kalau begitu silahkan masuk kak."


"Tidak perlu, sehabis ini aku akan menemui Starla..Aku hanya memastikan keadaan kamu tidak begitu parah." ucap Diki.


"Besok datang lah ke Cafe kalau kamu sudah membaik."


"Humm aku pikir sebaiknya aku berhenti saja kak." ucap Jihan. "Kenapa?" tanya Diki.


"Karena aku tidak ingin membuat kakak tidak nyaman karena ada aku di sana. Aku juga tidak ingin membuat kesalah pahaman antara kakak dan juga mbak Starla." ucap Jihan.


Diki menghela nafas panjang. "Apa karena ini kamu tidak datang ke Cafe?"

__ADS_1


"Akhir-akhir ini suasana di Cafe sangat lah canggung, bahkan kakak sudah jarang ke Cafe dan kemarin dua hari kakak tidak datang ke Cafe."


"Jadi kamu berfikir saya tidak datang karena saya mengalami masalah atau menghindari kamu?" Jihan mengangguk.


Diki tersenyum.


"Jangan berfikir seperti itu, aku tidak datang ke Cafe karena mengurus toko baju. Dan juga saya membantu Starla. Dua hari ini saya mengurus Starla yang sedang sakit." ucap Diki.


"Jadi kakak tidak marah kepada ku?" tanya Jihan.


Diki menggeleng kan kepala nya.


"Kalau kakak tidak Marah, kenapa kakak mengabaikan ku?" tanya Jihan.


"aku lagi ada Masalah keluarga. aku akhir-akhir kurang mood, bukan hanya dengan kamu tetapi dengan semua orang.. Jangan berfikir aku marah sama kamu." ucap Diki.


"Jadi kakak benar-benar tidak marah?" tanya Jihan. Diki mengangguk. Jihan tersenyum.


"Maafin aku kak, aku tidak tau sebelum nya."


"Jadi sekarang kamu masih mau keluar?" tanya Diki. Jihan menggeleng kan kepala nya.


"Enggak kak. Aku sudah sangat betah bekerja di Cafe." ucap Jihan. Diki tersenyum.


"Ya udah kalau begitu saya pamit pergi dulu." ucap Diki kepada Jihan.


Diki pergi dari rumah Jihan menuju ke apartemen nya untuk menukar baju nya terlebih dahulu.


"Ekhem-ekhem..." Martin yang masih di kamar Diki heran melihat Diki yang berpenampilan rapi, wangi dan juga terlihat sangat gembira.


"Kamu mau ketemu siapa?" tanya Martin. Diki menoleh ke arah kakak nya. "Kakak sangat kepo." ucap Diki.


"Tidak biasanya kamu seperti ini..Kamu mau bertemu dengan Starla yah?" tanya Martin. Diki tersenyum sambil mengangguk.


"Benar banget."


"Loh bukannya Bu Irma tidak mau melihat kamu?" tanya Martin.


"Kali ini aku akan mencoba nya kak." ucap Diki. Martin tersenyum dia berdiri dan menepuk pundak adik nya.


"Ini baru adik kakak yang pantang menyerah. Kamu pergi lah dan kakak akan berdoa yang terbaik untuk kamu." ucap Martin Diki mengangguk.


"Bagaimana kak? apa sudah Tampan?"


"Kamu tampan setiap hari." ucap Martin. Diki tersenyum.


Diki pun berangkat ke rumah Starla.

__ADS_1


Starla sudah siap berangkat ke pasar malam. Namun dia melihat mobil Diki berhenti di depan rumah.


"Diki! Apa yang dia lakukan?" ucap Starla dia melihat ibu nya keluar dari rumah. Dia melihat Diki.


"Ngapain kamu ke sin? pergi dari sini!" ucap Bu Irma kepada Diki menghadang.


"Aku ke sini mau melihat keadaan ibu." ucap Diki.


"Pergi dari sini!" ucap Bu Irma.


"Bu.. Aku datang ke sini mau meminta maaf atas semua kesalahanku mau pun kesalahan kakak ku." ucap Diki.


"Pergi! Pergilah dari sini!" ucap Bu Irma berusaha mengusir Diki pergi.


"Starla usir dia, jangan sampai dia membunuh keluarga kita lagi." ucap bu Irma.


"Ki sebaik nya kamu pergi." ucap Starla. Tiba-tiba Diki memberikan roti yang dia bawa kepada Bu Irma.


"Aku ke sini mengantarkan ini untuk ibu. Aku dengar ibu sangat suka roti yang dia hari sekali aku kirim."


"Oohh ternyata kamu yang mengirim kue itu? Kalau saya tau itu kue dari kamu, saya tidak akan memakannya." ucap bu Irma Mengambil kue dari tangan Diki dan melemparkan nya ke lantai.


Diki kaget, Starla juga kaget.


"Diki sebaik nya kamu pergi dulu, jangan membuat ibu semakin marah. Ibu tidak bisa mengontrol amarah nya, dia bisa menyakiti kamu." ucap Starla.


Tiba-tiba Diki Berlutut di depan bu Irma membuat Starla kaget.


"Apa yang kamu lakukan Diki?"


"Bu.. Aku minta maaf sungguh-sungguh kepada ibu dan almarhum. Kalau saya bisa memutar kembali waktu saya akan mengganti kan almarhum.. Namun itu semua tidak mungkin."


"Ibu maafkan Diki Bu, bukan dia yang menabrak mobil Ayah, Diki tidak tau apa-apa." ucap Starla.


"Tetap saja dia adik dari pembunuh itu."


"Kak Martin pasti memiliki alasan Bu, tidak mungkin dia melakukan nya dengan sengaja, mau sampai kapan ibu harus seperti ini? Almarhum ayah tidak akan tenang di atas sana." ucap Starla.


"Diki sudah banyak membantu kita Bu, begitu juga dengan kak Martin." ucap Starla. Ibu nya menangis dia duduk lemas.


Diki khawatir terjadi apa-apa kepada Bu Irma.


"Aku tidak akan memaksa kan ibu untuk memaafkan aku dengan kak Martin. Tapi ijinkan kami untuk menjaga ibu dan Starla menggantikan Almarhum." ucap Diki.


Starla sangat terharu dengan kata-kata Diki. Bu Irma melihat Martin berdiri di gerbang. Bu Irma menunduk kan kepala nya.. Martin mendekat dia berlutut bersama Diki.


Tidak berani mengatakan apapun, namun raut wajah nya sudah menyampaikan semua nya.

__ADS_1


__ADS_2