
Diki menghela nafas panjang. "Ya udah kalau begitu ayo minum kopi nya." ucap Starla.
Diki menatap wajah Starla. Dia tidak bisa memalingkan pandangannya.
Starla yang di lihatin oleh Diki jadi malu.
"Kamu pulang aku anterin yah." ucap Diki. Starla mengangguk.
Di dalam mobil Diki memberanikan diri memegang tangan Starla walaupun badan nya jadi panas dingin.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Starla.
"Warung masih ramai saja jam segini." ucap Diki basa-basi. Starla tersenyum. "
"Makasih yah sudah nganterin aku pulang." ucap Starla.
Diki mengangguk.
"Starla.." Diki menahan Starla. "Iyah kenapa?" tanya Starla.
"Aku ingin memeluk kamu." ucap Diki. "Kenapa kamu harus minta izin? Peluk saja." ucap Starla.
Diki mau memeluk namun dia bingung, dia takut.
Starla melihat Ibu nya berdiri di depan rumah.
"Ibu sudah menunggu, aku turun dulu yah." ucap Starla. Diki mengganguk.
Diki pun memilih untuk pulang ke rumah nya. Sampai di rumah dia mau menghubungi Starla.
"Telpon gak yah, kok aku jadi berfikir seperti ini sih?"
Keesokan harinya..
"Selamat pagi.." Sapa Starla kepada Hima. Dia tidak lupa menoleh ke arah Diki dan tersenyum.
"Aku tidak mimpi kan? Starla tersenyum kepada ku?" ucap Diki dalam hati.
Waktu nya untuk istirahat.
"Hima kamu duluan aja yah ke kantin." ucap Starla karena melihat Diki hanya diam saja di lantai atas.
"Ya udah deh kalau begitu."
Starla naik ke atas.
"Kamu tidak mau ke kantin?" tanya Starla kepada Diki yang hanya main handphone.
"Eh kamu." ucap Diki sambil tersenyum.
"Kamu kenapa bisa di sini? Hima mana?" tanya Diki.
"Huff bisa-bisa nya aku sudah di sini kamu masih nanyain Hima, aku cemburu nih." ucap Starla.
"Maaf-maaf." ucap Diki.
__ADS_1
"Huff kamu tau gak sih kamu itu bukan seperti Diki yang dulu ngeselin, blak-blakan dan juga iseng." ucap Starla.
"Maafin aku."
"Kamu seperti anak yang cool, pendiam dan juga pemalu suka menyendiri dan aku sudah jarang melihat kamu berkumpul bersama teman-teman mu." ucap Starla.
Diki hanya diam. "Kamu diam mulu deh, kamu gak suka yah aku di sini. Kalau begitu aku akan pergi." ucap Starla.
Diki menahan tangan Starla. "Aku mohon jangan pergi." ucap Diki.
"Lalu berbicara lah, katakan apa saja yang ingin kamu katakan." ucap Starla.
"Bagaimana aku bisa berbicara Starla, melihat kamu duduk menatap ku seperti ini saja sudah membuat ku gugup, aku seperti tidak menyangka kalau akhirnya kamu menjadi pacar ku." ucap Diki dalam hati.
"Kamu masih diam juga?" ucap Starla. Diki menunduk kan kepala nya.
"Ya udah deh kalau begitu, aku ke kantin yah." ucap Starla.
"Jangan.. Aku mau kamu di sini." ucap Diki.
"Aku lapar." ucap Starla. Diki membuka tasnya dan mengeluarkan makanan serta minuman.
"Kamu membeli ini semua khusus untuk kita? Kamu tau dari mana kalau aku datang ke sini?" tanya Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya.
"Atau jangan-jangan kamu membeli ini setiap hari dan tidak mengatakan nya kepada ku." ucap Starla.
Diki hanya diam. Starla menghela nafas panjang.
"Kamu benar-benar yah." ucap Starla.
Setelah sampai Starla kaget melihat Martin ternyata sudah pulang.
"Kamu kok gak ngomong sih kalau kak Martin sudah pulang." ucap Starla.
"Aku tidak tau, aku juga baru datang." ucap Diki.
Martin melihat Starla.
"Starla..." ucap Martin. Starla diam.
Diki tidak bisa berdiri di sana akhirnya dia memberikan waktu untuk mereka berdua walaupun sedikit tidak ikhlas.
Di atas Diki tidak berhenti membayangkan Starla dan Martin..Dia jadi takut kalau Starla kembali kepada Martin.
"Starla saya minta maaf." ucap Martin.
"Aku sudah melupakan semua nya kak, aku harap sekarang kita baik-baik saja. Aku juga ingin kakak berbaikan dengan pacar kakak." ucap Starla.
"Tapi saya sangat mencintai kamu."
"Aku mohon jangan katakan itu kak kalau kakak masih ingin berteman dengan ku." ucap Starla.
Martin terdiam. "Aku jauh lebih menghargai kakak kalau kakak bisa mengajar kan hal yang baik." ucap Starla.
__ADS_1
"Tifani adalah perempuan yang baik, perempuan yang setia walaupun aku tidak tau pasti nya dia sangat mencintai kakak, aku mohon hargai dia, jaga dan juga lindungi." ucap Starla.
Martin terdiam. "Kalau boleh jujur sebenarnya aku tidak mencintai kakak, aku hanya menganggap kakak sebagai kakak ku, namun karena permintaan ibu aku terpaksa menerima kakak sebagai pacar." ucap Starla.
Walaupun sedikit jahat namun Starla harus jujur agar Martin sadar.
"Dan sekarang aku sudah pacaran dengan Diki, aku mencintai Diki begitu juga dengan Diki." ucap Starla.
Martin seperti tidak percaya. Namun melihat wajah Starla dia tidak mungkin berbohong.
"Kalau kakak Mencintai aku ijinkan aku bahagia dengan pilihan ku kak, aku juga ingin kakak memperjuangkan hubungan kakak dengan Tifani. Jangan karena bosan semua kenangan indah hilang begitu saja." ucap Starla.
Martin terdiam. Starla mendekati Martin yang sudah sangat sedih.
"Aku minta maaf kalau membuat kakak sedih." ucap Starla memeluk Martin. Diki melihat itu.
Setelah beberapa lama Martin pun pergi ke rumah sakit lagi.
Starla menghela nafas panjang. "Maafin aku kak, aku harus jujur karena aku yakin setelah ini kakak tau yang mana yang baik." ucap Starla.
Starla melihat Diki di tangga.
"Kak Martin sudah pergi, kita bisa memulai mengerjakan tugas." ucap Starla.
Diki mendekati Starla.
"Ada apa?" tanya Diki.
"Aku sangat cemburu melihat kamu memeluk kak Martin." ucap Diki. Starla tersenyum.
"itu hanya pelukan minta maaf." ucap Starla.
"Tetap saja aku cemburu Starla." ucap Diki.
Starla mencium pipi Diki.
"Aku hanya mencintai kamu." ucap Starla.
Diki menghela nafas, dia tidak bisa marah kalau sudah di cium oleh Starla.
"Starla... apa kamu ingin tinggal bersama ku?" tanya Diki.
"Maksudnya?"
"Aku setiap detik merindukan kamu, aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu, apa kamu mau pindah bersama ku?" tanya Diki.
"Tidak semudah itu Diki, bagaimana dengan ibu ku?" tanya Starla.
"Aku akan berbicara dengan ibu." ucap Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Jangan.." ucap Starla. Diki Menatap wajah Starla.
"Aku ingin tinggal bersama kamu, kalau begitu ijinkan Aku tinggal di rumah kamu." ucap Diki.
"Kita belum menikah jadi tidak bisa tinggal satu rumah." ucap Starla.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo menikah, aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki kamu. Kamu hanya milik ku." ucap Diki.
Starla tertawa mendengar itu. "Kita masih sama-sama kuliah, tidak semudah itu untuk menikah." ucap Starla.