
"Aku mengantarkan ibu kamu pulang. Dia baru saja dari rumah Hima." ucap Diki.
"Jangan bilang kalian sudah menceritakan semua nya kepada Ibu?" ucap Starla. Diki mengangguk.
"Dia ibu Kamu, dia berhak tau." ucap Diki.
"Bisa gak sih kalian tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadi ku? Aku sudah bilang jangan sampai ibu tau, namun kalian tidak bisa di percaya."
"Ibu kamu khawatir sama kamu, kamu yang membuat Ibu kamu sedih seperti ini." ucap Diki.
"Aku melakukan itu juga demi ibu ku, aku ingin membantu ibu." ucap Starla.
"Kamu tidak perlu melakukan hal yang tidak di setujui ibu kamu, ujung-ujungnya jadi seperti ini kan? Kamu sedih karena gagal." ucap Diki.
"Kamu tidak tau apa-apa. Sebaiknya kamu pergi." ucap Starla.
Diki menatap wajah Starla. "Kalau kamu memiliki masalah jangan kamu tahan sendiri Starla.. Cerita sama ku kalau kamu memiliki masalah." ucap Diki.
"Aku tidak apa-apa." ucap Starla.
"Tidak mungkin, aku bisa melihat dari wajah kamu kalau kamu memiliki masalah. Jangan memendam nya Starla." ucap Diki.
Starla menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak apa-apa, sebaik nya kamu pulang saja, sekarang kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi jadi kita harus menjaga jarak." ucap Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak akan pergi sebelum kamu benar-benar baik-baik saja." ucap Diki.
"Aku mau menenangkan pikiran, diri ku. Aku mohon kamu mengerti yah." ucap Starla langsung menutup pintu kamar.
"Starla aku tau apa yang sedang kamu rasakan sekarang. Kalau kamu benar-benar mencintai aku. Aku ingin kamu terbuka kepada ku, aku ingin kamu jujur dan juga siapa tau aku bisa bantu kamu." ucap Diki.
Starla hanya diam saja di dalam kamar nya. Diki tidak bisa lama-lama di sana takut mengganggu akhirnya dia pun pamit pulang.
"Aku pamit pulang yah, kalau kamu mencari aku kamu datang saja ke Cafe Hijau yang kamu suka itu." ucap Diki. Starla tidak menjawab namun dia mendengar kan nya saja.
Di malam hari nya Diki mempersiapkan diri untuk berangkat ke Cafe.
Setelah beberapa lama tidak ke Cafe dia ingin ke Cafe.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga.
"Kak Diki! Kak Diki datang." ucap karyawan nya melihat mobil Diki parkir di sebelah..
"Haii semua nya..." Sapa Diki.
"Hai juga kak." jawab mereka. Diki tersenyum.
__ADS_1
"Bagiamana keadaan Cafe? Aku tidak datang beberapa hari." ucap Diki.
"Semua nya baik-baik saja kok kak." ucap karyawan nya.
Diki melihat pelanggan.
"Oh iya apa kalian semua masih membutuhkan karyawan laki-laki?" tanya Diki.
Semua nya tiba-tiba menggeleng kan kepala nya.
"Tidak kak, tidak perlu." ucap karyawan.
"Loh kenapa? Kemarin pada minta karena kelelahan." ucap Diki.
"Sekarang sebenarnya masih butuh kak, hanya saja sebaik nya tidak perlu, kami semua bisa kok mengerjakan nya." ucap karyawan nya..
"Oke baiklah kalau begitu mau kalian." ucap Diki. Diki melihat ke arah Jihan yang hanya diam, tidak bersemangat seperti biasa nya.
Tidak ada percakapan mereka langsung Kerja.
"Sudah banyak kemajuan dari cafe ini ternyata." batin Diki setelah melihat laporan yang ada di meja kasir.
"Semua nya!" ucap Diki manggil mereka.
"Besok adalah tanggal gajian kan? Saya akan memberikan kalian bonus karena kali ini mencapai target." ucap Diki.
Namun saat berbincang dengan semua karyawan mereka terdiam membuat Diki heran. Mereka melihat ke arah pintu masuk ternyata Starla.
Starla melihat Diki dan yang lain nya. "Kalian lanjut bekerja saja." ucap Diki. Diki mendekati Starla.
"Apa yang membawa kamu jauh-jauh datang ke sini dan sudah sangat malam." ucap Diki.
Starla duduk di depan Diki. Starla melihat Cafe Itu.
"Aku hanya bosan di rumah." ucap Starla.
"Kamu mau minum? Aku akan membuat nya.". Starla menolak.
"Tidak perlu. Lagian sudah sangat malam."
"Kapan lagi kamu minum di Cafe ini aku yang buatin?" tanya Diki. Starla terdiam.
"Ya udah kamu tunggu saja yah." ucap Diki.
"Wahh ternyata Cafe ini semakin di lihat semakin cantik banget. suasana nya juga bikin sangat nyaman sekali." batin Starla.
Tidak beberapa lama Diki datang dia membawa kopi dan memberikan nya kepada Starla, dia juga membuat untuk diri nya sendiri.
__ADS_1
"Ayo di minum agar badan kamu lebih hangat." ucap Diki.
"Terimakasih yah." ucap Starla. Diki tersenyum.
"Aku masih seperti belum percaya Kalau cafe ini adalah milik kamu." ucap Starla.
"Aku minta maaf karena aku menyembunyikan dari kamu. Aku tidak ingin memberi tau kamu sebelum aku benar-benar siap." ucap Diki.
"Lagi Cafe ini belum terlalu maju." ucap Diki.
"Ini sudah sangat maju sekali." ucap Starla. Diki tersenyum.
"Kamu tau karena apa aku membuat Cafe ini seperti ini?" tanya Diki.
"Kenapa?"
"Karena kamu? Aku berani membuka Cafe menghabiskan semua uang tabungan ku untuk ini karena kamu, kamu mengajarkan aku banyak hal." ucap Diki.
"Aku tidak pernah mengajari kamu, kamu berkembang sendiri."
Tiba-tiba Diki mengeluarkan handphone nya dia memberikan semua catatan yang sudah dia catat dari kehidupan Starla, dari cerita, impian dan juga keinginan nya."
"Kamu bilang kalau kamu akan melanjutkan usaha ibu kamu atau mengejar cita-cita kamu, jadi tidak ada kesempatan untuk membuat Cafe impian kamu." ucap Diki.
"Aku membuat ini semua karena kamu. Aku ingin kita mengelola ini bersama."
Starla tersenyum. "Makasih yah sudah mau membuat Cafe impian ku, tapi sekarang hubungan kita sudah tidak ada." ucap Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya.
"Sebelum aku berpacaran dengan kamu, aku sudah membuat Cafe ini untuk kamu." ucap Diki.
Starla kaget. "Aku tidak pernah main-main dengan kata-kata ku, aku sangat mencintai kamu, aku akan melakukan apapun demi membuat kamu bahagia." ucap Diki.
"Aku mohon jangan katakan itu lagi, aku memang sangat ingin punya Cafe sendiri, tapi ini adalah usaha kamu, jangan terlalu berlebihan seperti itu..Aku tetap akan menolak walaupun kamu memaksa ku."
Diki terdiam. "Lalu aku harus bagaimana agar kamu percaya kepada ku? kamu mau kembali kepada ku?" tanya Diki.
Starla menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu membahas itu, aku datang ke sini hanya mau menenangkan diri." ucap Starla.
"Baiklah aku minta maaf." ucap Diki.
"Aku sangat senang kamu sudah bisa berdiri di kaki kamu sendiri, aku pikir selama ini kamu masih meminta uang kepada kak Martin." ucap Starla.
Diki tersenyum saja. "Kalau seperti ini aku akan merasa minder." ucap Starla.
__ADS_1