
"Kamu tidak perlu memberikan saran seperti itu." bisik Jihan.
"Tidak mungkin aku mengganggu dia, sebentar lagi dia akan olimpiade." ucap Diki. Teman nya menggeleng kan kepala bingung.
Dia menarik tangan Jihan ke belakang.
"Sakit Tau!"
"Ini semua ide kamu kan?"
"Apa-apaan sih? Ide apa? aku saja tidak tau."
"Bagaimana kamu tidak tau? Sudah jelas kak Diki memiliki pacar kamu Masih saja mendekati dia!"
"Bukan aku yang ngajak kak Diki untuk makan malam, Kak Diki yang ngajak. Aku sebagai karyawan yang baik tidak mungkin aku menolak." ucap Jihan.
"Lagian kenapa sih pada heboh, bukan urusan kita juga kali, bagus dong kalau mereka sudah putus, aku memiliki kesempatan." ucap Jihan.
"Kamu sungguh tidak memiliki hati Jihan! Bagaimana kamu sangat tega membiarkan kak Diki pusing seperti itu." ucap Teman nya.
"Ini adalah perjuangan ku untuk mendapatkan cinta ku, bukan kah cinta butuh perjuangan?" tanya Jihan.
"Perjuangan itu tidak termasuk menghancurkan hubungan orang lain juga!"
"Aku tidak berniat seperti itu, aku juga tidak tau akan seperti itu. Mungkin sudah takdir nya saja mereka berpisah." ucap Jihan.
"Kamu tidak memiliki hati Jihan. Kami sangat kecewa sama kamu." ucap teman nya. Mereka langsung bubar meninggalkan Jihan.
Sepanjang hari Cafe sangat sepi.. Bukan sepi pelanggan tapi tidak ada kerecokan atau keributan dari para karyawan yang Biasa nya Sibuk berteriak kesana kemari.
Diki sadar kalau mereka juga ikut diam seperti dirinya.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka tiba-tiba diam-diaman?" ucap Diki.
Tidak terasa Cafe sudah tutup. "Jihan pulang naik apa?" tanya Diki.
"Naik ojek saja Kak." ucap Jihan langsung pergi.
"Kakak tidak perlu terlalu perduli dengan apa Jihan pulang. Semua yang melihat jadi salah paham termasuk pacar kakak." ucap karyawan nya.
"Jihan tidak memiliki kendaraan seperti kalian. Saya kasihan kalau membiarkan dia pulang naik ojek tengah malam." ucap Diki.
"Kamu terlalu baik sehingga tidak sadar kalau itu membuat kamu sedih." ucap Teman nya.
Diki menghela nafas panjang. "Kakak sadar gak sih kalau Jihan itu suka sama kakak?" ucap karyawan nya.
Diki tertawa kecil. "Tidak mungkin lah, jangan berbicara seperti itu." ucap Diki.
"Bagaimana tidak mungkin kak? apa kakak sama sekali tidak melihat cara dia memperlakukan Kakak, perhatian, senyuman dan tingkah nya?"
__ADS_1
Diki menggeleng kan kepala nya. "Dia tau saya sudah punya pacar. Dia baik itu sebaiknya dia seperti itu." ucap Diki.
Mereka menghela nafas panjang.
"Aduhh kak. Sebaiknya kakak jaga jarak dengan Jihan, jangan memberikan dia harapan palsu, kasihan dia, kasihan kakak juga."
"Saya tidak mengerti apa yang kalian maksud." ucap Diki.
"Sudah lah, sebaik nya kita pulang saja." ucap Teman Diki.
"Apa kalian semua sudah sangat lelah?" tanya Diki. mereka bertiga terdiam sejenak, mereka mau menginyakan namun wajah Diki terlihat sangat sedih dan mau menyampaikan sesuatu.
"Gua bisa tebak nih, kamu mau ngajakin minum kan?" tanya teman nya.
"Tapi kalau kalian lelah tidak apa-apa kok, aku bisa pergi sendiri."
"Kenapa tidak mengajak teman kakak yang lain?"
"Saya tidak akrab dengan mereka. Hanya kalian yang tau saya seperti apa, kalian sudah seperti keluarga saya." ucap Diki.
Karena dari nol mereka yang selalu mendampingi Diki, mulai dari gaji perhari sampai perbulan.
Dan mereka sama sekali tidak mengeluh itu sebabnya Diki sangat baik kepada mereka.
"Baiklah kami semua ikut kak Diki."
"Kalian serius?"
"Tapi besok kamu harus ke Cafe pagi-pagi."
"Tidak perlu! Kalian datang buka Cafe Sore saja." ucap Diki.
Mereka semakin semangat. Terakhir kali mereka minum bersama waktu peresmian Cafe. Dan itu sudah sangat lama sudah hilang rasa nya.
Mereka masuk ke dalam mobil Diki. Sampai di tempat minum mereka memesan minuman yang sangat banyak.
Tidak takut mabuk Karena sudah biasa juga.
"Huff kita harus mengajak Jihan." ucap Diki.
Mereka juga tidak enak mengasingkan Jihan. Mereka menghubungi Jihan namun tidak di jawab.
"Seperti nya kalau kamu yang nelpon Jihan akan menjawab nya." ucap teman nya kepada Diki.
Diki menelpon Jihan dan benar-benar saja langsung di jawab.
"Kamu lagi di mana?"
"Aku baru saja sampai di rumah kak."
__ADS_1
"Kamu datang lah ke club yang tidak jauh dari Cafe, kita minum bersama, saya yang traktir." telpon langsung mati.
Jihan terdiam sejenak. "Kak Diki minum tiba-tiba?" ucap Jihan heran.
"Seperti nya kak Diki benar-benar sangat sedih karena putus dengan pacar nya." batin Jihan.
Dia menyempatkan diri untuk mandi terlebih dahulu setelah itu baru berangkat ke club.
"Ya ampun Jihan kenapa kamu baru saja datang?" tanya salah satu teman nya yang masih setengah sadar.
Jihan melihat botol minuman yang sudah kosong di atas meja, dua teman nya sudah mabuk begitu juga dengan Diki namun tetap saja lanjut minum.
Diki menarik tangan Jihan. "Kamu minum lah." ucap Diki.
Jihan minum.. Namun tiba-tiba Diki menangis.
"Hiks... hiks.. hiks.." Saya sangat mencintai Starla. Saya tidak tau bagaimana sekarang." ucap Diki sambil terus menangis.
Jihan mengelus punggung Diki. Sampai pada akhirnya semua teman nya tidur. Sementara Diki berusaha untuk minum.
"Sudah kak, sudah. Kakak sudah mabuk." ucap Jihan. Diki menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mabuk. Aku hanya merindukan Starla."
Jihan tidak ada pilihan lain dia membawa Diki pulang ke apartemen nya.
"Argh!!!" Dia membaringkan tubuh Diki ke tempat tidur. Dia berbaring di samping Diki karena sudah pusing, lelah dan mengantuk.
Keesokan harinya...
Starla datang ke apartemen Diki bersama Hima.
"Kamu yakin Starla?" tanya Hima.
"Aku rasa aku harus berbicara dengan Diki, aku harus memperjelas semua nya. Aku tidak ingin hubungan ini sia-sia." ucap Starla.
Hima tersenyum.
"Bagus deh kalau kamu berfikir seperti itu, aku juga senang mendengar nya. Aku selalu mendukung apapun yang kamu lakukan. Karena bisa jadi saja salah paham." ucap Hima.
Starla masih memiliki kartu kunci jadi dia bisa masuk.
"Diki!!" panggil Starla, namun tidak ada jawaban. Dia mau berjalan ke kamar namun pintu kamar sudah terbuka duluan.
"Kamu!" ucap Starla sangat kaget melihat Jihan keluar dari kamar Diki dan seperti nya baru bangun.
"Tunggu.. kamu tenang dulu, aku bisa jelasin." ucap Jihan.
Diki bangun dia memegang kepala nya yang sangat pusing dia melihat Starla berdiri di depan pintu dengan tatapan marah dan ada Jihan juga.
Dia langsung berdiri. "Sayang aku bisa jelasin, kamu jangan berfikir yang aneh-aneh yah, aku mohon. Aku tadi malam..."
__ADS_1
"Plak!!" Tamparan di pipi Diki membuat suasana menjadi tegang.