
"Lepaskan aku kak, aku mau di sini." ucap Starla.
Starla berhasil di bawa ke pinggir.
Martin memberikan handuk menutup badan Starla.
Dia hanya diam, Air mata nya tidak berhenti mengalir.
"Ingat Starla di dunia ini banyak yang memiliki masalah, namun mereka menghadapi nya dengan lapang dada, tidak pernah lari dari masalah."
"Kalau kamu tidak ada lantas ibu kamu siapa yang jaga? Kuliah kamu bagaimana? Olimpiade yang kamu ikuti bagaimana? Orang yang menyanyangi kamu bagaimana?" tanya Martin.
"Tidak ada yang sayang sama ku, tidak ada gunanya aku hidup, aku selalu saja mendapatkan masalah." ucap Starla.
"Kalau kamu mendapatkan masalah, kamu jangan pernah berfikir untuk putus asa, jangan pernah berfikir untuk bunuh diri seperti ini. Ini merugikan kamu." ucap Martin.
Starla diam. Setelah itu Martin menawarkan diri untuk mengantarkan Starla pulang, namun Starla menolak.
Akhirnya Martin menghubungi Hima.
"Loh kak Martin! Kok dia menghubungi aku?" tanya Hima. Dia lagi bersama Diki sedang panik mencari Starla.
"Jawab saja, siapa tau ada informasi tentang Starla." ucap Diki.
Hima menjawab nya. "Halo kak, ada apa?" tanya Hima.
"Kamu di mana? Apa kamu bisa datang ke pantai sebentar?" tanya Martin.
"Aku sedang ada kesibukan kak, ada apa?" tanya Hima.
"Sangat penting mengenai Starla." ucap Martin.
"Starla? Baiklah aku akan ke sana kak." Seketika Hima langsung mematikan telepon.
"Apa Starla dengan kak Martin?" tanya Diki.
"Seperti nya begitu, aku akan menyusul."
"Aku ikut Hima. "Tapi sebaiknya kamu tidak perlu ikut." ucap Hima.
"Aku ingin melihat Starla Hima, aku mohon sama kamu." ucap Diki.
Hima juga tidak sampai hati kepada Diki. Dia sudah tau semua nya karena Diki sudah menceritakan semua nya.
Akhirnya Hima mau membawa Diki.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai. Martin menunggu sedikit jauh dari Starla.
"Di mana Starla kak?" tanya Hima.
Martin menunjuk ke arah Starla.
Diki dan Hima mau menyusul namun mereka langsung di tahan oleh Martin.
"Apa yang terjadi? Kenapa Starla terlihat sangat sedih, apa dia memiliki masalah?" tanya Martin.
Hima diam. Dia tidak mungkin bilang bermasalah dengan Diki.
__ADS_1
"Itu semua karena aku kak, Starla salah paham kepada ku." ucap Diki.
"Masih tentang Jihan?" tanya Martin karena mendengar juga kabar yang menyebar itu.
"Aku dengan Jihan tidak ada hubungan sama sekali kak, hanya sekedar karyawan dan bos. Dan tadi malam Jiha menginap di apartemen ku."
"Buk!!" Tinjuan keras langsung mendorong di perut Diki.
Hima panik. Starla mendengar keributan itu.
Martin tidak berhenti menghajar Diki.
"Kamu tau karena kamu Starla hampir bunuh diri!" ucap Martin.
"Dan kamu tau kan kalau kamu sudah menyakiti Starla kamu akan berhadapan dengan kakak!" ucap Martin.
Diki mendorong kembali Martin.
"Jangan menjadi seorang pahlawan kak! Kakak tidak ingat lebih sedih yang kakak Perbuat kepada Starla." ucap Diki.
"Aku dengan Jihan tidak memiliki hubungan apapun, ini hanya salah paham." ucap Diki.
"Hentikan!!" Ucap Starla.
Semua mata menoleh ke arah Starla.
"Starla..." ucap Diki.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian ribut hanya karena aku?" ucap Starla.
Diki Menatap kakak nya.
"Aku tidak bermaksud untuk menghianati kamu." ucap Diki setelah semua nya sudah di jelaskan kepada Starla.
Starla hanya diam. Dia tidak mengatakan apapun karena belum bisa berfikir dengan baik.
"Starla apa kamu mendengar ku? Apa kamu percaya padaku?" tanya Diki.
"Aku tidak mau memikirkan tentang itu. Untuk saat ini aku ingin istirahat dari hubungan ini." ucap Starla. Diki menghela nafas panjang.
"Baiklah aku mengerti." ucap Diki walaupun hati nya sangat sedih sekali.
"Aku ingin sendiri, aku mohon jangan ganggu aku." ucap Starla. Diki mengangguk.
"Jaga diri kamu baik-baik yah, aku minta maaf." ucap Diki.
Dia berdiri l.
"Aku pamit yah." ucap Diki berjalan meninggalkan Starla. air mata nya langsung keluar.
"Aku tidak pantas bersama Starla. Aku tidak bisa menjaga dia dengan baik " batin Diki.
Masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana?" tanya Hima yang menunggu dari tadi di dalam mobil.
Diki bersandar dia mengusap wajah nya dan Air mata nya.
__ADS_1
"Starla tetap mau putus." ucap Diki.
"Ya udah kamu yang sabar yah. Kasih dia waktu. Dia mau olimpiade." ucap Hima.
Hima memeluk Diki agar lebih tenang.
"Aku sangat mencintai dia, aku sangat tulus kepada dia. Aku pahami semua apa kesibukan nya sifat nya namun kenapa aku tetap saja membuat nya sedih?" ucap Diki.
Di tempat lain Martin sampai di rumah nya dia duduk di ruang tamu.
Tiba-tiba saja dia teringat tentang Tifani. Dia mengingat saat Tifani membersihkan luka nya ketika habis berantem dengan Diki. Dan juga menyambut nya pulang.
Semua kenangan dengan Tifani.
"Aku tidak tau apa yang terjadi kepada ku, namun aku benar-benar tidak bisa melupakan kamu Tifani..Aku benar-benar minta maaf." batin Martin.
Akhir-akhir ini Martin tidak sering keluar dia hanya fokus skripsi dan juga bekerja.
Tidak seperti biasa. Entah mengapa setelah menyudahi hubungan dengan Tifani gairah hidup nya hilang begitu saja.
"Seperti nya sudah tidak ada harapan lagi kalau aku kembali kepada Tifani." batin Martin.
Di malam hari nya tepat di Cafe...
"Kak Diki hari ini gak datang deh kayaknya." ucap teman Diki.
Mereka melihat ke arah Jihan yang hanya diam saja.
"Seperti nya gak ada datang deh." jawab teman nya.
Semua nya tidak mengajak Jihan berbicara, begitu juga dengan Jihan, dia sama sekali tidak berbicara kepada teman-teman nya.
Satu hari sebelum olimpiade...
Diki menunggu di depan kampus kedatangan Starla.
Tidak beberapa lama Starla datang bersama Hima, namun seperti biasa dia langsung menghindari nya.
Diki sama sekali tidak bisa menyapa Starla karena takut Starla tidak nyaman dan menjadi sebuah masalah di pikiran nya.
Akhirnya dia hanya bisa menyemangati Starla lewat doa.
Keesokan harinya..
"Starla kamu pasti bisa." ucap Hima mendampingi Starla.
"Makasih yah sudah mau menemani aku." ucap Starla. Hima tersenyum. Starla melihat ke arah pintu masuk. Acara sudah mau di mulai namun Starla seperti tidak fokus.
Tiba-tiba Pesan masuk ke handphone Hima.
"Baca deh " ucap Hima memberikan handphone kepada Starla.
"Starla ini aku Diki. Kamu semangat yah, aku selalu mendukung kamu. Kamu pasti menang aku percaya itu. Aku tidak bisa masuk ke dalam karena sudah di batasi aku ada di luar menunggu kamu." .
Starla memberikan ponsel Hima.
"Semangat yah. Fokus yah." ucap Hima.
__ADS_1
Starla mengangguk dia pun bergabung dengan yang lain.