
Starla tiba-tiba nangis, Hima langsung memeluk nya.
"Kok nangis? ada apa?" tanya Hima. Starla masih belum menceritakan nya.
Hima menunggu Starla lebih tenang dulu, dia mengelus kepala nya agar lebih tenang.
Setelah tenang Hima menanyakan nya lagi.
."Coba katakan ada apa." ucap Hima.
"Ya membuat Ayah ku meninggal Adalah kak Martin." ucap Starla.
"Maksudnya?"
"Kak Martin yang menabrak mobil Ayah pada waktu itu, bukan kecelakaan tunggal dan kak Martin menipu semua orang agar percaya Ayah kecelakaan tunggal." ucap Starla.
Hima kaget mendengar nya, dia benar-benar sangat kaget karena tidak habis pikir. Seperti tidak mungkin namun itu adalah kenyataan.
"Percaya atau tidak itu adalah urusan kamu Hima, namun sekarang aku sangat kecewa." ucap Starla.
"Tapi..."
Hima bingung harus mengatakan apapun. Dia melihat wajah Starla sangat kecewa membuat nya tidak mungkin membela Martin.
Karena dia tau itu tidak mungkin di sengaja kan, semua nya karena musibah.
Hima memeluk Starla. "Kamu yang sabar yah." ucap Hima memeluk Starla sangat erat. Hanya itu yang bisa dia lakukan agar Sahabat nya itu tenang.
Setelah beberapa lama akhirnya Hima ijin pamit pulang. Starla juga pasti mau istirahat. "Ya udah kalau begitu aku pamit pulang yah, kamu istirahat yah " ucap Hima.
"Baiklah." ucap Starla.
"Terimakasih sudah mau datang dan berkunjung ke sini melihat keadaan ku."
"Aku tetap saja mengkhawatirkan kamu, semoga kamu cepat pulih, jangan terlalu memikirkan semua nya dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku yah." ucap Hima.
Starla tersenyum.
"Aku sangat beruntung memiliki teman seperti kamu." ucap Starla.
Mereka berpelukan sebelum Hima berpamitan pergi pulang.
Hima pulang Starla pun langsung masuk ke kamar nya.
"Kenapa kejadian itu harus di depan ibu? sekarang trauma ibu kembali lagi, dia sakit dan sedih." batin Starla.
Dia jadi khawatir dengan kesehatan ibu nya.
Starla melihat foto Ayah ibu dan diri nya.
__ADS_1
"Ayah... aku minta maaf kepada ayah tidak bisa menjaga ibu dengan baik, aku gagal Ayah." batin Starla.
"Kalau Ayah mau marah, marah saja kepada ku. Aku mohon sembuhkan Ibu, aku masih ingin lama bersama ibu.. Kalau bukan dengan ibu aku harus bersama siapa?" ucap Starla.
"Ayah.. hidup terlalu keras sekali Ayah. Kalau boleh menyerah aku benar-benar ingin pergi bersama Ayah. Namun kasihan Ibu." ucap Starla.
"Ayah... Kenapa ayah sangat jahat meninggalkan aku begitu cepat?" ucap Starla.
Dia menangis memeluk foto Ayah dan ibu nya.
Tidak beberapa lama akhirnya dia tertidur.
Namun baru saja dia tertidur tapi ada yang mengetuk pintu sehingga tidur nya terganggu.
Dia melihat jam masih tengah hari.
"Siapa sih yang datang jam segini?" ucap Starla sambil berjalan keluar dari kamar nya. Dia membuka pintu dia melihat Diki di balik pintu nya.
Starla menghela nafas panjang.
"Mau berapa kali lagi aku bilang sama kamu agar tidak menggangu ku? aku tidak mau melihat wajah kamu." ucap Starla.
Starla sudah berulang kali mengusir dan mengabaikan Diki yang datang ke rumah nya untuk minta maaf.
"Aku ke sini mau minta maaf dari kamu dan Bu Irma." ucap Diki.
"Tapi Starla.
"Aku tidak mau di ganggu, aku ingin kamu pergi dari sini, jangan pernah menunjukkan wajah kamu di sini." ucap Starla.
"Starla..." Diki tiba-tiba berlutut di depan Starla membuat dia kaget.
Diki memasang wajah memohon.
"Aku mohon maaf dari kamu, aku tau ini sulit untuk kamu terima." ucap Diki.
"Orang tua kamu kaya , mereka meninggalkan banyak harta saja kamu masih belum bisa melupakan mereka. Bagaimana dengan aku? semua nya di tanggung oleh ayah ku namun kak Martin datang membunuh nya dan kamu tau tentang itu namun kamu tidak mengatakan apapun kepada ku." ucap Starla.
Diki menunduk kan kepala nya. "Aku Diki dan atas nama kak Martin di sini memohon Maaf dari kamu." ucap Diki.
"Kamu akan tanggung jawab dengan semua yang terjadi.
"Tidak ada gunanya! Berapa kali aku bilang tidak ada gunanya."
"Kami akan melakukan apapun yang kamu mau."
"Aku ingin Ayah ku hidup lagi." ucap Starla. Diki terdiam. Di sudut lain Martin hanya bisa diam menunduk sedih karena Starla terlihat sangat membenci Diki Apa lagi diri nya.
"Pergi dari sini! Adik pembunuh dan pembohong seperti kamu tidak pantas menginjakkan kaki di rumah ku. Rumah yang sudah di bunuh oleh kak Martin!" ucap Starla.
__ADS_1
Dia langsung menutup pintu.
Diki mengetuk pintu. "Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kamu memaafkan aku." ucap Diki.
"Aku tidak perduli." ucap Starla dia langsung ke kamar nya.
"Diki sebaiknya kita pulang." ucap Martin. Diki menepis tangan kakak nya.
"Tinggal kan aku di sini kak, aku tidak akan membiarkan Starla sendirian." ucap Diki.
"Diki Starla tidak mau di ganggu, apa yang bisa kita lakukan lagi selain pasrah." ucap Martin.
"Ini semua karena kakak, aku jadi di benci oleh perempuan yang sangat aku cintai." ucap Diki.
Martin meminta maaf.
"Kakak yang salah, kakak minta maaf kepada kamu." ucap Martin.
"Starla perempuan yang baik, dia menyanyangi ku dengan tulus, tidak ada wanita lain yang memperlakukan aku seperti itu bahkan orang tua ku sendiri, aku tidak mau kehilangan Starla." ucap Diki.
Martin mengangguk mengerti dia memeluk adik nya.
"Baiklah kakak minta maaf. Kalau kamu mau di sini kakak akan membiarkan nya. Kakak pulang." ucap Martin meninggalkan Diki di sana.
Diki berjalan ke arah kamar Starla yang di samping.
"Starla aku mohon berbicara kepada ku, aku mohon maafkan aku." ucap Diki dari luar.
Starla melihat Diki berdiri di luar kamar nya.
"Benar-benar sangat menyebalkan." Starla mengabaikan dan memasang earphone di telinga nya.
Starla kembali tidur sampai sore hari. Dia melihat jam sudah jam enam.
"Sebaiknya aku mandi dan setelah itu sholat." ucap Starla.
Dia berjalan ke arah kamar mandi namun tidak sengaja menoleh ke arah jendela dia terkejut melihat Diki masih berdiri di tempat yang sama.
Starla mendekati jendela.
"Pergi lah dari sini, percuma saja kamu berdiri di situ sampai kiamat pun aku tidak akan memaafkan kamu dengan kak Martin." ucap Starla.
"Aku akan tetap menunggu maaf dari kamu, aku tidak mau kehilangan kamu, hanya kamu wanita yang aku cintai dan aku tau kamu mencintai aku."
Starla menghela nafas panjang.
"Kalau begitu berdiri lah di sana terus sepanjang malam." ucap Starla sambil menutup jendela.
"Aku tidak mau untuk kedua kalinya kehilangan wanita yang sangat berharga di hidup ku." ucap Diki.
__ADS_1