
"Akhirnya bersih juga, aku berharap Martin bisa nyaman."
Dia membawa peralatan nya keluar tidak lupa memasang pewangi ruangan.
Setelah selesai dari kamar Martin dia berjalan ke arah kamar Diki.
"Tumben banget gak di kunci, sekalian saja deh aku bersihkan." ucap Tifani.
Dia melihat untuk pertama kalinya kamar Diki yang sangat berantakan.
Sangat banyak barang-barang di lantai di lemari dan di atas kasur, di balkon kamar juga sangat kotor.
"Humm ini sudah kebiasaan anak laki-laki." ucap Tifani. Dengan telaten dia membersihkan dan merapikan nya.
Di tempat lain Martin baru saja sampai di Cafe tempat janjian dengan Starla.
"Kak Martin." ucap Starla. Martin menoleh ke arah Starla yang baru saja datang. Martin tersenyum dia berdiri dan langsung memeluk Starla.
Starla membalas pelukan Martin.
"Saya sangat merindukan kamu." ucap Martin mencium kening Starla.
"Kakak dari mana saja sih? Kenapa kakak sangat susah di hubungi? Aku khawatir." ucap Starla.
"Khawatir apa kangen?" tanya Martin. Starla memukul lengan Martin. "Aku seriusan kak." ucap Starla.
"Sudah jangan membahas itu lagi. Sekarang saya sudah di sini, saya sudah bisa melihat kamu." ucap Martin.
Starla tersenyum. "Duduk lah." ucap Martin. Starla duduk di depan Martin.
"Tidak biasanya kakak membuat janji seperti ini, biasanya kakak datang ke rumah. Ibu juga sudah mencari kakak." ucap Starla.
"Tidak apa-apa, saya hanya ingin bertemu di sini, besok kalau tidak terlalu sibuk saya akan datang melihat ibu." ucap Martin.
"Ya udah deh gak apa-apa." ucap Starla. Martin tersenyum dia memegang tangan Starla mengelus nya menatap wajah Starla.
Di Rumah Martin. Beberapa saat akhirnya Tifani selesai membersihkan kamar Diki, dia melanjutkan membersihkan di luar sampai tengah malam. Setelah semua nya selesai dia langsung mandi.
"Aku harus dandan cantik, aku harus wangi saat Martin pulang nanti, palingan sebentar lagi dia pulang." ucap Tifani.
Menunggu di ruang tamu sampai Jam Sepuluh malam namun tidak ada tanda-tanda Martin pulang. Tifani mendengar suara motor dari luar.
"Kamu baru pulang jam segini? Martin mana?" tanya Tifani. Diki menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Aku tidak tau." ucap Diki.
"Sini biar aku bantu simpan." ucap Tifani Mengambil helm Diki.
Diki menggeleng kan kepala nya.."Tidak perlu aku akan membawa nya ke kamar." ucap Diki.
"Jangan di bawa ke kamar lagi Diki, aku baru saja membersihkan kamar kamu, semua nya kamu bawa ke kamar kamu." ucap Tifani.
"Kamu membersihkan kamar ku?" tanya Diki. Tifani mengangguk.
"Kamu dapat kunci nya dari mana?" tanya Diki masih tidak percaya karena kunci masih ada di kantong nya.
"Kamu lupa mengunci nya." ucap Tifani. Diki langsung berlari ke Atas masuk ke kamar nya.
Setelah masuk ke kamar nya dia sangat kaget melihat kamar nya sudah rapi. Dia melihat barang-barang di samping tempat tidur nya sudah tidak ada lagi di sana. Dia mencari ke lemari tidak ada.
Mata nya merah, wajah nya terlihat sangat menakutkan dan mengkepal tangan nya sangat kuat sekali.
"Apa-apaan maksud kamu masuk ke kamar ku tampa ijin?" tanya Diki turun ke bawah dan berteriak kepada Tifani.
Tifani kaget. Martin baru saja pulang dia kaget juga mendengar Diki marah.
"Aku hanya mau membersihkan saja agar bersih karena sudah sangat kotor. Kamu juga nyaman tidur di..."
Tifani tidak bisa mengatakan apapun lagi dia juga sudah takut.
"Sekarang barang-barang yang aku susun di atas meja dan yang di dalam kotak di Mana?" tanya Diki.
"Semua nya ada di lemari koleksi barang-barang kamu, yang lain nya sudah aku buang ke tempat sampah karena itu semua sampah." ucap Tifani.
"Kamu membuang nya ke tempat sampah?" tanya Diki menekan suara nya.
"Aku melihat semua nya sudah lama, aku pikir itu tidak bagus lagi karena tidak terlalu penting." ucap Tifani.
"Kamu yang penting!" ucap Diki langsung pergi keluar mencari ke Tempat sampah.
"Ki." panggil nya namun Diki sudah terlanjur marah.
Tifani melihat Martin yang berdiri di depan pintu.
"Aku tidak tau." ucap Tifani mengadu kepada Martin.
"Kamu sudah kenal Diki dari lama, kamu juga tau tentang itu, sedang kan aku saja tidak berani masuk ke kamar nya kenapa kamu melakukan itu?" tanya Martin.
__ADS_1
Tifani berfikir Martin akan melindungi nya namun tidak sama sekali.
Diki menyerak semua sampah sampai mendapatkan barang-barang nya. Dia mendapatkan kotak itu dan dia juga mendapatkan semua nya.
Dia melihat Dasi SMP yang sudah kumuh dan sudah robek.
Dia membawa semua nya masuk.
"Diki aku minta maaf, aku tidak tau kalau kamu akan marah, aku hanya berniat baik."
"Jangan berbicara lagi! Aku ingat kan jangan pernah menyentuh barang-barang ku atau masuk ke kamar ku!" ucap Diki.
Tifani mengangguk. "Aku tidak ingin melihat kamu di sini lagi." ucap Diki langsung naik ke atas. Tifani terdiam. Martin mendekati nya dia menepuk pundak Tifani.
Tifani mau memeluk Martin namun Martin langsung Ijin mau tidur ke kamar nya.
"Aku sudah ngantuk, aku ke kamar dulu yah, kamu istirahat lah, jangan di ambil hati kata-kata Diki." ucap Martin langsung pergi.
Tifani melihat Martin pergi.
Dia duduk di sofa sambil menangis. Dia masih syok melihat Diki marah seperti ingin membunuhnya.
Di kamar Diki melihat semua barang-barang yang sangat dia jaga dan bertahun-tahun dia simpan.
Semua barang-barang itu adalah milik Starla yang dia ambil. Itu semua dia ambil setelah dia membuly Starla.
Seperti Dasi, alat tulis, barang-barang Starla yang di umpetin oleh Diki ternyata dia simpan selama ini.
"Aku tidak boleh menyerah, aku Tifani yang kuat. Aku harus memperjuangkan cinta ku, aku juga harus menepati janji ku kepada almarhum Orang tua Martin untuk menjaga mereka." ucap Tifani.
Tidak beberapa lama akhirnya dia tenang, dia melihat jam sudah jam sebelas malam.
"Sebaiknya aku tidur juga." ucap Tifani.
Diki kebetulan mau mengambil menenangkan diri nya ke luar dia melihat Tifani baru saja masuk ke kamar nya.
Dia tidak jadi Mengambil minum dan langsung masuk ke kamar nya lagi.
Keesokan harinya...
"Pagi ibu.." sapa Starla yang baru saja bangun dan menyusul Ibu nya ke dapur.
"Ini masih dini hari, kenapa kamu bangun sangat cepat nak? Ini kan hari Minggu." ucap ibu nya.
__ADS_1