Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 69


__ADS_3

"Huff seperti nya aku harus pulang, jangan sampai dia marah nya berkelanjutan." batin Diki. Dia langsung pamit sama teman-teman nya.


namun saat keluar dari mall itu dia kaget melihat Kakak nya bersama perempuan lain.


"Loh itu kan kak Martin?" ucap Diki.


Dia mengikuti nya. Dia merangkul perempuan lain masuk ke dalam mall.


"Tifani masih di rumah sakit kenapa kak Martin malah jalan sama perempuan lain?" ucap Diki.


Dia mengikuti nya.


"Kak Martin." ucap Diki. Martin berhenti dia melihat Diki.. Seketika rangkulan nya di lepas. Diki bisa melihat perempuan itu perempuan bayaran Martin saja namun tetap saja Martin berhianat.


"Apa yang kakak lakukan? Ini sudah beberapa kali kakak menghianati Tifani, sekarang dia masih di rumah sakit namun kakak malah jalan dengan perempuan lain!" ucap Diki.


"Sayang dia siapa?" tanya Perempuan yang sedang bersama Martin. Martin meminta perempuan itu pergi terlebih dahulu.


"Kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan kakak, urus saja kehidupan kamu Sendiri. Asal kamu tau ini semua karena kamu." ucap Martin.


"Kenapa kakak menyalahkan aku?" ucap Diki mulai kesal.


"Kalau kamu tidak mengambil Starla dari kakak, Tidak mungkin kakak seperti ini." ucap Martin.


Diki tertawa kecil. "Aku pikir kakak sudah berubah. Kakak sudah menjadi lebih baik sekarang, namun ternyata aku salah. Kakak tetap lah orang yang sangat aku benci." ucap Diki langsung pergi.


Martin menghela nafas panjang.


"Diki kamu sedang apa?" Telpon Dari Starla.


"Aku baru saja sampai di rumah."


"Oohh." ucap Starla. Diki diam.


"Kamu sudah ngantuk? Kalau kamu ngantuk ya udah deh gak apa-apa tidur saja." ucap Starla.


"Baiklah." ucap Diki langsung mematikan handphone nya.


Starla menghela nafas panjang.


"Ada apa sih dengan anak itu? Aneh sekali." ucap Starla. menghela nafas.


Starla memilih menonton dari pada harus pusing memikirkan itu.


Keesokan harinya Martin kembali ke rumah. Dia bertemu dengan Diki.


"Kenapa kamu tidak kuliah?" tanya Martin.


"Bukan urusan kakak." jawab Diki.


"Kakak bertanya dengan baik, kenapa kamu menjawab nya seperti itu?" tanya Martin.


"Urus saja kehidupan kakak sendiri." ucap Diki. Martin terdiam.


Martin masuk ke dalam kamar nya.

__ADS_1


Tidak beberapa lama dia keluar hari ini dia mau ke kampus karena ada tugas.


Hubungan nya kini dengan adik nya semakin jauh hanya karena perempuan.


Diki melihat Martin sudah pergi. Diki juga bergegas mau ke rumah sakit.


"Diki..." Tifani melihat Diki datang.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Diki.


"Sudah lebih baik kok, besok aku sudah bisa pulang." ucap Tifani.


Diki duduk di samping Tifani.


"Kamu kenapa tidak kuliah?" tanya Tifani. "Hari ini jadwal kamu kosong, libur." ucap Diki.


"Oohh tapi hari ini Martin ijin ke kampus." ucap Tifani.


"Mungkin ada yang mau di urus." ucap Diki.


Tifani Menatap wajah Diki.


"Ada apa dengan mu? kenapa kelihatan nya kamu ada masalah?" tanya Tifani.


Diki menggeleng kan kepala nya. "Kamu pasti ribut lagi kan dengan Kakak mu, Kalian seperti kucing dengan Anjing saja, Tidak pernah baikan." ucap Tifani.


Diki diam. Tifani memegang tangan Diki.


"Jangan terlalu memikirkan nya, kamu harus sabar." ucap Tifani.


Tifani mengangguk. "Untuk apa lagi aku di sini? Tidak ada yang di harapkan." ucap Tifani sambil tersenyum.


"Hubungan kamu dengan kak Martin bagaimana?" tanya Diki.


"Martin tidak mencintai aku lagi, hubungan kami sudah kandas tidak ada harapan lagi. Martin sangat mencintai Starla." ucap Tifani.


"Tapi."


"Karena kamu dengan Starla sudah pacaran?" ucap Tifani langsung. Diki terdiam sejenak.


"Dari mana kamu tau?"


"Starla yang bilang. Aku sangat senang akhirnya kamu bisa bersama dengan Starla perempuan yang kamu sukai Sejak lama." ucap Tifani.


Diki tersenyum. "Aku berharap agar kamu menjaga nya dengan baik, mencintai nya dengan tulus karena Starla perempuan yang baik, kamu sangat Cocok dengan dia." ucap Tifani.


Diki mengangguk. "Satu lagi. Jangan mengikuti sifat kakak mu." ucap Tifani.


"Aku sangat mencintai Starla. Aku tidak akan meninggalkan dia atau pun menghianati dia." ucap Diki.


"Aminnn semoga hubungan kalian selalu langgeng terus." ucap Tifani. Diki tersenyum.


"Apa aku boleh memeluk kamu?" tanya Tifani. Diki terdiam sejenak. "Anggap aku sebagai kakak perempuan mu, tidak perlu canggung." ucap Tifani.


Diki pun langsung memeluk Tifani.

__ADS_1


Cukup lama. Tifani mengelus rambut Diki dan tidak terasa air mata nya menangis.


"Tidak seharusnya perempuan setulus Tifani mendapatkan Kak Martin." batin Diki.


"Kamu menangis?" tanya Diki. Tifani langsung menggeleng kan kepala nya. "Aku menangis karena aku bahagia. Sudah lama kita tidak berkomunikasi dengan baik seperti ini." ucap Tifani.


Diki menunduk kan kepala nya.


"Aku minta maaf, karena aku bermasalah dengan kak Martin kamu juga terkena imbas nya." ucap Diki.


Tifani tersenyum. Ternyata anak yang sangat dingin, cuek bisa minta maaf dan memasang wajah bersalah seperti ini juga." ucap Tifani mengelus kepala Diki.


"Aku juga manusia." ucap Diki.


"Aku yakin kamu berubah menjadi pria yang hangat seperti ini karena Starla kan? Kamu di kasih apa sama Starla?" tanya Tifani.


Diki tertawa mendengar nya, Tifani tersenyum.


"Sebelum aku kembali ke kota ku, apa aku boleh berjiarah ke makam Tante dan Om?" tanya Tifani.


Diki terdiam sejenak.


"Kamu tidak perlu mengantarkan aku, aku bisa pergi sendiri kok." ucap Tifani takut membebani Diki.


Keesokan harinya..


Diki sampai terlebih dahulu di rumah sakit membantu mengurus Tifani keluar dari rumah sakit.


"Apa kak Martin tidak datang?" tanya Diki.


"Dia bilang ada urusan hari ini, dia sangat Sibuk." ucap Tifani.


"Oohh ya udah kalau begitu, aku saja." ucap Diki.


"Terimakasih yah," ucap Tifani.


Diki tau kakak nya sedang bersama perempuan lain.


Setelah Tifani keluar dari rumah sakit dia merasa lega sekali.


"Aku sangat trauma berkendara di jalan raya." ucap Tifani.


"Kalau kamu masih trauma jangan berkendara dulu." ucap Diki.. Tifani mengangguk.


"Kalau begitu terimakasih banyak yah sudah membantu mengurus dari rumah sakit, sekarang aku mau ke makam om dan Tante." ucap Tifani.


"Aku akan mengantar kan kamu." ucap Diki.. Tifani terdiam sejenak.


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri kok."


"Aku juga ingin berjiarah." ucap Diki.. Senyuman Tifani seketika langsung muncul mendengar Diki.


"Kamu seriusan?" tanya Tifani.


"Aku sudah ikhlas, mau tidak mau aku harus menerima nya." ucap Diki.. Tifani tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah ayo kita berangkat, jangan lupa mampir di toko bunga, aku ingin membeli bunga yang banyak." ucap Tifani sangat bersemangat. Melihat Tifani bersemangat Diki juga bersemangat.


__ADS_2