
"Ya udah kalau begitu." ucap Starla. Mereka pun pergi pulang. Sebelum pulang Hima tidak lupa membeli buah-buahan, makanan untuk Bu Irma.
"Assalamualaikum ibu...." Ucap Starla baru saja pulang dan membuka pintu. Dia melihat Ibu nya duduk di ruang tamu sambil memakan kue.
"Walaikumsalam..." ucap Bu Irma.
"Loh ibu makan apa tuh? Kok ibu bisa dapat kue?" tanya Starla.
"Oohh ini tadi ada yang nganterin kue untuk Ibu katanya." ucap Bu Irma.
"Bu.. lain kali jangan mengambil barang kirimin sembarangan seperti ini." ucap Starla.
"Tapi ini sangat enak, rasa nya tidak asing sekali. ibu sangat suka." ucap Bu Irma. Dia meminta Starla mencicipi nya.
"enak kan?" tanya ibu nya. Starla diam.
"Ibu apa kabar?" tanya Hima.
Bu Irma mengabaikan Hima. Starla juga kaget kenapa Ibu nya seperti itu.
"Ibu sudah sehat?" tanya Hima namun tidak di jawab juga.
"Bu ini Hima." ucap Starla. Ibu nya menoleh ke arah Hima.
"Kamu teman para pembunuh itu kan? Kamu tidak perlu datang ke sini, saya tidak mau melihat kamu!" ucap ibu Irma.
"Bu ini Hima." ucap Starla.
"Ibu tidak mau bertemu dengan mereka lagi, ibu tidak mau bertemu dengan mereka!" ucap Ibu nya langsung menguatkan suara dengan wajah yang ketakutan.
"Tenang Bu."
"Suruh dia pergi dari sini! Pergi dari sini!" ucap Bu Irma.
"Iyah Bu iyah, ayo istirahat ke kamar dulu yok." ucap Starla menenangkan Ibu nya membawa ke kamar.
"Ibu tidur yah, aku akan ke luar sebentar." ucap Starla. Ibu nya pun tidur.
"Bagaimana keadaan ibu kamu?" tanya Hima. "Dia sudah tidur. Mungkin dia masih belum bisa melupakan nya, jadi apa-apa tentang kak Martin dan Diki mengingat kan dia." ucap Starla.
"Iyah aku paham kok. Aku juga seharusnya tidak datang membuat keadaan ibu kamu jadi drop seperti ini." ucap Hima.
"Gak apa-apa kok, kamu jangan merasa bersalah seperti itu yah." ucap Starla.
__ADS_1
"Lagian keadaan ibu memang seperti itu, maaf yah membuat kamu tidak nyaman seperti ini. Kamu berniat baik eh malah seperti ini ujung nya." ucap Starla.
Hima menepuk pundak Starla. "Gak apa-apa kok. Aku berdoa yang terbaik untuk orang tua kamu." ucap Hima. Starla tersenyum dia memeluk Hima.
"Iyah. Terimakasih banyak yah Hima." ucap Starla.
Setelah beberapa lama akhirnya Hima pun pulang ke rumah nya.
"Huff..." Starla duduk di kursi sambil melepas penat nya. Dia melihat Kue yang ada di atas meja.
"Ibu akhir-akhir ini tidak berselera makan, makan apa saja tidak mau, kue sebesar ini hampir habis sama ibu." ucap Starla.
Dia mencicipi kue itu. "Kok rasa nya gak asing sih?" ucap Starla. Mencicipi nya sampai di ingat kue yang pernah di bawakan oleh Diki kepada nya.
Dari Cafe Hijau dan juga Cafe itu milik Diki.
"Tidak mungkin Diki yang mengantarkan ini ke sini. Pasti ibu tidak mau. Tapi bisa jadi saja dia menyuruh orang lain." batin Starla.
"Aku tidak bisa membiarkan ini." ucap Starla. Dia mengambil kue itu dan membuang nya.
Di sore hari nya Starla berpamitan kepada orang tua nya untuk keluar sebentar. "Kamu mau kemana nak? Sudah Sore." ucap ibu nya.
"Aku mau membeli sesuatu Bu. Aku gak lama kok."
Starla menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok Bu, aku selalu menjaga ibu. Tidak ada pembunuh di sini." ucap Starla.
Starla berangkat menuju ke Cafe Diki.
"Lihat tuh siapa yang datang." ucap teman Diki melihat Starla sudah sampai di Cafe dan masuk ke Cafe.
"Selamat datang di Cafe Hijau, mau pesan apa?" tanya penyambut di pintu.
"Saya ke sini mau bertemu dengan pemilik Cafe ini." ucap Starla. "Humm maksud mbak kak Diki?" tanya mereka.
"Iyah! Di mana dia? Bukan kah dia di sini setiap hari?" tanya Starla.
"Tapi hari ini kak Diki tidak datang ke Cafe. Kak Diki sudah jarang datang ke Cafe, dalam dua Minggu ini kak Diki baru datang dua kali."
"Siapa yang tau dia di Mana? saya berurusan penting." ucap Starla.
"Kami tidak tau." ucap mereka.
Starla melihat ke arah Jihan. Jihan hanya diam saja tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Kalau kak Diki datang ke sini, kami akan segera menghubungi mbak." ucap Karyawan.
"Katakan pada nya saya mencari nya!" ucap Starla dengan nada yang sangat judes sekali.
"Baik mbak."
Starla pun keluar dari Cafe itu.
Tidak beberapa lama Jihan keluar menahan Starla.
"Mbak saya boleh bicara dengan mbak sebentar?" tanya Jihan.. Semua teman-teman nya bingung dan panik kalau mereka Akan ribut.
Starla berbalik dia melihat Jihan. "Ada apa?" tanya Starla.
"Apakah kita bisa berbicara di tempat lain?" tanya Jihan.
"Di sini saja, lumayan sepi." ucap Starla.
"Saya mau bilang sama mbak kalau saya dengan kak Diki tidak ada hubungan apapun. Saya dengan kak Diki hanya sebatas Karyawan dan bos saja." ucap Jihan.
"Lalu ?"
"Saya tau hubungan mbak dengan kak Diki sangat buruk setelah mendengar rumor itu. Mbak harus tau kalau itu tidak benar, pada saat itu saya tidur di apartemen kak Diki karena kita sama-sama mabuk."
"Sama-sama mabuk? Tidur di kamar yang sama?" ucap Starla.
"Itu tidak seperti yang mbak pikir kan, mbak jangan salah paham.. Pada saat itu kak Diki mabuk berat, tidak ada yang bisa mengantarkan nya pulang itu sebabnya saya harus mengantar kan dia pulang ke apartemen." ucap Jihan.
Starla terdiam. "Dia sangat mencintai mbak, saya harap mbak percaya dengan dia, jangan sampai mbak memutuskan hubungan." ucap Jihan.
"Saya memang menyukai kak Diki, saya mencintai dia , namun tetap saja mbak yang ada di hati nya." ucap Jihan.
"Saya dengan dia sudah putus, kalau kamu mau memiliki dia silahkan, saya tidak akan melarang atau keberatan."
"Saya mohon mbak jangan, saya akan merasa bersalah kalau kalian putus." ucap Jihan.
"Enggak kok. Kamu tidak salah, kami yang sudah tidak cocok lagi." ucap Starla. Jihan diam, dia tidak tau harus mengatakan apa lagi.
Sebaiknya kamu kembali kerja, aku juga mau pergi." ucap Starla. Jihan menatap nya dengan tatapan Merasa bersalah.
"Kamu tidak perlu kefikiran seperti itu, saya tau kok rasanya jadi kamu, cinta hanya bertepuk sebelah tangan itu rasanya pasti sangat menyakitkan." ucap Starla.
Jihan diam saja, "Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu yah." ucap Starla.
__ADS_1