Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 20


__ADS_3

"Bukan nya kakak sudah mempunyai Tante dan paman, masih banyak keluarga yang lain nya kan? Jadi untuk apa aku di sini?" tanya Diki.


"Diki!" ucap Martin marah. Starla hanya bisa diam.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Kakak kamu sendiri tidak bisa kamu hargai!" ucap Martin.


"Kakak berusaha sabar untuk menghadapi kamu, namun kamu benar-benar tidak bisa mengerti." ucap Martin.


"Aku pergi dulu."


"Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus di rumah, apa kata Tante dengan paman kalau kamu tidak di rumah hari penting seperti ini?" ucap Martin.


"Aku tidak di perlukan di sini, untuk apa aku di sini?" ucap Diki. Martin menghela nafas panjang.


"Kamu sudah dewasa Diki, sampai kapan kamu akan seperti ini kepada kakak? Kakak tau kamu masih marah kepada kakak." ucap Martin.


"Aku tidak butuh nasehat kakak, aku tidak butuh siapapun." ucap Diki.


Dia pun langsung pergi. Martin menghela nafas panjang.


"Sudah kak.." Starla menahan Martin.


"Semakin kakak keras Diki akan terus melawan sama kakak." ucap Starla.


"Saya tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi Diki. Semenjak kepergian orang tua saya dia sangat membenci saya. Dia tidak pernah mau mendengar kan saya." ucap Martin.


"Maksudnya?" tanya Starla.


"Orang tua saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu." ucap Martin.


"Dan Diki selalu menyalahkan saya atas meninggalnya kedua orang tua kami." ucap Martin.


Starla terdiam sejenak. "Sudah lupakan saja, ayo lanjut makan." ucap Martin.


Mereka lanjut masak. Tidak beberapa lama keluarga Martin datang.


"Selamat ulang tahun yah nak." ucap Paman nya dan Tante nya langsung memeluk Martin.


"Terimakasih banyak Tante." ucap Martin.


"Ayo duduk dulu." ucap Martin. Ada juga keluarga Martin yang lain nya datang.


"Loh kok kamu masak banyak sih? Tante sama Paman sudah bilang tidak perlu repot-repot untuk masak." ucap Tante nya.


"Tidak apa-apa Tante, hanya sekali setahun. Aku sengaja Memasak ini karena Tante harus mencoba nya. Dan aku juga di bantuin oleh junior aku kebetulan dia sangat pintar membuat ini." ucap Martin.


Mereka melihat ke arah Starla yang masih sibuk di dapur.


"Yakin hanya Junior saja?" ucap Tante nya.

__ADS_1


Martin tersenyum. "Iyah Tante." ucap Martin.


"Panggil dia ke sini." ucap Tante nya.


Martin mengangguk.


"Starla sini dulu." ajak Martin. Starla membawa minuman dan membuat nya di meja.


"Tante kenalin ini namanya Starla. Satu kampus sama aku. Starla kenalin juga ini keluarga saya." ucap Martin. Starla menyalim mereka.


"Kamu sangat manis sekali." ucap Tante Martin.


"Ya udah kalau begitu ayo kita makan sama-sama." ucap Martin.


Mereka makan sama-sama. "Tunggu dulu deh, seperti nya ada yang kurang dengan anggota keluarga kita." ucap Tante nya.


"Diki lagi keluar Tante, mungkin dia lagi ada janji sama teman-teman nya." ucap Martin.


"Itu anak benar-benar yah! Bisa-bisa nya di hari ulang tahun kakak nya dia memilih pergi bersama temannya." ucap Tante nya.


"Diki seperti nya masih belum bisa menerima kepergian Mamah dengan Papah, itu sebabnya dia seperti ini." ucap Martin.


Tante dan om serta Paman nya hanya bisa menghela nafas panjang.


"Apa kamu sudah bilang besok rencana kita untuk jiarah?" tanya Keluarga nya.


"Belum Tante, aku yakin dia tidak akan mau ikut." ucap Martin.


Martin sangat perhatian kepada Starla sehingga Starla kurang enak di lihat oleh keluarga Martin.


"Sudah malam, kamu menginap lah di sini." ucap Martin karena semua keluarga nya juga menginap.


"Aku harus pulang kak, ibu sendirian di rumah." ucap Starla. "Ya udah kalau begitu saya akan mengantar kan kamu." ucap Martin.


"Jangan kak, aku tidak enak sama Paman, Om dan keluarga kakak yang lain nya. Sebaiknya aku pulang sendiri saja." ucap Starla.


"Tapi ini sudah malam." ucap Martin.


"Aku sudah biasa kak." ucap Starla.


"Saya akan memesan kan taksi online untuk kamu." ucap Martin.


"Terimakasih kak." ucap Starla.


Menunggu taksi di depan rumah.


"Starla!" panggil Martin. "Iyah." jawab Starla.


"Apa kamu sudah memiliki Pacar?" tanya Martin. Starla menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Mana mungkin orang seperti aku memiliki pacar kak, lagi pula aku tidak berminat untuk berpacaran sekarang." ucap Starla.


"Saya boleh jujur kepada kamu?" tanya Martin.


Starla terdiam sejenak.


"Saya menyukai kamu." ucap Martin. Starla kaget dia menatap wajah Martin.


"Tidak mungkin, kakak pasti berbohong." ucap Starla.


"Saya tau kamu pasti tidak akan percaya, tapi saya sudah menyukai kamu di awal pertemuan kita." ucap Martin.


Starla terdiam sejenak. Dia mengingat pertemuan mereka di hari perpisahan sekolah SMA nya.


"Saya sangat suka dengan sifat kamu, saya sangat suka dengan kepintaran kamu, semua yang ada di kamu membuat saya tertarik." ucap Martin.


"Itu mungkin hanya ketertarikan sesaat." ucap Starla.


"Awalnya saya juga berfikir seperti itu, namun semakin saya mengenal kamu saya semakin ingin mengenal kamu lebih dalam. Saya ingin lebih dekat dengan kamu."


"Saya rasa ini bukan perasaan yang bagus, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menepis nya saya menghilang beberapa hari dan tidak bertemu kamu tetapi itu sangat menyiksa saya." ucap Martin.


"Maksudnya?"


"Saya sangat merindukan kamu, saya sangat senang ketika kamu mencari saya, saya sangat senang ketika kamu mengirimkan pesan kepada saya." ucap Martin.


Starla terdiam. "Saya tau kamu pasti memiliki perasaan kepada saya, saya sangat ingin kamu menjadi pacar saya." ucap Martin.


Starla semakin kaget.


"Ya ampun kenapa kak Martin langsung to the point, aku jadi sangat malu, jantung ku berdebar sangat cepat sekali." batin Starla.


"Kenapa kamu diam saja Starla?" tanya Martin.


"Humm apa kakak tidak malu berpacaran dengan junior seperti aku?" tanya Starla.


Martin menggeleng kan kepala nya. "Kenapa saya harus malu?" tanya Martin.


"Saya menyukai kamu. Saya mohon jadi lah pacar saya." ucap Martin. Starla melepaskan tangan nya dari Martin karena mobil sudah datang.


"Aku pulang dulu yah kak, sampai jumpa besok." ucap Starla. Martin melihat Starla pergi.


"Apa yang salah? Kenapa Starla tidak menjawab apapun? apa dia akan marah? apa setelah ini dia akan menjauhi ku?" batin Martin.


Tidak beberapa lama Diki datang.


"Sudah jam berapa ini? Kenapa kamu baru pulang?" tanya Martin. Diki tidak menjawab dia melewati dan pergi langsung ke kamar nya Tampa menyapa keluarga nya di ruang tamu.


"Martin.. Kamu jangan terlalu keras kepada adik kamu." ucap paman nya.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana lagi mengajari dia paman, aku pusing dengan sifat nya!" ucap Martin.


__ADS_2