
"Emang aku Starla yang harus nungguin kamu!" ucap Hima.
"Tungguin saja." ucap Diki. "Ya udah deh." Hima duduk di sofa ruang tamu.
"Jangan lama-lama!"
"Iyah.."
"Seperti nya Diki kesepian semenjak Starla sibuk dengan pelajaran nya." batin Hima.
"Tapi tidak apa-apa lah, anggap saja itu penguji cinta mereka berdua, kalau mereka berdua bertahan itu artinya mereka sama-sama saling mencintai." ucap Hima.
Dia lanjut membaca buku dari Diki.
"Sudah selesai! ayo berangkat." ucap Diki. Hima melihat penampilan Diki.
"Kamu yakin berangkat ke kampus seperti ini?" tanya Hima. Karena tidak rapi sama sekali.
Diki melihat pantulan nya di cermin.
Dia langsung merapikan nya. "Seperti nya kamu terlihat sangat kacau setelah Starla sibuk dengan urusan nya." ucap Hima.
Diki mengangguk. "Aku hanya sedikit kesepian saja semenjak kita sudah jarang berkomunikasi." ucap Diki.
Hima menghela nafas panjang. "Kamu sudah tau lebih banyak tentang Starla. Kamu tau juga dia sangat pekerja keras, tekun dan pintar. Dia anak yang bersungguh-sungguh." ucap Hima.
"Iyah aku tau, dan sebagai pasangan aku harus support dia terus." Hima tersenyum.
"Ya udah kalau begitu kita berangkat." ucap Diki. Mereka pun pergi ke kampus.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Diki melihat Starla sudah di kelas. Melihat Diki Starla tersenyum.
"Maaf yah tadi malam aku ketiduran tidak bisa menelpon kamu." ucap Starla kepada Diki. Diki tersenyum sambil mengangguk.
"Tidak apa-apa kok. Aku mengerti kamu pasti kelelahan." ucap Diki.
Starla tersenyum. "Oh iya nanti kita makan siang bareng yah." ucap Starla.
Diki mengangguk. "Kamu tentukan saja di mana, aku ikut saja." ucap Diki. Starla tersenyum.
Waktu nya untuk makan siang. Diki melihat Starla sedang duduk di parkiran mobil.
"Maaf yah buat kamu nungguin lama." ucap Diki. Starla berdiri. "Kamu dari mana saja? aku sudah sangat lapar." ucap Starla.
"Ya udah kalau begitu ayo langsung berangkat saja." ucap Diki. Di perjalanan ke tempat makan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan pelajaran kamu lancar?" tanya Diki. Starla mengangguk.
"Semua nya lancar. Hanya saja aku masih harus bolak-balik perpustakaan meminjam buku dan Mengembalikan buku." ucap Starla.
"Oohh.. Apa ada buku yang sedang kamu butuhkan tapi tidak ada di perpustakaan?" tanya Diki.
"Humm ada sih, banyak. Hanya saja buku itu sangat mahal, aku harus nabung dulu untuk membeli nya." ucap Starla.
"Humm bagaimana kalau kita beli saja?" tanya Diki. "Aku belum memiliki uang yang cukup." ucap Diki.
"Tenang saja, aku yang akan membeli nya untuk kamu." ucap Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Jangan.. Aku tidak mau merepotkan kamu." ucap Starla.
"Kalau kamu menganggap aku sebagai pacar kamu. Kamu harus menerima nya." ucap Diki. "Tapi..."
"Tidak baik menolak pemberian seseorang." ucap Diki.
Starla benar-benar sangat butuh. Akhirnya dia pun mengiyakan.
"Baiklah aku mau, tapi aku langsung mengembalikan uang kamu setelah aku memiliki uang." ucap Starla. Diki tersenyum.
"Tidak perlu kamu bayar kembali, kamu berikan hati kamu saja sudah cukup." ucap Diki. Starla Tersipu malu.
Setelah selesai makan mereka ke toko buku bersama. "Pilih lah apa yang kamu butuhkan." ucap Diki. Starla mengangguk.
"Hanya tiga saja?" tanya Diki.. Starla mengangguk.
Setelah di bayar Starla benar-benar terkejut mendengar harga nya.
Ingin rasanya mengembalikan lagi namun Diki sudah terlanjur membayar nya.
"Aku janji Akan mengembalikan uang kamu setelah sudah memiliki uang." ucap Starla. Diki tersenyum.
"Ya udah kalau begitu ayo kita pulang." ajak Diki.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah Starla.
"Kamu mau langsung pulang atau mau singgah dulu?" tanya Starla.
"Aku mau ketemu sama Bu Irma." ucap Diki. Mereka masuk ke dalam. Dan ternyata Bu Irma sangat sibuk sekali.
Diki dan Starla berinisial untuk membantu nya. Namun Bu Irma menolak karena tidak enak.
Tapi Starla dan Diki tetap saja mau membantu..
__ADS_1
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
"Kenapa tidak memakai jasa karyawan lagi Bu? Kalau sendirian seperti ini akan lebih lelah." ucap Diki.
"Ibu sudah tidak bisa membayar upah mereka nak, keadaan warung juga tidak terlalu ramai." ucap Bu Irma.
Diki tidak lama-lama di sana, dia pun pamit pulang.
"Bu ini hasil jualan ku pagi tadi." ucap Starla. dia memberikan kepada Ibu nya hasil dari sup tadi malam.
"Harga nya tidak seperti biasa Bu, harga nya jauh lebih murah karena sudah sup sisa." ucap Diki.
"Gak apa-apa nak, ibu senang kalau sudah habis. Tidak mengenai harganya tapi ibu sangat sedih kalau banyak yang tersisa." ucap ibu nya.
Starla tersenyum. "Ibu jangan sedih yah, aku akan membantu ibu agar warung kembali seperti biasa." ucap Starla.
Ibu nya menggeleng kan kepala nya. "Tidak nak, kamu fokus saja dengan kuliah kamu yah." ucap Bu Irma.
"Ibu selalu melarang ku kalau ijin, sebaiknya aku melakukan saja apa yang ingin aku lakukan. Lebih baik aku minta maaf." ucap Starla.
"Ya udah kalau begitu kamu mandi gih." ucap ibu nya.
Sementara Diki sampai di rumah dia langsung mengabari Starla.
"Ada apa yah dengan keluarga Starla? Kelihatan sekali kalau Bu Irma sangat sedih." batin Diki.
Diki mengingat keluarga Starla banyak di bantu oleh kakak nya. Dia juga yang mencari kan karyawan untuk Bu Irma.
"Apa sebaik nya aku bertanya kepada kak Martin kemana karyawan itu?" batin Diki.
"Kelihatan nya kemarin warung sudah mulai naik. Penghasilan perhari juga sudah sangat banyak." batin Diki.
Martin mengambil kunci mobil nya dia langsung menuju rumah nya. "Tapi aku dengan kak Martin tidak sedekat itu, bagaimana kalau kak Martin tidak mau membantu Bu Irma lagi?"
"Aku yakin kalau aku yang membantu Bu Irma dia pasti menolak." batin diki.
Namun tidak ada jalan lain dia harus menemui kakak nya.
Sampai di depan rumah Diki melihat rumah sangat sepi. "Kenapa sangat sepi? Jam segini seharusnya kak Martin sudah di rumah." ucap Diki. Tidak melihat mobil Martin di depan.
Dan rumah juga seperti beberapa tidak di tinggalin sehingga banyak debu.
"Apa kak Martin tidak pulang-pulang? lantas kemana dia?" tanya Diki. Diki membuka handphone nya dia menelpon Martin namun tidak di jawab.
Karena tidak ada yang dia cari di sana, akhirnya dia memilih untuk pulang saja. "Kak Martin kok gak nelpon lagi sih?" batin Diki.
__ADS_1
Sampai di apartemen nya masih berusaha menelpon Martin. Namun tetap saja tidak ada jawaban membuat nya bingung.