Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 63


__ADS_3

"Maksudnya?"


"Aku setiap detik merindukan kamu, aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu, apa kamu mau pindah bersama ku?" tanya Diki.


"Tidak semudah itu Diki, bagaimana dengan ibu ku?" tanya Starla.


"Aku akan berbicara dengan ibu." ucap Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.


"Jangan.." ucap Starla. Diki Menatap wajah Starla.


"Aku ingin tinggal bersama kamu, kalau begitu ijinkan Aku tinggal di rumah kamu." ucap Diki.


"Kita belum menikah jadi tidak bisa tinggal satu rumah." ucap Starla.


"Kalau begitu ayo menikah, aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki kamu. Kamu hanya milik ku." ucap Diki.


Starla tertawa mendengar itu. "Kita masih sama-sama kuliah, tidak semudah itu untuk menikah." ucap Starla.


Diki memasang wajah sedih. "Kita berdua harus sama-sama fokus kepada Kuliah kita. Kamu tau kan kalau ibu sangat ingin melihat aku menyelesaikan kuliah ku." ucap Starla.


Diki mengangguk. "Aku minta maaf." ucap Diki. Starla tersenyum.


Beberapa hari kemudian Starla dan Diki libur.


"Nak Diki mau membawa Starla kemana?" tanya Bu Irma.


Diki pagi-pagi sudah datang menjemput Starla.


"Mau menemui Teman di rumah sakit Bu. Boleh kan Bu?" tanya Diki.


"Boleh-boleh saja nak, tapi jangan pulang terlalu larut malam yah, ibu sangat khawatir kalau kalian pulang malam." ucap Bu Irma.


"Iyah Bu, aku janji akan Cepat pulang." ucap Diki.


"Starla kemana? dia belum juga selesai?"


"Masih mandi Bu, gak apa-apa lagi gak buru-buru kok." ucap Diki.


"Oh iya Ibu mau nanya nih apa Starla dengan nak Martin sudah tidak bersama lagi?" tanya Bu Irma.


"Seperti yang ibu tau." ucap Diki dia bingung harus menjawab apa karena sampai sekarang Bu Irma belum tau hubungan mereka berdua.


"Kata Starla sih mereka sudah putus. Ibu juga belum tau kenapa. Apa kamu tau kenapa?"


"Kenapa ibu tidak tanya kepada Starla?"


"Ibu mau nanya tapi takut Starla sedih lagi, kalau bukan karena kamu, ibu tidak tau harus bagaimana menjemput Starla dari kampung nenek nya." ucap Bu Irma.


Diki tersenyum. "Ya sudah kalau begitu kalau kamu bertemu dengan kakak mu tolong katakan pada nya kalau kakak ingin bertemu dengan dia." ucap Bu Irma.


"Iyah Bu." ucap Diki.

__ADS_1


"Aku sudah siap, ayo kita berangkat." ucap Starla.


"Eh ibu. Lagi ngomongin apa sih? kelihatan nya serius banget." ucap Starla.


"Gak ada kok nak, ayo langsung berangkat saja, jangan sampai kesiangan." ucap Bu Irma.


"Ya udah kalau begitu kami permisi dulu yah Bu." ucap Starla.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka pun pergi.


"Sayang tadi kamu bicarakan apa sama ibu?" tanya Starla. Diki menggeleng kan kepala nya.


"Tidak ada." ucap Diki.


"Bohong! Tidak mungkin tidak ada." ucap Starla.


"Hanya membicarakan tentang masakan Ibu, tentang kuliah." ucap Diki.


"Oohh." ucap Starla. "Pasang seatbelt kamu dulu sayang." ucap Diki. Starla mengangguk.


"Kamu sudah Siap mau bertemu dengan Tifani?" tanya Diki.


Starla terdiam sejenak. "Kalau kamu tidak siap tidak apa-apa, tidak perlu hari ini, kamu tidak perlu memaksa nya." ucap Diki.


"Aku sudah memutuskan nya untuk hari ini sayang, kamu jangan membuat aku berubah pikiran lagi." ucap Diki.


"Ya udah deh, aku minta maaf." ucap Diki.


Selama perjalanan Starla berusaha menenangkan diri nya. Mau bagaimana pun dia merasa malu bertemu dengan Tifani.


Diki tau di sana Tifani di rawat karena mengikuti kakak nya.


"Permisi..." Starla masuk.


Kebetulan Tifani lagi makan di suapi oleh Martin.


Tifani melihat Starla cukup terkejut, begitu juga dengan Martin.


"Starla.. Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Martin.


Martin mau membawa Starla keluar namun Starla tidak mau, Diki langsung melepaskan tangan Martin dari Starla.


"Aku mau berbicara dengan Mbak Tifani." ucap Starla. Martin terlihat sangat takut dan khawatir.


"Kakak tidak perlu khawatir, aku ke sini tidak berniat jahat." ucap Starla.


Diki membawa Martin keluar.


"Kenapa kamu membawa Starla ke sini?" tanya Martin kepada Diki.


"Dia yang mau datang sendiri." ucap Diki. Martin terlihat sangat pusing.

__ADS_1


"Ini semua karena kesalahan kakak kan? Karena kakak Starla dan Tifani mengalami sakit yang sangat mendalam." ucap Diki.


"Kamu diam saja, kamu tidak tau apa-apa." ucap Martin.


Starla mendekati Tifani. Tifani mau duduk namun Starla menahan nya.


"Tidak apa-apa mbak, tiduran saja, tidak perlu di paksa." ucap Starla.


Tifani tersenyum Tipis. "Kedatangan ku ke sini tidak bermaksud apa-apa kok, aku hanya mau melihat keadaan mbak." ucap Starla.


"Bagaimana keadaan mbak?" tanya Starla.


"Seperti yang kamu lihat." ucap Tifani.


Starla melihat tangan Tifani masih di gips dan juga juga kaki nya.


"Aku minta maaf mbak." ucap Starla.


"Untuk apa kamu minta maaf?"


"Kalau bukan karena aku mbak tidak mungkin seperti ini, aku minta maaf." ucap Starla. Tifani menggeleng kan kepala nya.


"Ini kesalahan saya sendiri, kamu tidak salah. Kamu jangan berfikir seperti itu." ucap Tifani.


"Tapi...." "Ssttt!! Sudah.. tidak perlu di bahas lagi." ucap Tifani.


"Saya sangat mencintai Martin, saya akan membiarkan dia memilih kebahagiaan nya sendiri. Saya tidak akan marah." ucap Tifani.


Starla menggeleng kan kepala nya.


"Tidak mbak, aku dengan kak Martin sekarang sudah tidak bersama lagi. Aku minta maaf sudah menjadi penghancur hubungan mbak dengan kak Martin, kalau aku tau tidak mungkin aku mau menerima nya." ucap Starla.


Tifani terdiam. "Aku ingin mbak memaafkan kak Martin, aku mohon jangan memutuskan kak Martin hanya karena aku." ucap Starla.


Tifani tidak mengatakan apapun. "Kamu tidak perlu memohon maaf seperti ini Starla. Kamu tidak salah, jangan membuat saya juga jadi berfikir berlebihan." ucap Tifani.


Starla terdiam. "Tidak perlu mengkhawatirkan Saya. Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja sekarang." ucap Tifani.


Starla menatap Tifani dia langsung memeluk nya.


"Aku tau apa yang mbak rasakan, aku juga seorang perempuan. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk mbak." ucap Starla.


"Terimakasih Starla. Kamu perempuan yang baik. Tidak seharusnya Martin membuat hal seperti ini." ucap Tifani.


Tifani tidak bisa memeluk Starla karena tangan nya masih sakit.


Starla pun keluar.


"Starla..." Martin langsung berdiri di depan Starla ketika keluar dari kamar pasien.


"Kakak masuk lah ke dalam dan jaga mbak Tifani. Perempuan seperti mbak Tifani tidak akan datang dua kali. Jangan sampai kakak menyesal." ucap Starla.

__ADS_1


Dia menghampiri Diki dan pergi bersama.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Diki setelah sudah di dalam mobil.


__ADS_2