Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 15


__ADS_3

Dia mengambil foto dan mengirim kan kepada Starla.


Starla yang sedang asik berbalas pesan dengan Martin melihat pesan dari Diki.


"Astagfirullah!" dia kaget karena melihat Diki bertelanjang dada.


"Apa yang kamu kirim? Dasar cabul!" balas Starla.


"Apa kamu tidak melihat lengan saya yang berbekas cubitan itu? Mata kamu selalu melihat hal yang aneh." ucap Diki.


Starla membaca itu langsung mengumpat.


"Huff lagian gak kelihatan, hanya seperti ini saja lebay banget." ucap Starla dalam hati.


"Tapi kenapa bisa sampai seperti ini sih?" ucap nya bingung sendiri.


Diki melihat pesan nya tidak di balas dia langsung turun ke bawah.


Dia melihat Martin masih di ruang tamu bekerja dengan laptop nya.


Berjalan ke arah dapur karena lapar.


Dia membuka tudung nasi tidak ada yang bisa di makan dia memasak mie instan agar lebih cepat.


Setelah selesai makan dia duduk di balkon rumah nya sambil bermain game tidak lupa dengan rokok di tangan nya.


"Kenapa kamu masih merokok?" tanya Martin mengambil rokok Diki dan mematikan nya. Diki menghela nafas panjang melihat ke arah Martin.


"Apa-apaan sih kak!?" ucap nya dengan sangat kesal.


"Kakak sudah bilang jangan merokok! Kakak tidak suka." ucap Martin.


"Urus saja urusan kakak sendiri!" ucap Diki langsung pergi.


"Diki! Diki! Kamu tidak bisa di bilangin yah." ucap Martin.


Diki tidak perduli sama sekali.


Keesokan harinya di pagi hari yang cerah Martin membuka handphone nya di saat baru bangun. Dia tersenyum melihat pesan masuk dari Starla beberapa menit yang lalu.


"Selamat pagi kak, semoga hari kakak menyenangkan hari ini." ucap Starla.


"Pagi juga." balas Martin. Starla yang kebetulan lagi sarapan bersama Ibu nya melihat handphone nya yang bunyi-bunyi sambil senyum-senyum.


"Humm pasti lagi chatan sama Nak Martin kan?" tanya Ibunya. Starla tersenyum.


"Ya udah kalau begitu kamu berangkat gih, lihat deh itu mobil Diki sudah datang." ucap Ibu nya.


"Huff kenapa sih Diki harus datang menjemput ku, padahal aku bisa naik angkutan umum." ucap Starla.


"Sudah jangan lama-lama, kasian nak Diki menunggu kamu." ucap Bu Irma.


"Iyah Bu. Aku pamit dulu yah, assalamu'alaikum." dia pun pergi menyusul Diki ke dalam mobil.


"Aku sudah bilang jangan datang menjemput ku, kenapa kamu masih datang. Aku tidak mau tau hari ini aku akan ke sekolah sendiri." ucap Starla.


"Ingat yah, aku seperti ini karena kak Martin." ucap Diki.

__ADS_1


"Argh!! Nyebelin." ucap Starla akhirnya dia masuk ke dalam mobil Diki.


Diki melihat jam nya.


"Apa lagi yang kamu tunggu? Ayo kita pergi sebelum telat." ucap Starla.


"Kamu bawa makanan tidak? aku sangat lapar." ucap Diki.


"Aku tidak membawa makanan. Salah kamu sendiri tidak makan dulu." ucap Starla.


"Kamu sangat pelit sekali." ucap Diki.


Starla diam. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di sekolah.


"Loh ini aku gak mimpi melihat Diki datang bersama Starla?" ucap teman-teman satu kelas nya.


Starla melihat dan mendengar mereka mengatakan itu.


"Diki kok kamu mau sih menumpang kan dia ke mobil mu? Apa bau badan nya tidak membuat mobil mu busuk?" tanya Teman nya.


Diki menoleh ke arah Starla yang diam menunduk kan kepala nya.


"Aku di kasih hukuman sama kak Martin untuk menjemput dan mengantar kan dia beberapa hari ini, mau tidak mau aku harus melakukan nya." ucap Diki.


"Kan sudah aku bilang kamu akan sial kalau dekat-dekat dengan perempuan culun ini." ucap pacar Diki yang baru saja datang.


"Heh perempuan Culun! Jangan karena mentang-mentang kak Martin perduli kepada kamu jadi suka Hati!" ucap Laura.


"Kamu harus tau sebenarnya kak Martin tidak benar-benar perduli sama kamu." ucap Laura mendorong Starla.


"Sudah apa yang kamu lakukan di sana? Masuk kelas sana" ucap Laura.


Starla berjalan ke kelas nya.


"Starla!" panggil Hima.


"Iyah Hima." jawab Starla.


"Laura dengan Diki membuly kamu lagi yah? Apa yang mereka katakan kepada kamu? beri tau saja kepada kak Martin agar mereka di hukum." ucap Hima.


Starla menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu, mereka hanya berbicara biasa saja kok." ucap Starla.


"Kamu yakin? Aku melihat Laura mendorong kamu." ucap Hima.


"Sudah jangan membahas itu, ayo kita masuk ke kelas." ucap Starla.


Mereka masuk ke kelas.


Seperti biasa di jam pertama selesai Starla Duduk di kursi taman seperti biasa membaca buku atau membuka laptop nya sambil belajar.


"Nih untuk kamu." seseorang datang memberikan satu botol minuman untuk Starla.


Starla melihat Diki.


"Aku tidak haus." ucap Starla.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan memberikan nya kepada orang lain." ucap Diki.


"Humm." ucap Starla dengan cuek dan fokus kepada Buku nya.


Diki menghela nafas panjang karena tadi nya dia hanya mengancam saja.


"Kamu lagi baca Apa sih?" Diki menarik buku Starla.


Starla menghela nafas panjang.


"Dari pada kamu mengganggu kamu, sebaiknya kamu pergi bersama kekasih mu!" ucap Starla.


Diki menatap Starla.


"Kenapa sih kamu jadi perempuan kutu buku?" tanya Diki. Starla Mengambil buku nya dan pergi.


"Hei! Perempuan Culun!" panggil Diki. Starla tidak menjawab nya. Diki melihat ke sekitar nya terlebih dahulu.


"Starla! Tunggu dulu." ucap Diki Menahan tangan Starla.


"Ada apa lagi sih?" tanya Starla.


"Kamu jangan marah-marah dulu, aku mau ngajakin kamu makan siang." ucap Diki.


Starla Menatap Diki.


"Kamu mimpi apa ngajakin aku makan siang? Kenapa kamu tidak pergi saja dengan pacar mu itu?" tanya Starla.


Diki menghela nafas panjang.


"Dia lagi pergi sama teman-teman nya, teman-teman ku masih ada urusan nya, aku tidak memiliki teman untuk makan." ucap Diki.


Starla menggeleng kan kepala.


"Aku tidak mau, aku masih ada urusan." ucap Starla.


"Tidak ada Penolakan." ucap Diki menarik tangan Starla dan keluar langsung dari Kampus.


"Diki lepas kan aku!" ucap Starla.


"Tidak akan!" ucap Diki.


Mereka masuk ke dalam mobil.


"Kenapa makan nya di luar? Kenapa tidak di kantin saja?" tanya Starla.


Diki hanya diam saja, tidak beberapa lama sampai di cafe yang tidak jauh dari Dari kampus mereka.


Diki dan Starla masuk.


"Pesan saja apa yang kamu mau, aku yang akan membayar nya." ucap Diki.


"Tidak perlu, aku bisa membayar sendiri." ucap Starla. Diki menghela nafas panjang.


Mereka memesan tidak beberapa lama makanan nya datang.


Starla sangat senang karena itu termasuk makanan kesukaan nya yang sangat jarang dia makan. Dia tidak memiliki teman ke cafe itu, dia takut kalau bertemu orang yang tidak menyukai dia di sana.

__ADS_1


__ADS_2