Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 104


__ADS_3

"Saya dengan dia sudah putus, kalau kamu mau memiliki dia silahkan, saya tidak akan melarang atau keberatan."


"Saya mohon mbak jangan, saya akan merasa bersalah kalau kalian putus." ucap Jihan.


"Enggak kok. Kamu tidak salah, kami yang sudah tidak cocok lagi." ucap Starla. Jihan diam, dia tidak tau harus mengatakan apa lagi.


Sebaiknya kamu kembali kerja, aku juga mau pergi." ucap Starla. Jihan menatap nya dengan tatapan Merasa bersalah.


"Kamu tidak perlu kefikiran seperti itu, saya tau kok rasanya jadi kamu, cinta hanya bertepuk sebelah tangan itu rasanya pasti sangat menyakitkan." ucap Starla.


Jihan diam saja, "Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu yah." ucap Starla.


Starla meninggalkan Cafe. Dia tidak pulang ke rumah nya melainkan menuju ke apartemen Diki, dia Tidak akan menyerah mencari Diki.


Tidak beberapa lama akhirnya Sampai dia mengetuk pintu apartemen Diki karena dia lupa membawa Kartu milik nya.


"Diki aku tau kamu pasti di dalam, buka pintu nya." ucap Starla. Tidak ada jawaban sama sekali.


"Starla aku di sini, apa yang kamu cari sampai membawa kamu jauh ke sini?" tanya Diki.


"Aku ke sini ada urusan penting sama kamu." ucap Starla.


Diki melihat wajah Starla yang sangat serius dan menatap nya dengan tatapan tajam.


"Katakan saja ada apa?" tanya Diki.


"Apa maksud kamu mengirimkan kue kepada ibu?!" ucap Starla. Diki terdiam..Dia pikir tidak akan ada yang tau kalau itu adalah diri nya dia langsung berusaha menjelaskan kepada Starla.


"Aku minta maaf karena tidak ijin sama kamu, aku minta maaf." ucap Diki.


"Aku tidak ingin kamu mengirimkan kue ke rumah lagi..Aku tidak tau apa yang sudah kamu masukkan kedalam." ucap Starla.


Diki menggeleng kan kepala nya.


"Aku tidak mungkin Melakukan hal seperti itu, aku minta maaf." ucap Diki.


" Aku tidak bisa percaya lagi dengan kalian, aku sudah sangat kecewa dan aku dan ibu tidak ingin berhubungan apa pun dengan kamu maupun kakak kamu." ucap Starla.


Diki tidak bisa mengatakan apapun dia hanya diam memasang wajah datar.


"Aku akan pergi, sekali lagi aku ingat kan sama kamu jangan pernah mengirim kan apapun ke rumah." ucap Starla.


"Satu lagi jangan pernah menunjukkan wajah kepada ibu." ucap Starla dan langsung pergi.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau." ucap Diki.


Starla meninggalkan apartemen Diki.


Dia tidak bisa melupakan wajah sedih Diki karena sifat Starla kepada nya.

__ADS_1


Starla menghela nafas panjang.


"Apa yang kamu lakukan nak?" tanya Ibu nya baru saja keluar dari kamar dan Starla baru saja sampai.


"Ibu Sudah bangun? Kenapa bangun?" tanya Starla.


"Kamu dari mana nak? Kenapa kamu meninggalkan ibu sendiri di rumah, ibu sangat takut sendirian dia rumah." ucap ibu nya.


"Aku mencari makanan Bu, ini untuk ibu." ucap Starla. Ibu nya tersenyum.


"Kamu gak ketemu sama pembunuh itu kan? Kamu gak ketemu mereka kan?" tanya Ibu nya.


"Enggak kok Bu, sudah jangan membahas itu, ayo kita makan." ucap Starla. Setelah mengurus ibu nya dia pun langsung masuk ke kamar nya.


Dia mandi dan tidak lupa untuk sholat juga.


Starla duduk dipinggir kasur. Dia membuka handphone nya membalas pesan beberapa dari Hima.


Setelah selesai dia langsung berbaring di tempat tidur.


"Aku harap aku bisa tidur tanpa memikirkan semua yang sudah terjadi, aku sudah muak dengan semua ini." ucap Starla. Dia berbaring di tempat tidur sambil menutup mata nya.


Namun sudah satu jam namun mata nya juga tidak kunjung bisa tidur.


"Aaarrggghhh!!!! Setiap malam aku bergadang karena memikirkan ini." ucap Starla.


Sementara Diki sekarang masih di Cafe. "Apa kamu tidak mau menyampaikan kalau tadi Starla datang ke sini?" tanya Teman nya kepada teman nya yang lain.


"Tapi.."


"Ya sudah deh kalau kalian tidak berani biar aku saja." ucap teman Diki.


Dia berjalan ke arah Diki.


"Ki apa yang kamu pikirkan sampai melamun seperti itu?" tanya teman nya.


Diki menoleh ke arah teman nya.


"Tidak ada." jawab Diki.


"Seperti nya kamu memiliki masalah, wajah mu terlihat sangat suram." ucap teman nya.


Diki diam. "Sudah tidak apa-apa kalau tidak di jawab. Aku mau ngasih tau kalau tadi Starla datang ke sini."


"Iyah aku tau kok."


"Kamu dengan Starla ada masalah?"


Diki menggeleng kan kepala nya.

__ADS_1


"Enggak kok, ya udah kalau begitu aku lanjut bekerja dulu." Diki seperti nya lagi malas bercerita akhirnya teman nya hanya bisa diam dan menghela nafas panjang.


Jam satu malam Diki baru saja sampai di apartemen nya, tidak melakukan bersih-bersih badan dia langsung berbaring ke tempat tidur.


"Kalau Starla sudah tidak ada di hidup ku, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, aku bahkan tidak memiliki semangat lagi." ucap Diki.


Keesokan harinya.


"Tok!! Tok!! Ketukan pintu apartemen membuat Diki bangun. Dia membuka pintu.


"Kak Martin. Kenapa kakak bisa di sini pagi-pagi?" tanya Diki.


"Kakak datang ke sini mau melihat keadaan kamu." ucap Martin. "Silahkan masuk." ucap Diki.. Martin masuk dia duduk di sofa menunggu Diki mandi dan membuat teh.


"Kakak ke sini karena mendengar dari orang-orang kamu keluar dari universitas." ucap kakak nya.


"Aku tidak mau membahas itu kak." ucap Diki.


Martin menghela nafas panjang.


"Jangan karena masalah seperti ini kamu jadi patah semangat." ucap Martin.


"Iyah kak, bagaimana dengan Skripsi kakak?" tanya Diki.. Untuk pertama kali nya Diki menanya kan tentang kakak nya itu.


"Sudah selesai, kakak tinggal menunggu wisuda." ucap Martin.


"Bagus deh kalau begitu. Selamat untuk kakak." ucap Diki.. Martin tersenyum.


"Hubungan kamu dengan Starla belum membaik?" tanya Martin.


Diki menggeleng kan kepala nya.


"Semakin buruk kak, aku juga sudah tidak bisa mengharap kan Starla karena kami sudah putus dan Starla tidak mau bertemu dengan aku lagi." ucap Diki.


"Kakak minta maaf, kakak minta maaf karena semua ini karena kakak." ucap Martin.


Diki menggeleng kan kepala nya. "Sudah kak tidak perlu membahas itu lagi." ucap Diki.


"Baiklah kakak tidak akan membahas nya."


Diki diam menunduk. Martin melihat nya sangat iba.


Martin juga diam merenung dengan kehidupan nya.


Kedua nya sama-sama diam memikirkan masalah nya masing-masing.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka tertidur di tempat duduk masing-masing. Ruangan sangat senyap jadi mendukung untuk tidur bagi mereka yang kurang tidur.


Sementara di kampus Starla duduk bersama Hima di kantin.

__ADS_1


"Jadi sangat sepi yah rasanya kalau Diki tidak ikut bergabung." Batin Hima.


__ADS_2