
Sementara di tempat lain Martin dan Starla duduk di pinggir Danau yang sangat nyaman dan lampu yang cantik menambah tempat itu sangat indah.
"Starla kamu belum menjawab pertanyaan saya? Apakah kamu mencintai saya?" tanya Martin. Starla Menatap wajah Martin.
"Aku belum yakin, hanya saja aku senang ketika bersama kakak, aku sangat bahagia. Setelah bertemu dengan kakak aku merasa tidak sendirian lagi dan kakak selalu melindungi aku." ucap Starla.
Martin menatap wajah Starla. "Kalau kamu belum yakin dengan perasaan kamu, saya akan membuat kamu yakin." ucap Martin.
Starla terdiam. Martin memegang tangan Starla menggenggam nya.
Namun tiba-tiba Starla melepaskan nya. "Kak aku belum yakin, aku masih memikirkan banyak hal." ucap Starla.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Martin. "Aku tetap saja tidak yakin dengan memutuskan berpacaran dengan Kakak." ucap Starla.
Martin menghela nafas panjang.
"Apa kamu takut dengan tanggapan orang lain?" tanya Martin. Starla mengangguk.
"Saya akan menjamin kalau tidak ada satu pun orang yang berani mengusik atau mengganggu kamu lagi." ucap Martin.
Starla menatap wajah Martin. "Ada apa sih dengan aku? Sebelum kak Martin mengungkapkan perasaan nya aku merasa sangat menyukai nya aku ingin menjadi pacar nya namun sekarang kenapa aku merasa tidak nyaman seperti ini?" batin Starla.
"Baiklah aku akan segera memberi kakak jawaban nya, tapi kasih aku waktu kak. Aku tidak ingin terburu-buru." ucap Starla.
Martin tersenyum dia mengelus pipi Starla. "Baiklah." ucap Martin.
Setelah selesai minum mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum Terlalu larut.
"Sebaik nya kakak langsung Pulang saja. Kakak sudah lelah dan segera lah istirahat." ucap Starla. Martin mengangguk.
"Nanti aku akan ngomong sama ibu, Kaka tidak perlu khawatir, hati-hati di jalan." ucap Starla.
Setelah Martin pergi Starla terdiam sejenak.
"Kamu dari mana saja jam segini baru pulang?" tanya Diki yang ternyata baru saja mau pulang.
"Diki! kamu membuat aku terkejut." ucap Starla.
"Kamu lagi melamun tentang apa?" tanya Diki.
"Dasar kepo deh! Kenapa kamu masih di sini?" tanya Starla.
"Aku baru saja mau pergi." ucap Diki
"Humm tunggu dulu.." Ucap Starla. Riski berhenti dia menoleh ke arah Starla.
"Iyah ada apa?" tanya Diki.
__ADS_1
"Makasih yah hari ini kamu membantu ibu dan aku." ucap Starla. Diki tersenyum.
"Apa aku tidak salah lihat? Diki tersenyum?" ucap nya dalam hati.
Riski meninggalkan Starla.
Keesokan harinya...
"Makasih yah kak sudah mengantarkan aku ke kampus." ucap Starla kepada Martin. Martin tersenyum.
"Ya udah kalau begitu aku ke kelas duluan yah kak." ucap Starla. Martin tersenyum.
Sampai di kelas Hima sudah menunggu Starla.
"Starla!" panggil Hima. Starla menghampiri Hima.
"Nih untuk kamu." ucap Hima memberikan buku.
"Loh ini kan buku yang kemarin di pinjam oleh Diki. Kok ada di kamu?" tanya Starla.
"Diki memberikan nya kepada ku." ucap Hima.
"Kelihatan nya akhir-akhir ini kalian sudah sangat dekat yah." ucap Hima.
Starla mengangguk.
"Aku juga Heran kenapa tiba-tiba Diki menjadi baik seperti itu." ucap Starla.
"Apa sekarang dia ada di perpustakaan?" tanya Starla.
Hima mengangguk.
"Ekhem-ekhem.." Starla sudah tiba di perpustakaan dan melihat Diki yang sangat fokus membaca buku.
Diki menoleh ke arah Starla.
"Sebentar lagi kelas mulai, kenapa kamu masih di sini?" tanya Starla.
"Aku mencari buku yang aku perlukan, kamu sendiri kenapa bisa di sini?" tanya Diki.
"Justru aku yang harus bertanya seperti itu kepada kamu. Apakah kamu lupa kalau tempat satu-satunya yang sering aku kunjungi ketika selesai di bully?" ucap Starla.
Diki langsung diam. "Aku tidak pernah melihat kamu sebelum nya di sini, namun beberapa hari ini aku sering melihat kamu masuk ke sini." ucap Starla.
"Oh iya aku lupa dulu juga kamu setiap hari masuk ke sini hanya ingin mengganggu aku." ucap Starla.
"Saya sudah minta maaf kepada kamu, kenapa kamu masih membahas itu?" tanya Diki.
__ADS_1
"Humm aku hanya merasa asing saja ketika sudah tidak ada yang mengejek, mengganggu dan mengerjai ku setiap hari." ucap Starla.
"Apa kamu mau seperti itu selama nya?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak menginginkan seperti itu lagi, aku hanya ingin semua nya baik-baik saja, aku ingin kamu berteman dengan aku." ucap Starla.
"Cihh apa kamu masih mau berteman dengan orang yang sudah membuly kamu bertahun-tahun?" ucap Diki.
Starla menghela nafas panjang.
"Baiklah aku paham, kamu pasti tidak mau berteman dengan perempuan culun dan kutu buku seperti ku kan?" ucap Starla.
"Jujur saja aku akui kalau kamu sudah banyak berubah. Penampilan kamu sudah berubah dan kamu sudah mulai banyak berteman dan kamu tidak sering menyendiri lagi. Tidak akan ada lagi yang bilang kamu perempuan culun dan kutu Buku." ucap Diki.
"Kak Martin banyak mengajar kan aku hal yang baik, dia juga yang mendampingi aku sampai jadi percaya diri seperti sekarang ini." ucap Starla.
Diki terdiam. "Kelas sudah mau di mulai, aku keluar dulu yah." ucap Starla.
Tidak beberapa lama akhirnya Diki menyusul ke kelas.
Kuliah selesai. Semua mahasiswa keluar dari kelas.
"Kak Martin." ucap Starla karena Martin menunggu di depan kelas.
Martin tersenyum. Kebetulan Diki di belakang Hima dan Starla. "Kenapa kakak di sini?" tanya Starla.
"Saya mau ngajak kamu makan." ucap Martin.
Starla menoleh ke arah Hima. "Ya udah kalau begitu aku pergi duluan yah Starla. Permisi kak Martin." Hima langsung pergi.
"Sayang ayo Ke Kantin, aku sudah sangat lapar." ucap Laura langsung menarik tangan Diki meninggalkan Starla dan Martin.
"Ayo." ajak Martin. Starla mengangguk.
Sepulang Kuliah Starla langsung ke kamar nya dia melihat ponsel nya sebelum menukar baju nya.
"Saya mau mengajak kamu makan malam dengan ibu kamu di luar malam ini." pesan dari Martin.
Starla tersenyum.
"Baiklah kak, aku akan berbicara kepada Ibu nanti." ucap Starla. Martin tersenyum.
"Diki apa kamu malam ini ada acara?" tanya Martin pada Diki yang sedang Di taman belakang mencuci motor nya.
"Aku ada janji dengan teman ku malam ini." ucap Diki.
"Kamu mau main motor lagi?" tanya Martin.
__ADS_1
"Bukan urusan kakak!" ucap Diki.
"Tentu tentang kamu urusan kakak, kamu tidak kapok jatuh dari motor? Bagaimana kalau kamu kecelakaan lagi?" tanya Martin.