
"Aku sangat trauma berkendara di jalan raya." ucap Tifani.
"Kalau kamu masih trauma jangan berkendara dulu." ucap Diki.. Tifani mengangguk.
"Kalau begitu terimakasih banyak yah sudah membantu mengurus dari rumah sakit, sekarang aku mau ke makam om dan Tante." ucap Tifani.
"Aku akan mengantar kan kamu." ucap Diki.. Tifani terdiam sejenak.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri kok."
"Aku juga ingin berjiarah." ucap Diki.. Senyuman Tifani seketika langsung muncul mendengar Diki.
"Kamu seriusan?" tanya Tifani.
"Aku sudah ikhlas, mau tidak mau aku harus menerima nya." ucap Diki.. Tifani tersenyum.
"Baiklah ayo kita berangkat, jangan lupa mampir di toko bunga, aku ingin membeli bunga yang banyak." ucap Tifani sangat bersemangat. Melihat Tifani bersemangat Diki juga bersemangat.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai.
"Diki..." Ucap Starla kaget melihat kekasih nya di sana. Diki melihat ke arah Starla dan juga Bu Irma.
"Kamu kok bisa di sin?" tanya Diki.
"Aku mau jiarah ke sini, kamu sendiri ngapain?" tanya Starla melihat Tifani.
"Mau jiarah juga." ucap Diki.
"Orang tua kamu makam nya di sini juga?" tanya Starla. Diki mengangguk.
"Loh kok bisa samaan gitu?" tanya Starla.
"Ya udah kalau begitu ayo kita bersama masuk ke dalam. Semakin ramai semakin menyenangkan." ucap Bu Irma.
"Mbak sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Starla kepada Tifani.
Tifani tersenyum sambil mengangguk. "Iyah Starla." ucap Tifani.
Starla merangkul tangan Tifani dia membantu Tifani berjalan karena Tifani belum bisa berjalan dengan baik.
"Aku tidak tau makam mamah sama Papah." ucap Diki kepada Tifani. Setelah sampai di makam Orang tua Starla.
Tifani tersenyum dia mengelus punggung Diki.
"Tidak apa-apa, wajar kamu tidak tau, kamu tidak pernah datang ke sini." ucap Tifani.
"Kalau boleh tau di mana?" tanya Diki.
"Kamu sudah di samping mereka." ucap Tifani.
Diki melihat ke sekitar nya.
Namun Tampa dia sadari ternyata tepat di samping makam ayahnya Starla.
__ADS_1
Mereka cukup terkejut sekali.
"Tante.. Om.. Apa kalian bisa melihat Diki sudah berani datang ke sini." ucap Tifani.
"Aku minta maaf yah Om semua yang terjadi, aku minta maaf tidak bisa menjaga amanah dari kalian." ucap Tifani.
"Ayah... Aku datang ke sini karena merindukan Ayah..Aku minta doa ayah untuk aku dengan Ibu di sini."
Diki melihat ke arah Starla. Begitu juga dengan Starla melihat ke arah Diki.
"Apa Mamah dan papah melihat perempuan yang di sana? Dia sangat mirip sekali dengan Mamah.. Sangat baik, sabar dan juga lembut. Aku berharap aku dengan dia selalu bersama." batin Diki.
"Ayah.. Aku berjanji akan terus menjaga Ibu, aku akan membanggakan ayah dan ibu." ucap Starla.
Diki menangis di depan makam orang tua nya untuk pertama kalinya.
Tifani tersenyum melihat Diki.
"Sudah nak Diki jangan menangis lagi nak, kita harus banyak berdoa, ayo berdoa sama-sama." ucap Bu Irma.
Setelah selesai berjiarah mereka pun pulang.
"Mbak yakin mau langsung pulang? Kenapa mbak tidak tinggal di sini dulu?" tanya Starla.
"Kalau mau kamu bisa tinggal di rumah kami." ucap Starla.
"Tidak apa-apa. Lagian sebentar lagi Saya harus kembali bekerja." ucap Tifani.
"Keadaan Kamu seperti nya belum sembuh total Tifani." ucap Diki.
Namun Tifani harus kembali.
"Ya udah deh kalau mbak tidak mau, aku juga tidak bisa memaksa nya." ucap Starla.
"Ayo anak-anak pulang." ucap Bu Irma yang sudah menunggu di dalam mobil Diki.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Ayo makan dulu, siapapun yang datang ke sini harus mencicipi sup ibu." ucap Bu Irma.
"Oh iya Sup ini juga bisa membuat orang sakit bisa sembuh." ucap Bu Irma.
"Loh aku baru denger Bu, sakit apa?" tanya Starla.
"Sakit perut karena kelaparan. Jadi kalau makan ini mereka pasti sembuh karena sudah kenyang." ucap Bu Irma.
Tifani dan Diki tertawa, sementara Starla merasa di ledek.
Mereka makan bersama. "Humm masakan ibu sangat enak sekali, pantesan saja sangat ramai." ucap Tifani.
"Alhamdulillah, kalau enak tambah." ucap Bu Irma.
__ADS_1
Selesai makan Tifani langsung di jemput oleh supir.
"Apakah kamu yakin mau pulang ke kota kamu Tifani?" tanya Diki lagi.
Tifani menoleh ke arah Diki dan Tifani yang mengantarkan nya ke dalam mobil.
"Aku juga tidak tau, tapi aku tetap harus pulang." ucap Tifani.
"Lalu bagaimana dengan orang tua kamu? apa mereka sudah tau tentang hubungan kamu dengan kak Martin bagaimana?" tanya Diki. Tifani menggeleng kan kepala nya.
"Mereka belum tau." ucap Tifani. Diki menghela nafas panjang.
"Sebaiknya kamu menyelesaikan nya dengan kak Martin terlebih dahulu, setelah itu kak Martin akan berbicara kepada orang tua kamu." ucap Diki.
"Kamu benar juga, baik lah aku akan tinggal beberapa hari lagi." ucap Tifani.
"Kamu tinggal di rumah ku saja." ucap Diki.. Tifani menggeleng kan kepala nya.
"Tifani... bagaimana kalau orang tua kamu tau kalau kamu tidak tinggal di rumah? Mereka pasti sangat marah." ucap Diki.
Tifani tidak bisa menolak. "Baiklah." ucap Tifani.
"Sayang aku pulang dulu yah nganterin Tifani." ucap Diki.
Starla mengangguk. "Hati-hati yah." ucap Starla.
Diki mengangguk. Mereka pun pergi.
Starla terdiam sejenak.
"Ya Allah Diki semakin ke sini semakin banyak berubah deh, aku senang melihat nya namun aku juga cemburu karena dia sangat perduli kepada perempuan lain." batin Starla.
Keesokan harinya Starla dan Diki bertemu di kampus.
"Ini untuk kamu." ucap Diki memberikan makanan kepada Starla yang duduk termenung di taman.
"Untuk apa? aku baru saja makan dari kantin."
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah tidak apa-apa Buang saja." ucap Diki.
Starla menahan nya.
"Sudah beberapa hari kita tidak berkomunikasi seperti biasa nya, bahkan bertemu hanya sesekali saja." ucap Diki.
"Lalu?"
"Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Tidak mungkin kamu tidak merindukan aku." ucap Diki.
"Aku sangat sibuk, tidak sempat untuk merindukan kamu." ucap Starla.
"Kamu jangan marah yah kalau aku terlalu dekat dengan Tifani. Tifani sudah seperti kakak ku sendiri." ucap Diki seakan tau apa yang sedang di pikirkan Starla.
__ADS_1
"Kamu tau kan Tifani seperti ini karena kak Martin, dia adalah seorang perempuan. Aku tau dia sangat mencintai kak Martin pasti sangat sulit bagi nya kalau menghadapi nya sendiri an." ucap Diki.
"Tapi tetap saja aku merasa di asing kan." ucap Starla sambil memasang wajah sedih.