
"Tidak mungkin. Aku tidak percaya." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Kamu bisa tanyakan sendiri kepada dia, aku bukan pacar nya dan dia bukan pacar ku."
"Aku tetap tidak percaya, kalian sangat dekat. Sangat romantis dan aku pernah melihat kalian minum berdua di salah satu Cafe." ucap Starla.
Diki tersenyum. "Jangan-jangan kamu mengikuti aku yah? kamu sengaja mengikuti aku karena kamu cemburu kan?" tanya Diki.
"Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu sama sekali." ucap Starla.
"Huff apa kata-kata mu bisa aku percaya kalau wajah mu berkata jujur?" ucap Diki. "Aku tidak cemburu. Ngapain aku cemburu. sudah lah aku ngantuk aku sudah lelah melihat kamu satu harian, sebaiknya aku tidur saja." ucap Starla langsung masuk ke dalam tenda.
Diki yang melihat itu hanya bisa senyum-senyum sendiri.
Dia juga masuk ke dalam. "Tidur lah, ingat jangan macem-macem!" ucap Starla.
Keesokan harinya...
Di sore hari mereka baru saja sampai di kota.
"Akhirnya kita sampai juga, ayo semua nya turun " ucap Diki.
Semua nya sudah turun. Diki melihat anggota nya ada yang kurang.
"Loh Starla mana? Kok gak ada?" tanya Diki.
"Tadi ke arah sana, seperti nya dia menelpon seseorang." ucap Teman Diki.
Diki melihat Starla sudah datang. "Maaf yah aku pergi tampa ijin, aku menjawab telpon." ucap Starla.
"Ya udah kalau begitu kita kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat yah." ucap Diki.
"Kamu pulang pakai apa Starla?" tanya Hima.
"Aku naik Taksi saja." ucap Starla.
"Barengan sama kami aja yah." ucap Hima.
"Tidak perlu, kebetulan aku mau bertemu dengan Bu Irma biar saja dia dengan aku." ucap Diki.
"Gak usah, kamu antar Cici saja pulang." ucap Starla.
"Kamu tidak melihat jemputan nya sudah ada di sana?" tanya Diki menunjuk mobil mewah yang menunggu nya.
Cici tersenyum. "Ya udah kalau begitu aku pulang duluan yah teman-teman. Sekali lagi aku sangat berterimakasih bisa ikut bergabung di perjalanan yang menyenangkan ini." ucap Cici.
"Sama-sama, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi." ucap Teman laki-laki Diki.
Cici tersenyum. Diki membantu mengantarkan barang-barang Cici ke dalam mobil.
__ADS_1
"Oh iya Ci makasih yah sudah mau ikut." ucap Diki.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Starla? apa sudah ada kemajuan?" tanya Cici.
"Humm tidak ada sih, hanya saja aku jadi memiliki waktu bersama dia. Seperti itu saja sudah cukup bagi ku." ucap Diki.
"Tapi aku bisa lihat kok sebenarnya Rencana kita berhasil." ucap Cici.
"Maksudnya?"
"Iyah. Aku bisa lihat kalau Starla cemburu kepada ku. Setiap kali kamu dekat kepada ku, dia langsung memasang wajah marah." ucap Cici.
"Aku tidak melihat nya. Hanya saja dia berfikir kalau kamu itu adalah pacar ku." ucap Diki.
"Berarti dia cemburu Diki, apa kamu tidak mengerti? Sudah jelas kita bilang teman namun dia tetap berfikir aku pacar kamu."
"Huff apa sih yang mereka bicarakan? Aku sudah sangat lelah." ucap Starla yang menunggu di samping mobil Diki.
"Ya udah deh kalau begitu aku pulang dulu yah, lihat tuh apa kamu tidak sadar kalau sekarang dia pasti cemburu melihat kita berdua?" ucap Cici.
Diki melihat ke arah Starla.
"Ya udah kamu hati-hati yah." ucap Diki.
"Berikan aku pelukan." ucap Cici merentangkan kedua tangan nya.
"Kamu serius?" tanya Diki. Cici langsung memeluk Diki.
Setelah beberapa lama akhirnya Diki kembali ke mobil.
"Maaf yah sudah membuat kamu lama menunggu, kalau begitu ayo kita pulang." ucap Diki.
"Kalau kamu mau membuat aku menunggu lama seperti ini seharusnya kamu tidak perlu menawarkan diri untuk mengantarkan aku!" ucap Starla.
"Aku minta maaf. Aku berbicara dengan Cici Dulu."
"Membicarakan soal ap? hampir satu jam kalian berbicara di sana." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang.
"Jangan marah-marah. Kamu pasti sudah sangat lelah sebaiknya masuk ke dalam mobil." ucap Diki.
Starla masuk ke dalam mobil.. Tidak ada percakapan di dalam mobil akhirnya sampai juga.
"Aku sudah sangat merindukan Ibu." Dia keluar dari mobil. Dan ternyata Martin ada di sana.
"Loh kok kakak di sini? Bukan nya kakak ada kerjaan di luar kota?" tanya Starla.
Martin merentangkan tangan nya.
__ADS_1
Starla memeluk nya sebentar dan langsung melepaskan nya.
"Saya menunda keberangkatan saya, saya sangat merindukan kamu." ucap Martin.
"Kita baru tidak bertemu dua hari." ucap Starla.
"Tetap saja saya sangat merindukan kamu."
"Bukan hanya nak Martin yang merindukan kamu, tapi Ibu juga." ucap Bu Irma.
Starla langsung memeluk ibu nya. Sementara Diki langsung menyalim tangan Bu Irma.
"Apa perjalanan kalian menyenangkan? Ibu sangat senang kalian pulang dengan keadaan selamat dan sehat." ucap Bu Irma.
"Huff ibu terlalu berlebihan. Aku sudah mengusahakan mencari jaringan untuk menghubungi ibu. Aku juga sudah bilang kalau aku baik-baik saja." ucap Starla.
Bu Irma tersenyum.
"Ya udah kalau begitu ayo kita masuk." ucap Bu Irma.
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu yah Bu." ucap Diki.
"Kok langsung pulang sih? Ayo masuk dulu. Tadi ibu sama nak Martin sudah menyediakan makanan untuk Kalian." ucap Bu Irma.
Setelah selesai makan Diki tidak tahan lama-lama di sana ke ada Martin.
Baru sampai di rumah Diki kaget melihat mobil yang tidak asing terparkir di depan rumah nya.
"Loh mobil ini kan..."
"Diki... Akhirnya kamu datang juga, sekarang kamu harus kasih tau kakak kamu ada di Mana." ucap perempuan yang berpakaian seksi menghampiri nya.
"Ada apa mencari Kak Martin?" tanya Diki.
"Kamu masih nanya? Aku ini pacar nya ya wajar lah aku mencari dia." ucap Perempuan itu.
"Aku tidak tau, aku tidak melihat nya sebaiknya cari saja sendiri." ucap Diki langsung masuk meninggalkan perempuan itu.
"Diki! Diki kamu tidak mungkin tidak tau di mana Martin." ucap Perempuan itu mengikuti Diki masuk.
"Aku tidak tau." ucap Diki.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di sini sampai Martin datang. Dia benar-benar sangat jahat. Dia mengabaikan ku beberapa bulan ini." ucap Perempuan itu.
Di malam hari nya Martin baru saja Pulang dia melihat mobil putih yang tidak asing dan juga dia melihat Diki yang tidak biasa nya duduk di teras rumah.
"Kenapa kamu duduk di sini? Apa kamu tidak kedinginan?" tanya Martin.
"Sebaiknya Kakak masuk saja dan lihat siapa yang membuat aku duduk di luar!" ucap Diki.
__ADS_1
Martin penasaran dia langsung masuk ke dalam.