Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 64


__ADS_3

Starla menatap Tifani dia langsung memeluk nya.


"Aku tau apa yang mbak rasakan, aku juga seorang perempuan. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk mbak." ucap Starla.


"Terimakasih Starla. Kamu perempuan yang baik. Tidak seharusnya Martin membuat hal seperti ini." ucap Tifani.


Tifani tidak bisa memeluk Starla karena tangan nya masih sakit.


Starla pun keluar.


"Starla..." Martin langsung berdiri di depan Starla ketika keluar dari kamar pasien.


"Kakak masuk lah ke dalam dan jaga mbak Tifani. Perempuan seperti mbak Tifani tidak akan datang dua kali. Jangan sampai kakak menyesal." ucap Starla.


Dia menghampiri Diki dan pergi bersama.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Diki setelah sudah di dalam mobil.


Starla menghela nafas dia menoleh ke arah Diki. Diki mengerti Starla pasti masih gugup dia pun memeluk nya.


"Tidak apa-apa aku ada di sini." ucap Diki mengelus kepala Starla. Starla hanya bisa nyaman dengan pelukan tulus dari Diki.


Pelukan laki-laki yang mencintai dia seperti ayahnya. Dan Starla bisa merasakan kenyamanan yang selama ini dia ingin kan pada Diki.


"Ya udah kalau begitu kita langsung pulang yah, takut ibu menunggu." ucap Diki.


"Ini masih siang bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?" tanya Starla.


Diki melihat jam "baiklah. Kamu mau kemana?" tanya Diki.


"Berenang." ucap Starla.


"Hah?" Diki kaget dengan permintaan pacar nya itu.


"Aku sudah lama tidak berenang. Aku ingin pergi berenang." ucap Starla.


"Ke tempat lain saja yah." ucap Diki.


"Gak mau, aku mau berenang." ucap Starla memaksa sampai memasang wajah cemberut dan melipat kedua tangan nya di dada.


Melihat itu Diki tidak kuat dia sangat gemas dengan Starla.


"Ya sudah kalau begitu." ucap Diki.


Sesampainya di kolam renang Starla sangat senang sekali.


"Setau aku kamu tidak pandai berenang, apa kamu yakin?" tanya Diki. "Ssttt!!! Jangan kuat-kuat ngomong nya nanti kalau ada yang dengar aku malu." ucap Starla.

__ADS_1


Diki tersenyum.


"Ya udah kalau begitu kamu di kolam yang tidak terlalu dalam yah, jangan ke kolam dewasa." ucap Diki.


"Kamu jangan gitu ih, aku bisa tau di kolam yang dewasa." ucap Starla. "Jangan... Di sana sangat dalam bagaimana kalau kamu tenggelam?" tanya Diki khawatir.


"Kan ada kamu, untuk apa aku punya pacar yang pandai berenang kalau tidak bisa menjaga pacar nya." ucap Starla menarik Diki.


"Tapi aku tidak ingin berenang." ucap Diki. "Jangan nolak! Kalau kamu nolak aku akan ngambek." ucap Starla.


Diki menghela nafas panjang akhirnya dia berenang dan mengawasi Starla yang belajar berenang.


Sesekali Diki menertawakan Starla yang beberapa kali kelelep dan batuk-batuk karena menelan air.


Mereka berdua istirahat sambil menikmati Minuman dan makanan.


"Oh iya kamu tau dari mana kalau aku tidak bisa berenang?" tanya Starla. "Apa sih yang tidak aku tau tentang kamu." ucap Diki.


"Oh iya aku lupa kalau kamu sering mencari kelemahan ku." ucap Starla. Diki langsung menutup mulut Starla.


"Berapa kali aku harus bilang jangan membahas ini." ucap Diki. Starla tertawa melihat wajah Diki. "Aku serius Starla.." ucap Diki.


"Iyah-iyah aku hanya bercanda saja. Lagian kamu sih membuat aku malu." ucap Starla. Diki bersandar di pundak Starla.


"Saya sudah lelah, ayo kita pulang." ucap Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.


"Jangan dong." ucap Starla.


Tidak beberapa lama akhirnya Starla kelelahan, dia keluar dari kolam.


"Nih makan dulu." Diki sudah memesan makanan untuk Starla dan juga diri nya. Setelah selesai makan mereka memutuskan untuk kembali.


Di perjalanan Diki berbicara dengan Starla namun Starla tidak merespon sama sekali karena dia sangat mengantuk sekali.


"Ya udah kalau begitu kamu tidur saja, jangan di tahan." ucap Diki mengelus kepala Starla. Starla tersenyum.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Starla. Diki membangun kan Starla.


"Starla... bangun kita sudah sampai." ucap Diki namun Starla tidak merespon sama sekali.


"Ayo bangun Starla." ucap Diki.


Starla bergeliat dia membuka mata nya dan melihat Diki.


"Kita sudah sampai." ucap Diki.


"Aku masih ngantuk, jangan ganggu aku." ucap Starla.

__ADS_1


"Tapi kita sudah di rumah kamu, kamu lanjut tidur di dalam." ucap Diki.


Starla menggeleng kan kepala nya. "Di sini lebih nyaman dan dingin." ucap Starla.


"Kalau kamu tidak bangun aku akan mencium kamu di sini." ucap Diki.


Starla tidak merespon dia lanjut tidur, Diki mencium pipi Starla dia langsung bangun.


"Diki! Apa yang kamu lakukan? Nanti ada yang lihat." ucap Starla.


"Maka nya bangun." ucap Diki.


"Iyah-iyah aku bangun, kamu tidak bisa banget melihat aku tenang." ucap Starla.


Dia keluar dari mobil dengan keadaan kesal.


"Dasar perempuan. Suka nya ngambek mulu tapi gemas." ucap Diki.


Diki kembali ke rumah nya baru saja sampai di rumah dia kaget melihat Martin sudah di rumah menunggu nya.


Diki tidak mengatakan apapun dia mau melewati Martin namun di tahan oleh Martin.


"Kakak tidak akan membiarkan kamu memiliki Starla dengan mudah." ucap Martin. Diki Menatap kakak nya.


"Kakak dengan Starla sudah putus, sebaik nya kakak mengurus Tifani dengan baik. Lepaskan Starla dia jauh lebih bahagia bersama ku." ucap Diki.


Martin tersenyum Tipis mendengar Diki.


"Lebih bahagia? Apa kamu tidak sadar apa yang sudah kamu perbuat kepada Starla Selama ini? Kamu membuat nya menderita." ucap Martin.


Diki terdiam. "Apa kamu masih berfikir mengatakan kalau Starla lebih bahagia bersama mu?" ucap Martin.


"Starla orang yang tidak mampu, tidak memiliki ayah dan selama itu kamu membuat dia sedih, membuly dia habis-habisan dan sekarang mau berpacaran dengan nya? Kakak rasa itu sebuah lelucon." ucap Martin.


"Urus saja urusan kakak sendiri." ucap Diki.


"Tidak bisa! Starla tetap milik kakak dan sampai kapan pun tidak akan bisa bersama kamu." ucap Martin.


"Aku akan memperjuangkan Starla, aku tidak akan membiarkan dia jatuh ke tangan kakak walaupun aku harus kehilangan saudara ku." ucap Diki menepis tangan Martin dan pergi ke kantor nya.


"Tidak semudah itu." ucap Martin.


Diki melempar kan tas nya ke kasur.


"Aaarrggghhh!!!" Dia merasa kesal dan marah mendengar kakak nya itu.


Dia mengusap kepala dan wajah nya. "Kenapa aku harus melakukan itu dulu? Kenapa!?" ucap nya.

__ADS_1


"Apa itu adalah alasan aku dengan Starla tidak bisa bersama?" ucap Diki. "Apa benar kalau Starla menerima ku menjadi pacar nya hanya karena merasa Patah hati?" ucap Diki.


Semua kata-kata kakak nya tidak bisa dia lupakan. Mau bagaimana pun Martin juga mencintai Starla.


__ADS_2