
"Selesaikan urusan kakak, jangan mengganggu Starla." ucap Diki.
Martin terlihat sangat terpukul melihat Starla bersama Adik Nya.
Dia dan Tifani masuk ke dalam mobil, tidak ada percakapan di Antara keduanya.
Martin tidak bisa melupakan Starla. Baru setelah perjalanan Martin menoleh ke arah Tifani ternyata dia ketiduran.
Martin mengurangi kecepatan mobil nya. Sepanjang perjalanan Martin hanya fokus mendengar musik saja. Sampai Tifani bangun Martin tidak mengatakan apapun kepada dia.
"Aku sangat lapar." ucap Tifani. Martin menoleh ke arah Tifani.
"Kita sudah hampir sampai." ucap Martin. Namun tiba-tiba suara perut Tifani membuat nya tau kalau Tifani tidak bisa menahan dan akhirnya Berhenti di rumah makan.
Bahkan di meja makan tidak ada percakapan di Antara mereka berdua.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Tifani.
"Tifani kamu kenapa tidak bilang pulang hari ini nak?" tanya orang tua Tifani terlihat sangat kaget melihat kedatangan Tifani.
"Maafin aku mah, aku tidak mau merepotkan kalian. Selama aku kecelakaan dan di rumah sakit aku sudah banyak merepotkan kalian." ucap Tifani.
"Ya ampun nak."
"Terimakasih banyak yau Martin sudah mau mengantar kan Tifani ke sini, walaupun sangat jauh." ucap papah Tifani.
Mereka sangat sayang sama Tifani.
"Ayo duduk dulu. Mamah akan membuat Minuman." ucap Mamah nya.
"Oh iya Mah, Pah kedatangan Martin ke sini mau menyampaikan sesuatu." ucap Tifani. Seketika Martin jadi sangat gugup ketika orang tua Tifani melihat ke arah dia.
"Ada apa nak Martin? seperti nya sangat penting sehingga nak Martin datang ke sini. Ini pertama kali nya nak Martin datang ke sini setelah meninggal nya orang tua nak Martin."
Martin berusaha untuk tidak gugup. Dia melihat ke arah Tifani terlebih dahulu.
"Ya Allah kalau aku tidak berjodoh dengan Martin jangan engkau persulit, aku sudah ikhlas untuk melepaskan Martin." ucap Tifani berdoa.
"Kedatangan saya ke sini mau menyampaikan..."
Tiba-tiba Martin mengingat semua kebaikan Tifani kepada nya, kesabaran Tifani menghadapi dia.
Di awal pertama kali bertemu dan juga di saat mereka bersama.
"Ada apa nak Martin? Kok kelihatan nya sangat serius sekali." ucap Orang tua Tifani.
"Mah, pah ini sesuatu yang sangat penting sekali, aku harap mamah sama Papah tidak marah, jangan berfikir yang aneh-aneh kepada Martin." ucap Tifani.
"Ada apa sih? Kalau seperti ini mamah sama papah juga jadi kefikiran." ucap orang tua Tifani.
__ADS_1
"Saya mau..." "Ada apa dengan ku? Kenapa begitu sulit menyampaikan nya?" ucap Martin dalam hati.
"Kalau kamu tidak bisa, aku akan mengatakan nya." ucap Tifani.
Tifani mau berbicara namun langsung di tahan oleh Martin.
"Tidak ada Om, Tante. Hanya hal yang tidak terlalu penting mengenai pekerjaan saja." ucap Martin.
Tifani kaget mendengar Martin.
"Oohh tentang itu. Ya udah deh kalau belum mau mengatakan nya kepada kami, tidak apa-apa."
"Oh iya nak Martin mau pulang hari ini atau besok?"
"Hari ini Tante."
"Oohh. Ya udah kalau begitu jangan pulang sebelum makan, mumpung nak Martin di sini kita makan malam bersama."
Martin dan Tifani duduk berdua di ruang tamu.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa tidak mengatakan nya langsung?" tanya Tifani.
"Tidak bisa Tifani!" ucap Martin.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa lama-lama membohongi kedua orang tua ku Martin. Kalau kamu tidak mencintai aku sebaik nya kita putus." ucap Tifani.
Martin diam. "Kita akhiri semua nya, sebaiknya kita hidup berpisah kalau sudah tidak cocok." ucap Tifani.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, akan akan mengatakan nya kepada orang tua kamu."
Saat di meja makan.
"Oh iya sebelum nak Martin pulang Tante dan Om mau menanyakan tentang hubungan kalian berdua bagaimana sekarang?" tanya orang tua Tifani.
"Hubungan ku dengan Martin sudah tidak ada Lagi mah, pah, kami sudah putus." ucap Tifani langsung karena Martin tak kunjung cerita.
"Bagaimana mungkin? Kalian sudah bersama bertahun-tahun. Hubungan kalian terlihat baik-baik saja." ucap orang tua Tifani.
"Maaf mah, Pah, aku tidak tidak bisa mewujudkan keinginan kalian menikah dengan anak teman kalian. Aku juga minta maaf kepada almarhum orang tua Martin." ucap Tifani.
Setelah itu Tifani langsung pergi. Orang tua Tifani hanya bisa diam. Mereka tidak bisa mengatakan apapun.
"Maafkan saya Tante Om." ucap Martin.
"Tidak apa-apa nak, mungkin belum jodoh nya, kami sebagai orang tua tidak bisa memaksa kan nya." ucap orang tua Tifani.
"Ini semua salah saya Om, saya minta maaf. Sekali km lagi saya benar-benar minta maaf."
__ADS_1
Martin sudah tidak enak hati akhirnya dia langsung pamit. Orang tua Tifani langsung melihat keadaan Tifani.
Dan ternyata Tifani sedang menangis tersedu-sedu di kamar nya.
Martin di perjalanan seperti Menyesal. Dia seperti kehilangan separuh semangat hidup nya.
Keesokan harinya...
Starla bertemu dengan Martin.
"Kak Martin." ucap Starla.
Starla mau pergi namun langsung di tahan oleh Martin.
"Saya mau berbicara dengan kamu Starla." ucap Martin.
"Tapi.." "Saya tidak akan melakukan apapun, saya hanya mau berbicara sebentar saja." ucap Martin.
Starla melihat wajah Martin sangat sedih tidak seperti biasanya, akhirnya dia menginyakan. Mereka duduk di pinggir sungai.
"Ada apa kak?" tanya Starla.
Martin Menatap wajah Starla.
"Terutama saya mau minta maaf kepada kamu." ucap Martin. "Aku mohon jangan membahas itu lagi kak. Aku sudah melupakan semua nya itu." ucap Starla.
Martin tersenyum. "Tidak salah saya mencintai kamu, kamu sangat baik " ucap Martin.
"Tapi saya sadar rasa ini hanya rasa kagum sementara, saya hanya nyaman bersama kamu. Dan sekarang saya merasa kehilangan semua nya." ucap Martin.
"Maksudnya? Apa kakak ada masalah?" tanya Starla.
"Saya sudah resmi putus dengan Tifani. Saya sudah berbicara dengan orang tua nya." ucap Martin.
Starla terdiam. "Dan sekarang saya benar-benar sangat kesepian. Aku merasa tidak ada semangat hidup ku lagi." ucap Martin.
"Apa kakak masih mencintai Tifani?" tanya Starla.
"Saya tidak tau." ucap Martin.
"Sekarang semua orang yang saya sayangi semua nya menjauh, saya sendiri. Saya tidak memiliki siapa pun sekarang." ucap Martin.
Starla mendengar kan semua keluhan Martin. Sampai-sampai Di kampus Diki kehilangan Starla dia mencari ke sana sini namun tidak kunjung menemukan Starla.
Mau menelpon nya namun handphone Starla lagi pada nya.
"Hanya ijin ke toilet namun kenapa sangat lama dan sekarang hilang begitu saja." ucap Diki.
"Hima hari ini tidak ke kampus, mana mungkin dia pergi dengan orang lain tampa mengabari aku." ucap Diki.
__ADS_1