
"Iyah, dia sudah pulang." ucap Diki.
"Kok kamu gak ngasih tau aku sih? Kamu tau sendiri setiap hari aku mencari nya." ucap Starla.
"Kamu tidak bertanya kepada ku." ucap Diki.
"Huh kamu nyebelin banget sih!" ucap Starla.
Sesampainya di rumah Starla langsung turun dari mobil tidak lupa mengucapkan terimakasih walaupun Deng nada kesal.
"Starla-starla." ucap Diki.
Diki pun langsung pulang ke rumah nya. Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
Dia sudah langsung di sambut oleh kekasih kakak nya.
"Kamu sudah pulang?"
Diki mengangguk saja.
Tidak mengatakan apapun dia langsung masuk ke dalam kamar nya.
"Aneh banget sih tuh anak, dia benar-benar tidak berubah dari dulu sampai sekarang." ucap Tifani.
Diki masuk ke kamar nya dia duduk di karpet sambil bersandar ke kasur nya.
Dia membaca pesan dari Laura yang selalu mengajak bertemu. Diki mengabaikan nya dia mengambil Gitar dan bernyanyi.
Diki mengingat wajah Starla yang sangat ceria hari itu karena bermain dengan anak-anak di taman.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Ketukan pintu kamar membuat Diki berhenti memikirkan Starla.
"Ada apa?" tanya Diki.
"Kamu jangan menatap aku seperti itu dong, aku minta maaf kalau mengganggu kamu." ucap Tifani.
"Ada apa? Jangan banyak basa-basi." ucap Diki.
"Humm aku mau ngomong sama kamu." ucap Tifani.
Diki keluar dari kamar nya.
"Apa yang mau kamu katakan?" tanya Diki. Tifani menarik tangan Diki ke sofa yang tidak jauh dari pintu.
"Aku boleh kan nanya-nanya tentang kak Martin?" tanya Tifani. "Yang bisa aku jawab aku akan menjawab nya." ucap Diki.
Tifani mengangguk.
"Bagus deh kalau begitu. Sebenarnya aku mau nanya kalau Martin selama di sini Tampa ada aku ada perempuan lain gak?" tanya Tifani.
"Aku tidak tau." ucap Diki.
__ADS_1
Tifani menghela nafas panjang.
"Kira-kira menurut kamu Martin selingkuh gak?" tanya Tifani. Diki menatap wajah Tifani.
"Maksud nya itu, apa kamu tidak pernah melihat Martin dengan perempuan lain? Soalnya beberapa hari ini Martin tidak seperti yang dulu lagi." ucap Tifani.
"Aku tidak tau, kalau kamu mau tanyakan saja sendiri kepada dia." ucap Diki.
"Martin tidak jujur." ucap Tifani. "Aku tidak tau sama sekali." ucap Diki.
Tifani terdiam sejenak. "Aku yakin kalau Martin menyembunyikan sesuatu dari aku." ucap Tifani.
"Aku harus mencari tau sendiri apa yang dia sembunyikan dari aku." ucap Tifani..Diki berdiri namun di tahan lagi oleh Tifani.
"Tunggu dulu Diki, aku belum selesai ngomong!" ucap Tifani. "Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar?" tanya Tifani.
"Itu tidak pertanyaan yang penting harus kamu tau kan?" ucap Diki. Tifani langsung terdiam.
"Ya udah deh kalau begitu." ucap Tifani. Diki langsung masuk ke kamar nya.
"Tuh anak sangat sulit di ajak berbicara, wajar saja lah kalau tiap ada yang pacaran dengan dia tidak betah." ucap Tifani.
Tifani melihat Mobil Martin masuk ke halaman rumah.
Dia langsung turun ke bawah.
"Sayang kamu sudah pulang?" ucap Tifani menyambut Martin dengan sangat baik.
"Iyah. Aku sangat lelah aku mau langsung istirahat." ucap Martin.
"Ya udah aku bantuin kamu bawain tas kamu," Tifani membuka jas dan juga mengembalikan sepatu Martin ke tempat sepatu.
Tifani mengantarkan nya sampai ke kamar.
"Kamu tidak mau mandi dulu?" tanya Tifani.
"Nanti saja." ucap Martin. "Oohh ya udah kalau begitu aku masak untuk makan malam kita dulu yah." ucap Tifani.
"Tidak perlu. Saya ada janji di luar malam ini." ucap Martin.
"Aku ikut yah sayang, aku janji deh gak ganggu kamu." ucap Tifani.
"Tifani... kamu tidak perlu berlebihan seperti ini Tifani. Aku seperti ini tidak nyaman. Kamu lakukan saja yang penting untuk diri kamu sendiri." ucap Martin.
Tifani tersenyum. "Aku melakukan ini karena aku senang sayang, aku mau menebus selama beberapa bulan tidak bisa bersama kamu." ucap Tifani.
"Lagian aku seperti ini dari dulu, kamu malah suka.. Kamu sendiri kan yang meminta aku perduli dan bisa mengurus kamu." ucap Tifani.
Martin melihat wajah Tifani yang sangat tulus. Dia tidak tega.
"Ya udah deh kalau begitu terserah kamu saja, lakukan apa yang membuat kamu senang." ucap Martin.
__ADS_1
"Aku ikut yah makan di luar." ucap Tifani.
"Tidak perlu Tifani, saya tidak suka kamu tidak bisa memberikan saya privasi seperti ini." ucap Martin.
"Saya pergi dengan teman saya, rekan kerja saya." ucap Martin.
Tifani menghela nafas.
"Ya udah aku gak apa-apa kok, aku bisa makan malam di rumah." ucap Tifani.
Martin tersenyum dia mengelus rambut Tifani.
"Lain kali pasti kita bisa pergi makan berdua kok." ucap Martin. Tifani tersenyum.
Tifani ijin keluar dari kamar agar Martin bisa istirahat. Setelah Tifani keluar Martin mengunci pintu dia mengeluarkan ponsel nya.
Dia membalas pesan Starla dan mengajak nya untuk makan malam.. Starla tidak menolak dia langsung menginyakan dan menentukan waktu dan tempat nya.
Di malam hari nya. Diki baru saja turun dia melihat Tifani di meja makan.
"Diki ayo makan." ajak Tifani. Diki mendekati meja. Dia melihat ke sekitar nya mencari Martin.
"Kak Martin kemana?" tanya Diki.
"Dia makan malam di luar, malam ini kita makan berdua saja." ucap Tifani sambil menyendok kan nasi ke piring Diki.
"Aku juga mau keluar hari ini, ada janji dengan teman ku." ucap Diki.
Tifani melihat Diki yang pergi meninggalkan dia. Dia melihat makanan yang dia masak.
"Yahh makanan ku jadi tidak ada yang makan." batin Tifani.
Tifani duduk dengan sangat lemah, dia melihat makanan yang di atas meja.
"Huff aku harus lebih sabar, ini bukan pertama kalinya. Aku harus mengerti kalau mereka mengalami masalah yang banyak sebelumnya. Sebagai pacar Martin aku harus bisa memberikan kasih sayang dan juga mengurus mereka." ucap Tifani.
Tifani tidak selera mau makan karena sendiri. Dia memilih untuk bersih-bersih karena terlihat sangat berantakan.
Dia masuk ke kamar Martin untuk beres-beres membawa pakaian kotor, semua nya yang berantakan di rapikan.
"Akhirnya bersih juga, aku berharap Martin bisa nyaman."
Dia membawa peralatan nya keluar tidak lupa memasang pewangi ruangan.
Setelah selesai dari kamar Martin dia berjalan ke arah kamar Diki.
"Tumben banget gak di kunci, sekalian saja deh aku bersihkan." ucap Tifani.
Dia melihat untuk pertama kalinya kamar Diki yang sangat berantakan.
Sangat banyak barang-barang di lantai di lemari dan di atas kasur, di balkon kamar juga sangat kotor.
__ADS_1
"Humm ini sudah kebiasaan anak laki-laki." ucap Tifani. Dengan telaten dia membersihkan dan merapikan nya.