
"Kalau kak Martin sudah tidak mencintai mbak Tifani, bagaimana menyatukan nya lagi?" ucap Hima.
"Menurut ku hubungan yang sudah bertahun-tahun, bahkan orang tua sudah merestui tidak semudah itu untuk move on." ucap Starla.
"Jadi menurut kamu, kak Martin masih mencintai mbak Tifani?" tanya Hima. Starla mengangguk.
"Aku berfikir nya sih seperti itu, karena tadi kak Martin curhat tentang mbak Tifani tentang hubungan mereka." ucap Starla.
"Dan itu juga yang membuat Diki sekarang cemburu, aku jadi pusing. Ternyata dunia percintaan itu sangat rumit." ucap Starla.
"Huff seperti nya masih kita sama." ucap Hima, mereka berdua berpelukan sambil mengadu nasib satu sama lain.
Saling menyemangati dan saling memberikan solusi satu sama lain.
"Starla apa malam ini kamu mau menginap di sini?" tanya Hima. Starla tidak menolak dia menginyakan.
Starla ijin kepada orang tua nya, memastikan berbicara langsung kepada orang tua nya agar nanti orang tua nya tidak khawatir kepada diri nya.
Starla dan Hima menghabis kan sepanjang malam curhat, dan juga karoke di dalam kamar. Menghabiskan makanan karena kedua nya sama-sama lagi galau.
Keesokan harinya...
Starla dan Hima sudah di kampus. Saat berjalan ke kelas tidak sengaja berpapasan dengan Diki.
"Humm aku ke kelas duluan yah Starla." ucap Hima . Starla mengangguk.
"Ibu bilang kamu tidak pulang tadi malam, kamu dari mana saja?" tanya Diki.
"Aku tidur di rumah Hima. Aku menemani Hima di sana." ucap Starla.
"Kamu berbohong kepada ku!" ucap Diki. "Berbohong? Kenapa?" tanya Starla.
"Kamu bilang akan datang ke rumah, namun ternyata kamu tidak datang sama sekali." ucap Diki.
"Aku minta maaf. Aku menemani Hima yang masih sangat sedih." ucap Starla. "Apa kamu lebih perduli kepada Hima dari pada aku?" tanya Diki.
Starla menghela nafas panjang. "Sama-sama Perduli, hanya saja aku berpikir kamu butuh waktu dan tidak mau di ganggu, itu sebabnya aku tidak datang." ucap Starla.
Diki menghela nafas panjang. "Aku tau kalau kamu akan baik sendiri nya, ini hanya salah paham saja." ucap Starla.
__ADS_1
Diki diam. "Jangan marah gitu dong, aku takut kalau kamu marah." ucap Starla sambil memegang tangan Diki.
"Kamu membuat saya marah." ucap Diki. "Iyah aku tau, aku salah, aku minta maaf yah." ucap Starla.
"Oohh pantesan akhir-akhir ini kalian bersama terus." ucap Laura yang baru saja datang.
"Laura.." Ucap Diki. "Ternyata sekarang kalian pacaran?" ucap Laura. Dan kebetulan ada yang lewat mendengar kata-kata Laura.
"Ya ampun setelah berpacaran dengan kakak nya, sekarang dengan adik nya." ucap teman nya yang lain.
"Huff mentang-mentang sekarang sudah cantik dengan seenaknya memutuskan kak Martin dan berpacaran dengan Diki."
"Kamu meninggalkan dan memutuskan aku karena perempuan ini kan?" ucap Laura.
"Aku tidak mencintai kamu lagi, itu alasan nya..Kamu tidak perlu membesarkan masalah seperti ini." ucap Diki.
"Aku tidak terima yah kamu perlakukan seperti ini." ucap Laura.
"Dan sama kamu! Kamu harus sadar diri!"
"Jaga mulut mu Laura! Jangan pernah berani mengganggu Starla." ucap Diki.
"Iyah! Kami sudah pacaran. Dan kamu jangan berfikir Starla yang memutuskan Kak Martin. Kamu tidak tau jadi tidak perlu sok tau."
"Satu lagi, jangan ikut campur." ucap Diki. Starla sangat malu semua mata tertuju kepada dia.
Dia menunduk kan kepala nya dia tiba-tiba mengingat dulu Diki yang menuntun orang-orang untuk membuly dia.
Seketika dia langsung pergi dari sana.
"Starla! Starla!" ucap Diki, namun Diki di tahan.
"Kita belum selesai bicara Diki! Kamu harus memutuskan perempuan itu." ucap Laura.
"Kamu siapa? kamu tidak berhak mengatur kehidupan ku." ucap Diki langsung pergi.
"Aaarrggg!! Awas saja kamu yah Diki! Dan untuk kamu Starla kamu harus menerima akibatnya karena sudah berani merebut Diki dari ku." ucap Laura.
Pulang dari kampus Diki dan Starla pergi ke sebuah taman kota. Mereka duduk di pinggir Lautan sambil menikmati hembusan angin.
__ADS_1
"Kamu masih sedih? Kamu dari tadi tidak berbicara." ucap Starla kepada Diki.
Diki menoleh ke arah Starla yang duduk di samping nya.
Diki mengangguk. "Saya tau kamu pasti mengingat kejahatan saya dulu kepada kamu kan?" tanya Diki.
Starla tersenyum tipis. "Loh kok Diki tau sih? Padahal aku sudah berusaha untuk terlihat baik-baik aja." batin Starla.
"Kamu tidak perlu heran aku tau dari mana, setiap orang pasti tidak bisa melupakan hal yang sulit, kalau bisa aku ingin mengulangi waktu." ucap Diki.
"Kalau kamu mau mengulangi waktu, kita tidak mungkin bertemu dong sekarang." ucap Starla. Diki terdiam.
"Kamu tidak perlu merasa sedih akan tentang itu." ucap Starla mengelus kepala Diki.
"Kamu tau gak? Karena kamu selalu ada, bahkan di saat aku tidur kamu mengganggu ku membuat aku lupa dengan kesedihan ku." ucap Starla.
"Bagaimana bisa? saya melakukan hal yang membuat kamu sedih." ucap Diki. "Memang sih, terkadang kamu sangat jahat sekali. Tapi aku tau itu semua karena tuntutan teman-teman kamu juga." ucap Starla.
Diki menunduk kan kepala nya. "Sejahat-jahat nya kamu tapi kamu juga baik. Aku ingat dan sadar kok hal baik apa yang sudah kamu lakukan dengan diam-diam." ucap Starla.
"Apa?" tanya Diki. "Aku mengingat pada hari itu kamu membayar kan Uang Semester ku, kamu juga membantu membuat surat ijin ketika aku sakit..Kamu juga pernah meminjamkan uang kepada ku melalui teman sebangku ku." ucap Starla.
"Satu lagi aku ingat kalau kamu pernah memberikan aku payung, kamu juga meminjam kan jaket. Masih banyak hal yang lain nya." ucap Starla.
Diki menatap wajah Starla.
"Kamu benar-benar tau?" tanya Diki. Starla mengangguk.
"Tapi kamu adalah laki-laki yang sering membuat aku menangis." ucap Starla. Diki langsung tunduk merasa bersalah lagi.
"Tapi aku tau kamu diam-diam meletakkan tisu di dalam tas ku." ucap Starla. Diki terdiam.
"Aku mendengar kalau kamu tidak pernah menangis, bahkan di saat orang tua mu meninggal kamu tidak menangis. Kamu menahan semua nya agar terlihat kuat. Padahal ketika kita menangis semua nya akan lepas, tidak ada yang perlu di tahan." ucap Diki.
Starla tersenyum. "Kalau aku sedih bagaimana dengan ibu? Aku tidak ingin terlihat sedih di depan ibu." ucap Starla.
"Ibu sangat beruntung memiliki anak seperti kamu, Ayah kamu juga pasti bangga melihat kamu." ucap Diki.
"Termasuk aku, aku sangat senang memiliki pasangan yang berhati emas seperti kamu." ucap Diki. Starla tersenyum.
__ADS_1