
Setelah selesai mencicipi makanan itu dia memberi tau apa saja ya kurang dia jujur karena itu baik untuk masa depan warung bu Irma.
“Kamu mau kemana pagi-pagi seperti ini? Bukan nya kelas nanti jam sebelah?” ucap Starla penasaran karena Diki sudah sangat rapi.
“Aku ada janji dengan laura.” Jawab diki.
“Siapa laura? Apa itu pacar nak Diki?’ tanya BU Irma.
“Iyah bu, dia sangat cantik sekali, sangat cocok dengan Diki yang juga tampan.” Ucap Starla.
Diki menatap wajah Starla. “Bukan kah benar apa yang aku bilang?” tanya Starla kepada Diki. Diki tidak menjawab dia hanya diam saja.
“Ya udah kalau begitu saya berangkat ke kampus dulu yah bu. Saya permisi.” Ucap Diki pamitan.
“Terima kasih banyak yah nak, jangan lupa dengan janji kita. Kamu harus datang.” Ucap bu Irma entah apa yang sudah mereka bicarakan.
Diki mengiyakan akhir nya dia pergi meninggal kan Starla dengan ibu nya di sana.
Di siang hari nya Starla baru saja sampai di kampus nya. Dia tidak lupa mengabari Martin yang minta di kabarin juga karena dia lagi di kantor.
“Ekhem-Ekhem kamu lagi chatan sama siapa?” tanya Hima yang baru saja datang.
“Tidak ada, kamu kepo sekali.” Uvcap Starla langsung menutup handphone nya.
Setelah beberapa hari. Acara di panti asuhan itu ada adalah hari ini.
Martin sudah dari pagi di rumah starla dia datang membantu juga karena masak makanan cukup banyak hari ini.
“Ibu lagi nunggu siapa sih? Dari tadi ibu melihat ke arah pintu?” tanya Starla.
“Ibu menunggu Diki. Dia bilang akan datang pagi.” Ucap Bu Irma.
“Ibu mengundang diki juga? Saya rasa dia tidak akan datang, karena tadi malam dia tidak pulang ke rumah bu.” Ucap Martin.
“Dia tidak pernah berbohong kepada ibu, dia selalu menepati janji nya datang untuk mencicipi apa yang ibu masak.” Ucap Bu Irma.
“aku bisa mencicipi nya untuk ibu.” Ucap Starla. Bu Irma diam.
“Assalamualaikum!” tiba-tiba Diki datang membuat Martin dan juga Starla kaget.
“Walaikum salam nak, akhir nya kamu datang juga, ibu percaya kok kalau kamu akan datang.” Ucap Bu Irma.
“Maaf bu sudah buat menunggu, tadi malam saya menginap di rumah teman saya karena ada tugas, dan pagi tadi saya belanja titipan ibu kemarin.” Ucap Diki.
“Terima kasih banyak nak, ayo masuk ke dalam sarapan dulu.”
__ADS_1
Mereka srapan terlebih dahulu.
Diki melihat Martin Dan Starla sangat dekat sekali.
‘Huff kenapa dengan aku? Kenapa aku merasa cemburu melihat Starla dekat dengan kak Martin?”
Sudah sampai di panti Asuhan....
“Kenalin Bu ini adik saya nama nya Diki.” Ucap martin memperkenal kan Diki kepada pengurus pengurus panti asuhan.
“Selamat datang di sini Pak, kami sangat senang akhirnya adik pak diki datang ke sini, selama ini kami tau hanya cerita saja, dan ternyata Diki lebih tampan dari yang di foto.” Ucap Ibu itu.
“Maksud nya dari cerita?” tanya Diki dalam hati penasaran.
“Kamu sangat Cantik Pakai hijab seperti itu Starla.” Ucap Diki kepada Starla yang duduk di samping.
“Aku tidak terbiasa memakai hijab, aku merasa aneh ketika memakai nya.”
Diki tersenyum tipis melihat tingkah salting Starla yang menurut nya menggemas kan sekali.
“Starla ayo ke depan kamu sudah di panggil.” Ucap ibu nya.
“Kalau begitu aku ke depan dulu yah.” Ucap Starla.
“kamu mau ngapain ke depan?” tanya Diki.
Diki kaget karena starla tersenyum kepada nya.
Dia melihat ke arah panggung ternyata starla sudah ada di sana.
Sepanjang acara Diki sangat salut kepada Starla. Dan yang membuat dia iri adalah Starla selalu melihat ke arah martin yang tidak jauh dari dia.
Tidak berselang lama akhir nya acara selesai.
"Terimakasih banyak yah Bu sudah mau lelah-lelah memasak untuk anak-anak." ucap Martin kepada Bu Irma.
"Sama-sama Nak Martin. Saya juga sangat senang melakukan itu." ucap Bu Irma.
"Humm saya mau ijin kepada Ibu mau membawa Starla keluar malam ini boleh?" tanya Martin.
Bu Irma menoleh ke arah Starla.
"Boleh saja, tergantung Starla nya." ucap Bu Irma.
Starla tersenyum.
__ADS_1
Martin dan Starla akhirnya pergi keluar meninggalkan Diki dan Juga Bu Irma di sana.
"Nak Diki sudah tidak perlu repot-repot menyusun ny, dari tadi nak Diki sudah sangat lelah." ucap Bu Irma kepada Diki.
Diki Tersenyum. "Ini sudah mau selesai kok Bu." ucap Diki.
"Nak Diki Mari lah duduk di sini, ibu sudah membuat minuman dan juga ada roti." ucap Bu Irma. Diki tersenyum dia mendekati Bu Irma.
"Starla dan Kak Martin mana Bu?" tanya Diki.
"Loh mereka gak ngomong sama kamu kalau mereka keluar sebentar." ucap Bu Irma.
"Keluar kemana Bu?" tanya Diki.
"Biasalah lagi kasmaran, mungkin mereka nongkrong di luar." ucap Bu Irma.
Diki terdiam sejenak, yang tadi wajah nya ceria sekarang jadi sedikit dingin.
"Humm kalau boleh ibu bertanya apakah nak Diki dengan nak Martin tidak berhubungan baik?" tanya Bu Irma.
Diki diam. "Ibu bisa melihat nya, sepanjang acara dan seharian ibu tidak melihat kalian saling berbicara satu sama lain." ucap Bu Irma.
"Kalian adalah saudara, tidak baik seperti itu." ucap Bu Irma.
Diki tetap diam. dia tidak mau mengatakan apapun.
"Nak.. Kamu harus tau kalau di atas sana orang tua kamu pasti sangat sedih melihat anak-anak nya tidak akur seperti ini." ucap Bu Irma.
"Tidak apa-apa Bu." ucap Diki..Bu Irma mengelus kepala Diki.
"Ibu tidak tau apa yang terjadi di antara kalian berdua, tapi bukan kah lebih bagus kalau kamu akur dengan saudara sendiri?" tanya Bu Irma.
Dika menundukkan kepalanya.
"Jangan egois, jangan menjadikan masalah yang sudah terjadi membuat kamu membenci kakak kamu sendiri." ucap Bu Irma.
"Boleh kah aku memeluk ibu?" tanya Diki.
"Tentu boleh dong." ucap Bu Irma langsung memeluk Diki dengan sangat erat.
Sementara di tempat lain Martin dan Starla duduk di pinggir Danau yang sangat nyaman dan lampu yang cantik menambah tempat itu sangat indah.
"Starla kamu belum menjawab pertanyaan saya? Apakah kamu mencintai saya?" tanya Martin. Starla Menatap wajah Martin.
"Aku belum yakin, hanya saja aku senang ketika bersama kakak, aku sangat bahagia. Setelah bertemu dengan kakak aku merasa tidak sendirian lagi dan kakak selalu melindungi aku." ucap Starla.
__ADS_1
Martin menatap wajah Starla. "Kalau kamu belum yakin dengan perasaan kamu, saya akan membuat kamu yakin." ucap Martin.