
Akhirnya mereka berdoa ramai-ramai dan bergantian ke makan orang tua mereka.
"Pak Andre.. Bu Nindi.. Apa kalian tau anak kalian di sini sangat nakal sekali. Saya mendengar mereka sering sekali ribut dan juga sekarang mereka sudah tinggal berpisah. Tapi Kalian tidak perlu khawatir karena mereka sudah dewasa, mereka sudah bertanggung jawab dengan semua kesalahan mereka." ucap Bu Irma.
"Mamah.. Papah Yang tenang yah di sana, aku minta maaf atas semua kesalahanku. Kalau bukan karena aku mungkin mamah sama papah masih ada." ucap Martin.
"Sudah-sudah jangan berbicara seperti itu." ucap Bu Irma memeluk Martin.
Diki dan Starla saling tatap dan tersenyum bahagia.
Selepas jiarah Bu Irma mengajak mereka semua untuk makan siang bersama di warung yang tidak jauh dari pemakaman.
"Nak Martin makan yang banyak." ucap Bu Irma kepada Martin. "Nak Diki juga, jangan sungkan-sungkan seperti itu." ucap bu Irma.
Diki tersenyum sambil mengangguk.
"Bu.." ucap Martin. Namun Bu Irma langsung menghentikan Martin.
"Ibu Sud tidak mau mengingat itu, itu sudah menjadi masa lalu." ucap bu Irma.
"Apa ibu sudah memaafkan aku?" tanya Martin.
Bu Irma mengangguk sambil memeluk Martin.
"Bagaimana dengan aku Bu? apa ibu juga memaafkan aku?" tanya Diki.
Bu Irma menggeleng kan kepala nya. "Ibu masih marah sama kamu dan juga Starla karena pacaran diam-diam tidak bilang sama Ibu dan sekarang sudah putus gak ngomong juga." ucap Bu Irma.
"Maaf Bu, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan nya." ucap Starla.
"Tetap saja ibu akan marah."
"Apa yang harus kami lakukan agar ibu memaafkan aku dengan Diki?"
"Kalian balikan lagi, ibu akan memaafkan kalian." ucap Bu Irma. Starla dan Diki saling tatap. Mereka berdua jadi malu.
"Sudah-sudah ayo lanjut makan.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan.
"Biar kakak saja yang nganterin Bu Irma pulang. Kamu pulang dengan Starla." ucap Martin. Diki mengangguk.
Starla ini uang bayaran kamu semalam."
"Tidak perlu, anggap saja itu membayar utang ku yang kemarin." ucap Starla.
"Tapi..." "Gak apa-apa." ucap Starla.
"Kalau begitu kita pulang yok." ajak Starla. Diki menggeleng kan kepala nya.
"Kamu temanin aku ke Cafe yah." ucap Diki.
"Mau yah." ucap Diki.
__ADS_1
"Ya udah deh, aku sudah lama juga tidak dari sana." ucap Diki.
Mereka ke Cafe bersama. Sementara Martin dan Bu Irma baru saja sampai.
"Nak Martin lagi ada masalah yah?" tanya Bu Irma.
Martin duduk di sofa sambil menggelengkan kepalanya.
"Enggak kok Bu."
"Jangan berbohong, mata nak Martin tak bisa berbohong." ucap Bu Irma.
"Belakangan ini aku kurang tidur saja Bu."
"Kurang tidur pasti ada penyebab."
"Hanya pekerjaan Bu."
"Kalau kamu menganggap ibu sebagai ibu kamu, Jujur dan cerita ada apa." ucap Bu Irma.
"Mantan ku yang sudah lama bersama ku mau menikah Bu."
"Oohh yang bernama Tifani itu?" tanya Bu Irma. "Kok ibu bisa tau?"
"Sebelum nya nak Diki menceritakan nya kepada Ibu."
Martin terdiam. "Jadi ceritanya kamu belum move on dan tidak terima?" tanya Bu Irma.
Martin mengangguk. "Lalu kenapa tidak mencoba balikan dan membicarakan baik-baik?" tanya bu Irma.
Bu Irma mengelus pundak Martin.
"Kalau nak Martin benar-benar mencintai nya perjuang kan, jangan menyesal di kemudian hari karena tidak melakukan apapun." ucap Bu Irma.
"Minta maaf dan mencoba untuk memperbaiki semua nya. Kalau sudah jodoh tidak akan kemana. Namun sebagai laki-laki kamu harus berjuang." ucap Bu Irma.
"Jadi menurut ibu aku harus datang menyusul dia?"
Bu Irma mengangguk.
"Mau bagaimana pun seseorang berhak memperjuangkan cinta nya." ucap bu Irma.
"Baiklah Bu, aku akan memperjuangkan cinta ku, terimakasih banyak Bu, doa kan aku." ucap Martin langsung pamit dan pergi.
"Starla..." panggil Diki.. Starla berjalan ke arah Diki.
"Ada apa?"
"Hari ini kak Martin berangkat ke kota Tifani." ucap Diki.
"Hah? Ngapain?" tanya Starla kaget.
Diki tersenyum. Starla Curiga kepada Diki.
__ADS_1
Pagi-pagi Martin baru sampai di kota Tifani.
"Tifani.. Tifani..." panggil Martin setelah sudah di depan rumah.
"Martin.. Ngapain kamu ke sini?" tanya Papah nya Tifani.
"Saya ingin bertemu dengan Tifani Om, Tante." ucap Martin.
"Sebaik nya kalian tidak perlu bertemu lagi." ucap Papah Tifani.
"Saya mohon om, saya minta maaf sudah memutuskan hubungan dengan Tifani..Saya masih sangat mencintai dia, saya mohon jangan menikah kah Tifani dengan laki-laki lain." ucap Martin.
Kedua orang tua Tifani bingung..
"Apa maksud kamu?" tanya Papah Tifani.
Martin menunjuk kan surat undangan itu.
"Ini bohong. Tifani tidak menikah. Dia sedang sakit. Dan sampai sekarang belum sembuh." ucap papah nya Tifani.
Martin terdiam bingung. "Seseorang sudah merekayasa ini." ucap orang tua Tifani.
"Jadi benar Tifani tidak di jodohkan Om?" Orang tua nya menghela nafas panjang.
"Kami memang menjodohkan Tifani, namun Tifani tidak mau, dia tetap tidur bisa move on dari kamu sampai sekarang dia tidak sembuh."
"Maaf kan saya om." ucap Martin.
"Huff kalau saya anak saya tidak mencintai kamu, saya tidak akan pernah memaafkan kamu"
"Pah jangan berbicara seperti itu.
"Sangat bagus nak Martin di sini.. Tifani sangat merindukan nak Martin." ucap mamah Tifani.
Martin masuk ke dalam dia melihat Tifani berbaring di tempat tidur dengan wajah yang sangat pucat badan yang sudah kurus.
"Martin..." ucap Tifani.. Air nya tiba-tiba keluar.. Martin tidak tega melihat tubuh Tifani.
"Tifani..." ucap Martin. Dia juga menangis..Dia langsung memeluk Tifani begitu juga dengan Tifani.
Orang tua Tifani membiarkan mereka berdua di dalam kamar.
"Tifani... aku minta maaf, aku minta maaf, aku sangat mencintai kamu, aku mohon jangan menikah dengan orang lain, aku tidak bisa hidup tanpa kamu." ucap Martin.
Tifani memukul Martin. Walaupun tidak terasa namun Martin menahan nya karena Tifani yang akan kesakitan.
"Tifani aku masih sangat mencintai kamu, aku minta maaf, aku minta maaf." ucap Martin sambil mencium tangan Tifani.
"Hanya karena rasa bosan, kesal dan kesenangan semata aku meninggal cinta sejati ku.. Perempuan yang sudah sangat tulus mencintai aku." ucap Martin.
Tifani tidak tau harus mengatakan apa dia hanya bisa menangis.
"Kamu mau kan memaafkan aku? Kamu mau kan balikan sama aku? Aku janji akan meninggalkan semua sifat buruk ku." ucap Martin.
__ADS_1
Tifani tidak menjawab sehingga membuat Martin takut.
"Aku tau kesalahan ku tidak mudah untuk di maafkan, tapi aku akan berjuang untuk mendapatkan kamu." ucap Martin..