
"Oh iya Starla bagaimana hubungan kamu dengan Diki dan kak Martin?" tanya Hima. Starla terdiam.
Hima seketika menyesal menanyakan tentang itu.
"Maaf-maaf Starla, aku tidak bermaksud untuk membahas nya.
"Enggak kok. Gak apa-apa. Aku dengan Diki sudah baik-baik saja, begitu juga dengan kak Martin. Mereka sangat baik membantu ku." ucap Starla.
Hima mendengar itu pun sangat lega.. "Jadi kamu balikan sama siapa? Kak Martin atau Diki?" tanya Hima.
"Hima.. " ucap Starla. Hima tersenyum.
"Aku hanya bercanda." ucap Hima.
"Lagian kamu sih kakak dan adik kamu jadikan mantan." ucap Hima.
"Kalau bisa memilih aku juga tidak ingin seperti ini." ucap Starla. Hima tersenyum.
"Kamu sudah balikan dengan Diki?" tanya Hima. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Aku belum kefikiran ke sana." ucap Starla.
"Oohh. Tapi kamu jangan lama-lama mengabaikan Diki. Atau Jangan memberikan harapan palsu kepada dia.
"Enggak kok, aku hanya butuh waktu saja." ucap Starla.
"Apa itu arti nya kamu masih mau balikan dengan Diki!" Starla mengangguk. "Tapi semua nya tergantung ibu, kalau ibu sudah memaafkan mereka aku akan memikirkan ke arah sana dan aku akan jujur kepada ibu hubungan kami." ucap Starla.
"Semoga saja Kak Martin dan Diki cepat mendapatkan maaf dari Orang tua kamu." ucap Hima. Starla tersenyum.
Diki di Cafe nya sedang duduk santai karena pelanggan lumayan sepi. Dia melihat kakak nya datang.
"Kak Martin meminta kakak ke depan." ucap karyawan nya. Diki melihat Martin.
"Ada apa sih dengan kak Martin akhir-akhir ini? Kok kelihatan nya dia sangat kesepian." batin Diki.
"Tumben-tumbenan sekali kakak tidak di kantor sampai malam?" tanya Diki. Martin menghela nafas panjang.
"Pekerjaan tidak begitu padat." Martin.
Diki meminta karyawan nya membuat kopi.
"Apa kakak ada masalah?" tanya Diki melihat raut wajah kakak nya.
"Tidak ada." jawab Martin.
"Oh iya kebetulan sekali kakak ke sini, apa hari Sabtu besok kakak ada Janji?" tanya Diki.
Martin mencoba memeriksa Jadwal nya.
"Ada di sore hari." jawab Martin.
"Aku mau ngajakin kakak jiarah ke makam orang tua Starla." ucap Diki.
"Hah? Kamu seriusan? Hanya berdua saja?" tanya Martin.
__ADS_1
"Iyah berdua saja."
"Apa Starla tidak ikut?" tanya Martin.
Diki menggeleng kan kepala nya.
"Kakak tidak tau di mana almarhum ayah Starla di kubur. Pada saat itu beliau di kubur duluan." ucap Martin.
"Kakak seriusan gak tau di mana?" tanya Diki.. Martin mengangguk.
"Sudah lama kakak mau jiarah ke makam almarhum, namun kakak tidak mendapatkan informasi sama sekali." ucap Martin.
"Huff kakak sungguh jahat." ucap Diki.. Martin langsung memasang wajah sedih.
"Aku hanya bercanda." ucap Diki.
"Apa kamu tau tempat nya?" tanya Martin.."Humm sebaiknya aku merahasiakan dulu, biar jadi kejutan bagi kak Martin." batin Diki.
"Iyah aku tau di Mana." ucap Diki. "Bagus banget, kalau begitu kamu atur saja waktu nya." ucap Martin..Diki tersenyum.
"Malam ini kamu mau menemani kakak minum?" tanya Martin. Diki menggeleng kan kepala nya.
"Berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka kakak minum dan aku tidak akan pernah menemani kakak karena malam ini aku ada janji dengan Starla."
"Oh iya Starla malam ini jualan di pasar malam."
"Tidak kak, dia sudah berhenti. Malam ini aku akan membayar waktu dia untuk bermain di pasar malam." ucap Diki.
"Oohh." ucap Martin.
Martin tersenyum. "Oh iya kak, apa Kakak akan datang ke acara Tifani?" tanya Diki.
"Kakak masih memikirkan nya." ucap Martin.
"Sebaiknya kakak tidak perlu datang kalau kakak tidak mau, jangan di paksa kan Seperti itu." ucap Diki. Martin mengangguk.
Di malam hari nya.. Starla sedang berdandan di kamar nya namun ibu nya tiba-tiba masuk.
"Kamu mau kemana nak cantik seperti ini?" tanya Ibu nya.
"Aku ada urusan di luar Bu, apa ibu butuh sesuatu?" tanya Starla. Ibu nya menggeleng kan kepala nya.
"Malam ini kamu tidak jualan?"
"Enggak Bu."
"Berarti nak Diki dan nak Martin tidak datang menemui kamu?" tanya Bu Irma.
Starla terdiam sejenak. "Ibu tau kok mereka bantu kamu jualan."
"Ibu mengikuti aku?" tanya Starla.. Ibu nya mengangguk.
"Maafin aku Bu, bukan aku bermaksud menghianati ibu, tapi..."
Starla bingung harus mengatakan apa namun ibu nya diaam saja.
__ADS_1
"Ibu marah yah?"
"Siapa bilang ibu marah? Ibu tidak marah." ucap Bu Irma.
"Lalu kenapa dengan ibu tiba-tiba diam?"
"Ibu hanya kefikiran saja tentang Diki dan Martin."
"Kenapa Bu?"
"Mereka tidak memiliki Ibu dan Ayah, mereka tinggal masing-masing. Bagaimana dengan mereka?" ucap ibu nya.
Starla terdiam sejenak.
"Ibu jadi sangat merasa bersalah karena memarahi mereka, mengabaikan mereka."
"Jangan menyalah kan diri sendiri bu."
"Ya sudah kalau begitu kamu pergi lah, jangan pula terlalu larut malam." ucap Bu Irma langsung keluar dari sana.
Starla terdiam sejenak tiba-tiba dia tersenyum. "Alhamdulillah ya Allah, ibu sudah membuka hati nya lagi, semoga saja ibu kembali memaafkan kak Martin." ucap Starla.
Starla berangkat ke pasar malam menggunakan gojek.
"Huff aku sudah Menata rambut ku dengan susah-susah, namun karena helm dan juga angin semua nya jadi berantakan. Untung saja makeup ku tidak hilang." ucap Starla.
"Tetap cantik kok." ucap Diki yang ternyata di dalam mobil. Starla mengaca di kaca mobil Diki.
"Ya Allah Diki! Kamu bisa gak sih jangan mengejutkan aku?" tanya Starla. Diki tersenyum. Dia turun dari dalam mobil.
"Kenapa kamu sangat lama sekali?"
"Aku minta maaf. Aku harus..."
"Jangan membuat alasan lain, kamu pasti lama karena memilih baju, mandi dan juga dandan kan?" ucap Diki.
Starla tersenyum. "Aku pulang lambat hari ini karena dari perpustakaan."
"Kamu selalu saja lupa waktu kalau sudah membaca buku." ucap Diki.. Starla tersenyum.
"Humm kalau begitu ayo masuk." ucap Starla menarik tangan Diki..Diki tersenyum dia mengikuti Starla yang jauh lebih bersemangat dari diri nya.
Beragam permainan, makanan mereka beli. Semua nya di bayar oleh Diki. Semua permintaan Starla tidak di tolak oleh Diki.
Kedua nya bersenang-senang dan siapa pun yang melihat nya pasti sangat cemburu.
"Kak Diki kan? Kak Diki yang jualan di depan?" ucap perempuan menyusul Diki yang sedang menunggu Starla bermain game.
"Iyah." jawab Diki.
"Gak jualan lagi yah kak?"
Diki menggeleng kan kepala nya.
Starla melihat Diki sangat akrab berbicara dengan perempuan itu membuat dia cemburu.
__ADS_1