Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 49


__ADS_3

"Aku tidak tau, aku tidak melihat nya sebaiknya cari saja sendiri." ucap Diki langsung masuk meninggalkan perempuan itu.


"Diki! Diki kamu tidak mungkin tidak tau di mana Martin." ucap Perempuan itu mengikuti Diki masuk.


"Aku tidak tau." ucap Diki.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu di sini sampai Martin datang. Dia benar-benar sangat jahat. Dia mengabaikan ku beberapa bulan ini." ucap Perempuan itu.


Di malam hari nya Martin baru saja Pulang dia melihat mobil putih yang tidak asing dan juga dia melihat Diki yang tidak biasa nya duduk di teras rumah.


"Kenapa kamu duduk di sini? Apa kamu tidak kedinginan?" tanya Martin.


"Sebaiknya Kakak masuk saja dan lihat siapa yang membuat aku duduk di luar!" ucap Diki.


Martin penasaran dia langsung masuk ke dalam.


Dia melihat perempuan yang duduk santai di ruang tamu tamu nya.


"Ngapain kamu ke sini Tifani?" tanya Martin. Perempuan itu langsung berdiri.


"Akhirnya kamu pulang juga sayang, kamu dari mana saja?" tanya perempuan itu langsung memeluk Martin.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Martin melepaskan pelukan Tifani.


"Aku merindukan kamu Sayang, aku berusaha untuk menghubungi kamu, namun kamu sama sekali tidak bisa di hubungi." ucap Tifani.


"Aku sudah bilang aku sibuk, kamu mengerti tidak?" tanya Martin.


"Karena aku tau kamu sibuk tidak bisa mengunjungi aku, itu sebabnya aku mengambil cuti dan datang ke sini bertemu dengan kamu." ucap Tifani.


"Sayang... Kamu tau aku sangat merindukan kamu, aku tidak bisa tidak. Aku selalu memikirkan kamu." ucap Tifani.


Tifani memeluk Martin. Diki melihat nya dari luar.


"Aku tidak tau kesalahan apa yang aku buat Sampai kamu tega mengabaikan aku tidak memberikan aku kabar sama sekali." ucap Tifani.


"Maafin aku, aku tidak bermaksud melakukan itu kepada kamu." ucap Martin.


"Sekarang aku mau di sini bersama kamu boleh kan?" tanya Tifani. Martin mengangguk.


Mereka duduk lama di ruang tamu.


Tidak beberapa lama Diki masuk ke dalam.


"Kamu tunggu sebentar yah. Aku mau berbicara dengan Diki." ucap Martin kepada Tifani.


"Diki! Tunggu dulu kakak mau berbicara." ucap Martin.


Diki berhenti, dia menoleh ke arah Martin.


"Ada apa?" tanya nya dengan sangat dingin.


"Kakak mohon kamu jangan kasih tau kepada Starla tentang ini." ucap Martin.


Diki mengangguk dia langsung masuk ke dalam kamar nya.


Keesokan harinya..

__ADS_1


"Selamat pagi.." Sapa Tifani kepada Diki yang baru saja turun dari kamar nya.


Diki melihat Tifani yang sedang menata makanan di atas meja.


"Pagi!" jawab Diki.


"Eitss tunggu dulu, ayo sarapan sama-sama. Aku sudah payah-payah masak." ucap Tifani menarik tangan Diki.


"Aku bisa berjalan sendiri."


Diki menepis tangan Tifani.


"Lain kali tidak perlu masak seperti ini." ucap Diki.


"Kamu sangat cuek banget, kamu hargailah masakan ku." ucap Tifani.


"Kakak kamu mana? Kenapa dia belum turun?"


Tiba-tiba Martin turun.


"Sayang kamu sudah bangun? Ayo sarapan sama-sama." ajak Tifani. Martin mengangguk.


"Kamu masak ini semua?" tanya Martin.


"Ini kesukaan kamu, ini kesukaan Diki." ucap Tifani.


"Bisa-bisa nya Tifani yang sudah sangat baik kepada Kak Martin masih di selingkuhin." batin Diki.


Mereka makan bersama.


"Sayang ayo Makan dulu jangan Handphone terus." ucap Tifani. Martin yang membalas pesan Starla kaget dia langsung mematikan handphone nya.


"Sayang hari ini aku ikut ke kantor kamu yah." ucap Tifani kepada Martin.


"Hari ini aku tidak ke kantor, hari ini aku ada pekerjaan di luar kota." ucap Martin.


"Ya udah kalau begitu aku ikut yah." ucap Tifani.


"Kamu di rumah aja." ucap Martin.


"Sayang... Aku datang ke sini mau melihat kamu, aku masih merindukan kamu, aku janji tidak akan merepotkan kamu sama sekali." ucap Tifani.


Martin tidak bisa menolak akhirnya dia menginyakan saja.


Diki berangkat ke kampus. Dia melihat Starla dan Hima sudah di kampus.


"Diki!" panggil Hima. "Kamu ngapain manggil dia?" ucap Starla.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memanggil nya saja." ucap Hima. Diki mendekati mereka.


"Kamu sudah sarapan belum? Nih tadi Starla bawain Bekal buatan ibu nya untuk Kita." ucap Hima.


"Aku sudah sarapan dari rumah." ucap Diki.


"Tidak biasanya." ucap Starla.


"Siapa yang masak?" tanya Starla.

__ADS_1


"Ti... gak mungkin aku bilang." batin nya.


"Ti siapa Diki? Kenapa berbicara tanggung sih?" tanya Hima.


"Kak Martin membeli dari luar, terpaksa aku harus sarapan dari rumah."


"Jadi kamu yakin tidak mau ini?" tanya Hima. Diki Mengambil nya.


"Saya tidak akan menolak nya, ini bisa untuk makan siang ku." ucap Diki.


"Huff aku pikir tidak mau." ucap Hima.


"Kalian ngapain masih di sini? Bentar lagi Dosen masuk." ucap Diki.


"Ya udah kalau begitu ayo kita masuk." ucap Hima.


"Starla ayo masuk, kamu nengok apa sih di handphone kamu." ucap Hima.


"Ini loh kak Martin dari tadi tidak membalas pesan ku." ucap Starla.


"Percuma saja kamu menghubungi kak Martin, dia pasti tidak bisa melihat handphone nya karena lagi di perjalanan, jaringan juga di sana pasti tidak ada." ucap Diki.


"Oohh gitu yah, ya udah deh." ucap Starla.


Mereka mulai belajar. Diki tidak bisa fokus karena melihat Starla yang duduk di depan nya.


"Huff kak Martin sangat jahat sekali kepada Starla. Aku tidak memiliki hak untuk marah." batin Diki.


Jam kuliah usai tepat jam tiga sore.


"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Hima kepada Starla.


"Kamu bareng aku saja." ucap Diki.


"Enggak usah, aku pulang naik bus aja." ucap Starla.


"Jangan keras kepala deh Starla, ikut saja dengan Diki." ucap Hima.


"Aku mau naik bus."


"Tidak boleh menolak kebaikan orang lain Starla." ucap Hima. Starla menghela nafas panjang.


"Ya udah deh aku ikut kamu saja kalau begitu."


"Boleh, ayo naik ke dalam mobil." ajak Hima. Namun Diki menahan Starla.


"Aku akan mengantar kan kamu pulang." ucap Diki langsung menarik nya ke dalam mobil.


"Apa-apaan sih kamu? Aku tidak mau pulang bareng kamu!" ucap Starla.


"Kenapa?" tanya Diki.


"Karena aku adek kak Martin?" ucap Diki.. Starla diam.


"Karena kamu adalah pacar kak Martin?"


"Tidak ada hubungan nya dengan itu. Wajah kamu ngeselin, Sifat kamu ngeselin, aku tidak nyaman dengan kamu, kalau kita berdua bersama selalu saja ribut!" ucap Starla.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan memulai pertengkaran." ucap Diki. "Kamu yang memulai nya, aku tidak memulai nya sama sekali!" ucap Starla.


Diki diam. "Tuh kan, wajah kamu ngeselin banget! Aku berbicara namun kamu diam." ucap Starla.


__ADS_2