Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 90


__ADS_3

"Aku yakin kalau aku yang membantu Bu Irma dia pasti menolak." batin diki.


Namun tidak ada jalan lain dia harus menemui kakak nya.


Sampai di depan rumah Diki melihat rumah sangat sepi. "Kenapa sangat sepi? Jam segini seharusnya kak Martin sudah di rumah." ucap Diki. Tidak melihat mobil Martin di depan.


Dan rumah juga seperti beberapa tidak di tinggalin sehingga banyak debu.


"Apa kak Martin tidak pulang-pulang? lantas kemana dia?" tanya Diki. Diki membuka handphone nya dia menelpon Martin namun tidak di jawab.


Karena tidak ada yang dia cari di sana, akhirnya dia memilih untuk pulang saja. "Kak Martin kok gak nelpon lagi sih?" batin Diki.


Sampai di apartemen nya masih berusaha menelpon Martin. Namun tetap saja tidak ada jawaban membuat nya bingung.


"Ah sudahlah. Mungkin kak Martin sedang bekerja, atau.... bersama perempuan lain." ucap Diki karena sudah tau jelas seperti apa sifat kakak nya itu.


Keesokan harinya..


"Starla..." sapa Diki namun Starla tidak mendengar nya karena sibuk membaca buku. "Sebaik nya tidak perlu di ganggu." udah Hima menarik Diki ke meja nya.


Keesokan harinya lagi.. Diki sengaja datang lebih awal agar bisa membeli makanan yang di jual Oleh Starla.. Namun Saat dia datang semua nya sudah habis.


Dia tidak memiliki alasan lagi untuk berbicara dengan Starla.


Tidak terasa satu Minggu sudah Diki di abaikan oleh Starla. Starla benar-benar sangat sibuk dengan urusan nya sendiri. Belajar, jualan bantu ibu nya sehingga dia tidak ingat kalau Diki butuh waktu nya juga.


Di tempat lain Diki duduk sendiri. Kebetulan Hima dan Rendi ada di sana. "Loh bukannya itu Diki?" tanya Rendi. Hima melihat pria yang duduk di sana sambil merokok.


"Humm kalau Starla tau kamu merokok dia pasti marah." ucap Hima. Diki melihat Hima.


"Tidak akan, dia tidak perduli lagi kepada ku." ucap Diki. Hima duduk di depan Diki.


"Kamu harus mengerti dia sekarang." ucap Hima.


"Kurang mengerti di mana lagi Hima? Hanya saja semakin aku mengerti dia semakin tidak memikirkan aku." ucap Diki.


Hima tidak bisa mengatakan apapun karena dia tidak tau di posisi masing-masing mereka seperti apa. Dia hanya bisa meminta Diki untuk bersabar.


Keesokan harinya..


"Kenapa kamu meminta aku ke sini?" tanya Starla setelah sampai di apartemen Diki.


"kamu sudah tidak pernah ke sini, aku juga sudah sangat merindukan kamu." ucap Diki.

__ADS_1


Starla menghela nafas panjang. "Hanya karena ini kamu meminta ku ke sini?" tanya Starla. Diki mengangguk dengan polosnya.


"Kamu benar-benar yah! Kamu tau sendiri aku sangat sibuk." ucap Starla. "Tapi sudah lama kita tidak bersama. Besok juga hari Minggu." ucap Diki.


"Kamu bisa gak sih ngertiin aku sebentar saja? Aku sangat ingin tenang belajar Tampa ada beban apapun, aku ingin memenangkan olimpiade itu." ucap Starla.


"Tapi.."


"Kamu tidak akan pernah mengerti aku, sebaik nya aku pergi saja." ucap Starla langsung keluar dari apartemen itu.


Diki menahan namun starla terlihat sangat kesal dan pergi.


"Ini yang aku takutkan kalau Starla ikut olimpiade. Dia tidak akan pernah perduli dengan orang sekitar nya." ucap Diki dalam hati.


"Ini tidak akan lama lagi, aku harus banyak bersabar." ucap nya kepada diri sendiri.


Satu Minggu menjelang Olimpiade..


"Assalamualaikum Bu." ucap Diki kepada Bu Irma yang duduk di warung.


"Walaikumsalam Nak Diki." ucap Bu Irma menyambut Diki.


"Kok Sepi banget Bu? Gak buka yah hari ini?" tanya Diki karena tidak ada orang.


"Buka kok, hanya saja sedikit sepi saja." ucap Bu Irma. Diki melihat warung sepi dan wajah Bu Irma sedih membuat nya ikut sedih juga.


"Starla hari ini tidak masuk kuliah, saya khawatir dengan keadaan nya." ucap Diki.


Bu Irma membawa Diki ke kamar Starla.


"Masuk saja nak, tidak apa-apa." Bu Irma.


Diki sedikit sungkan namun dia masuk karena penasaran dengan Starla.


Diki kaget melihat Starla terbaring pucat di tempat tidur. Kamar Starla berserakan dengan buku-buku yang di pelajari oleh Starla.


"Starla apa yang terjadi?" tanya Diki.


"Dia baru saja tidur nak, dia demam karena kurang istirahat. sepanjang hari dia belajar, membantu Ibu di warung, memasak dan berjualan." ucap Bu Irma.


"Ibu Sudah melarang dia terlalu keras, namun Starla memaksa kan semua nya sehingga jadi nya seperti ini." ucap Bu Irma.


Diki menghela nafas panjang.

__ADS_1


Starla mulai bangun dia melihat Diki dan ibu nya di kamar nya.


"Ya udah kalau begitu nak Diki berbicara saja dengan Starla."


Bu Irma keluar dari kamar Starla.


"Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Starla. "Hari ini kamu tidak datang ke kampus, jadi aku khawatir dengan keadaan kamu." ucap Diki.


"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan ." ucap Starla.


Diki menghela nafas panjang.


"Kamu seharusnya tidak perlu memaksa kan diri seperti ini." ucap Diki.


Starla diam. "Apa kamu sudah makan?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya. "Kalau begitu aku akan mengambil kan makanan untuk kamu."


Diki Mengambil nasi dan menyuapi Starla walaupun dia tidak berselera makan.


"Sebaiknya kamu pulang saja, aku sudah baikan, besok aku pasti sudah bisa ke kampus." ucap Starla.


Diki menghela nafas panjang. "Kamu bisa gak jangan keras kepala! Kamu hari ini istirahat saja. Besok jangan datang ke kampus kalau belum sembuh." ucap Diki.


Starla diam. "Apa kamu mendengar aku?" tanya Diki. Starla mengangguk. "Kamu tidur lah. Aku berbicara dengan ibu." ucap Diki.


Starla menahan tangan Diki. "Kamu gak ngomong kan sama ibu tentang olimpiade itu?" ucap Starla.


"Kenapa kamu harus menyembunyikan nya? Bukan kah sebaiknya ibu harus tau? dia juga bisa membantu mendukung kamu." ucap Diki.


Starla menggeleng kan kepala nya. "Dia tidak akan setuju, ibu pasti marah." ucap Starla.


"Baiklah terserah kamu saja, yang penting kamu sehat." ucap Diki.


Diki keluar dari kamar itu. Diki dengan bu Irma berbicara cukup banyak sehingga tidak terasa sudah sore. Diki berpamitan pulang.


Sampai di apartemen dia langsung ganti baju mau ke Cafe nya.


Sampai di Cafe dia langsung menyusul Jihan.


"Bagaimana hari ini Jihan?" tanya Diki.


"Seperti yang kakak lihat, sangat ramai." ucap Jihan.


"Baiklah kalau begitu saya akan membantu." ucap Diki.

__ADS_1


Diki melayani semua costumer dengan sang baik sehingga mereka sangat betah dan tidak menyesal datang ke sana.


Namun ketika Diki berbicara dengan perempuan lain membuat Jihan sangat cemburu sekali.


__ADS_2