
Starla terdiam. "Dan sekarang saya benar-benar sangat kesepian. Aku merasa tidak ada semangat hidup ku lagi." ucap Martin.
"Apa kakak masih mencintai Tifani?" tanya Starla.
"Saya tidak tau." ucap Martin.
"Sekarang semua orang yang saya sayangi semua nya menjauh, saya sendiri. Saya tidak memiliki siapa pun sekarang." ucap Martin.
Starla mendengar kan semua keluhan Martin. Sampai-sampai Di kampus Diki kehilangan Starla dia mencari ke sana sini namun tidak kunjung menemukan Starla.
Mau menelpon nya namun handphone Starla lagi pada nya.
"Hanya ijin ke toilet namun kenapa sangat lama dan sekarang hilang begitu saja." ucap Diki.
"Hima hari ini tidak ke kampus, mana mungkin dia pergi dengan orang lain tampa mengabari aku." ucap Diki.
Diki terus mencari namun tidak kunjung menemukan Starla.
Dia melihat teman-teman kakak nya. "Loh kak Martin hari ini ke kampus?" batin Diki dia tidak tau.
"Diki apa kamu melihat Martin?" tanya teman kakak nya. Diki menggeleng kan kepala nya.
"Loh kemana Martin? Tadi kata nya hanya ke toilet saja." ucap teman nya.
"Huff seperti kamu tidak tau teman mu saja, pasti dia melihat cewek." ucap mereka sambil tertawa.
"Ke toilet? apa jangan-jangan kak Martin membawa Starla pergi?" ucap Diki. Dia langsung menuju parkiran tempat kakak nya parkir.
Dan benar saja, mobil Martin tidak ada di sana. Diki menjadi sangat panik.
Diki mau menelpon Martin namun sedikit ragu karena sebelumnya dia tidak pernah menelpon kakak nya.
Namun karena khawatir dengan Starla dia harus melakukan itu.
Saat Martin dan Starla sedang bercerita dengan serius tiba-tiba handphone Martin berbunyi.
"Tunggu sebentar." Martin melihat siapa yang menelpon dia.
"Siapa kak? Teman kakak yah? Mereka pasti sudah kecarian karena kita sudah cukup lama di sini." ucap Starla.
"Bukan, ini adalah Diki." ucap Martin.
"Diki! Oh iya aku lupa dia menunggu ku." ucap Starla baru ingat.
"Tidak perlu di jawab kak. Aku sebaiknya pulang ke kampus lagi." ucap Starla.
Martin menahan Starla. "Apa kamu tidak bisa di sini lebih lama lagi?" tanya Martin.
__ADS_1
"Sebaik nya kita kembali ke kampus kak. Jangan membuat orang lain salah paham dengan kita di sini." ucap Starla.
"Kalau begitu biarkan saya mengantar kan kamu." ucap Martin. "Tapi kak."
"Tidak apa-apa, anggap saja sekarang hubungan kita kakak adik." ucap Martin.
Starla dan Martin baru saja sampai. Diki menunggu di parkiran dia melihat Starla keluar dari mobil Martin.
"Maaf yah aku buat kamu kecarian." ucap Starla kepada Diki.
"Apa maksud kakak Membawa Starla?" tanya Martin kepada Martin.
"Diki kamu tenang dulu." ucap Starla. "Bagaimana aku bisa tenang? Kamu pergi dengan kak Martin tidak memberi tau aku." ucap Diki.
"Kami tidak melakukan apapun, kami hanya berbicara sedikit." ucap Martin.
"Sudah kak, sebaik nya kakak kembali ke kelas kakak." ucap Starla.
Diki memberikan tas dan juga handphone Starla kepada Starla. Setelah itu dia pergi dengan wajah kesal.
"Diki.. Diki kamu Jangan salah paham dulu." ucap Starla. Starla mengejar Diki.
Dia juga langsung masuk ke dalam mobil Diki.
"Kii aku mohon jangan salah paham, aku tau kamu pasti khawatir. Aku juga salah tidak ngomong sama kamu terlebih dahulu." ucap Starla.
"Maafin aku.."
"Aku tidak mau ribut, sebaiknya kamu keluar dari mobil ku, aku mau pulang." ucap Diki.
"Aku gak mau, aku gak akan turun kalau kamu mau memaafkan aku." ucap Starla.
"Jangan membuat aku kesal Starla, setelah ini aku harus ada kegiatan lagi." ucap Diki.
"Akhir-akhir ini kamu selalu sibuk sendiri, dan sekarang lagi marah seperti ini kamu mau pergi." ucap Starla.
"Turun Starla..." Ucap Diki berusaha menahan rasa kesal nya.
"Iyah deh aku turun. Kabarin aku kalau kamu sudah tidak marah." ucap Starla mencium pipi Diki dengan singkat dan langsung keluar dari mobil.
Diki tersenyum tipis, namun dia berusaha menyembunyikan nya karena dia masih kesal. Itung-itung membuat pelajaran kepada Starla.
"Ngambek aja sepuasnya." ucap Starla setelah mobil Diki pergi.
"Bodo amat aku mau pulang jalan kaki atau enggak," ucap Starla, dia mengomel dengan kesal.
"Huff ternyata kalau orang yang jarang marah sekali marah menyeramkan." ucap Starla. Dia memesan gojek dan setelah itu ke rumah Hima.
__ADS_1
"Tante.. Om.. Saya mau menjenguk Hima." ucap Starla.
"Hima lagi ada di kamar nya, masuk saja."
Starla masuk dia mengetuk pintu kamar terlebih dahulu dia melihat teman nya terkapar lemas.
"Ya Allah Hima kamu bodoh banget sih, hanya karena Pria kamu sakit seperti ini?" ucap Starla.
"Kamu jangan meledek ku, kamu juga seperti itu!" ucap Hima.
Starla Tertawa mendengar nya. "Apa kamu sudah Makan? Jangan lupa makan." ucap Starla. "Aku tidak berselera makan." ucap Hima.
"Kenapa? Kamu harus makan karena aku butuh bantuan kamu sekarang. Segera lah sembuh." ucap Starla.
Hima menggeleng kan kepala nya.
"Apa kamu tega membiarkan aku kesepian dia kampus? Apa kamu tega membiarkan aku sendirian saja kalau lagi ada masalah?" tanya Starla.
"Bukan seperti itu." ucap Hima. "Aku Akan membantu kamu mencari pengganti mantan kamu itu." ucap Starla.
"Bagaimana caranya?"
"Dengan cara kencan buta. Tapi sebelum itu aku minta bantuan kamu dulu." ucap Starla.
"Bantuan apa?" tanya Hima.
"Kamu tau kan Hubungan kak Martin dengan mbak Tifani sekarang sudah putus, bahkan orang tua nya sudah tau." ucap Starla.
"Lalu? Hima memaksa duduk agar bisa lebih fokus karena Melihat Starla sangat serius sekali.
"Aku masih tetap merasa bersalah sampai sekarang Hima, kira-kira bagaimana yah agar mereka bersatu lagi." ucap Starla.
"Kalau kak Martin sudah tidak mencintai mbak Tifani, bagaimana menyatukan nya lagi?" ucap Hima.
"Menurut ku hubungan yang sudah bertahun-tahun, bahkan orang tua sudah merestui tidak semudah itu untuk move on." ucap Starla.
"Jadi menurut kamu, kak Martin masih mencintai mbak Tifani?" tanya Hima. Starla mengangguk.
"Aku berfikir nya sih seperti itu, karena tadi kak Martin curhat tentang mbak Tifani tentang hubungan mereka." ucap Starla.
"Dan itu juga yang membuat Diki sekarang cemburu, aku jadi pusing. Ternyata dunia percintaan itu sangat rumit." ucap Starla.
"Huff seperti nya masih kita sama." ucap Hima, mereka berdua berpelukan sambil mengadu nasib satu sama lain.
Saling menyemangati dan saling memberikan solusi satu sama lain.
"Starla apa malam ini kamu mau menginap di sini?" tanya Hima. Starla tidak menolak dia menginyakan.
__ADS_1