
Seperti Dasi, alat tulis, barang-barang Starla yang di umpetin oleh Diki ternyata dia simpan selama ini.
"Aku tidak boleh menyerah, aku Tifani yang kuat. Aku harus memperjuangkan cinta ku, aku juga harus menepati janji ku kepada almarhum Orang tua Martin untuk menjaga mereka." ucap Tifani.
Tidak beberapa lama akhirnya dia tenang, dia melihat jam sudah jam sebelas malam.
"Sebaiknya aku tidur juga." ucap Tifani.
Diki kebetulan mau mengambil menenangkan diri nya ke luar dia melihat Tifani baru saja masuk ke kamar nya.
Dia tidak jadi Mengambil minum dan langsung masuk ke kamar nya lagi.
Keesokan harinya...
"Pagi ibu.." sapa Starla yang baru saja bangun dan menyusul Ibu nya ke dapur.
"Ini masih dini hari, kenapa kamu bangun sangat cepat nak? Ini kan hari Minggu." ucap ibu nya.
"Gak apa-apa Bu." ucap Starla.
"yakin gak apa-apa?" tanya Ibu nya. Starla tersenyum.
"Ada apa? Coba bilang apa yang bisa ibu bantu." ucap ibu nya.
"Tidak ada Bu." ucap Starla. Ibu nya melihat Aneh kepada Starla.
"Ada apa sih nak, bilang saja." ucap Ibu nya.
"Humm sebenarnya aku mau minta tolong sama ibu." ucap Starla.
"Tuh kan, mau minta tolong apa?" tanya Ibu nya.
"Berhubung ini hari Minggu aku mau minta tolong ibu masakin untuk kak Martin yah." ucap Starla.
"Oohh. Tadi nya ibu saja baru mau bertanya apa nak Martin tidak ke sini." ucap ibu nya.
"Tidak Bu, kak Martin sangat sibuk. Itu sebabnya aku mengantarkan makanan itu ke rumah kak Martin." ucap Starla.
"Oohh ya udah kalau begitu." ucap ibu nya.
"Aku bantuin yah Bu." ucap Starla.
Ibu nya mengangguk.
Starla masak khusus untuk Martin kali ini.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
"Bu aku mau nganterin sekarang yah." ucap Starla.
"Ya udah nak, kamu siap-siap lah, ibu akan membuat ke tempat nya." ucap Ibu nya. Starla mengangguk.
__ADS_1
"Aku harus dandan cantik agar Kak Martin senang aku datang." ucap Starla sambil merias wajah nya dengan Sangat Cantik seperti biasa.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga, dia memilih pakaian yang bagus menurut nya.
"Ya ampun Nak, kamu cantik banget hanya mengantar kan makanan saja." ucap ibu nya. Starla tersenyum malu.
"Ya udah nak kamu hati-hati di jalan yah, ibu titip salam sama Martin." ucap Ibu nya.
"Iyah Bu." ucap Starla. Starla berangkat menggunakan taksi online agar tidak terlalu kerepotan memegang bekal makanan.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. "Terimakasih banyak yah pak." ucap Starla langsung membayar nya.
"Bagus deh kak Martin masih di rumah, mobil nya juga masih di rumah." ucap Starla.
"Loh ini mobil baru? Aku baru melihat nya di sini." ucap Abel menunjuk mobil Mewah yang sama dengan Martin namun berbeda warna.
Plat mobil nya juga nama perempuan.
"Assalamualaikum..." Starla mengetuk pintu Sebelum masuk ke rumah walaupun pintu terbuka.
"Iyah.. Siapa yang datang?" tanya Tifani.
Starla melihat perempuan yang asing bagi nya.
"Mencari siapa yah?" tanya Tifani sambil tersenyum.
"Mau mencari kak Martin. Kak Martin nya ada?" "Siapa yang datang?" tanya Martin yang baru saja turun dan menyusul ke depan.
"Ini loh sayang. Perempuan ini mencari kamu." ucap Tifani.
Martin melihat Starla.
Martin dan Starla sama-sama kaget dan terdiam satu sama lain.
"Sayang apa kamu kenal?" tanya Tifani. Martin mengangguk.
"Kamu masuk lah dulu ke dalam. Aku akan berbicara dengan dia." ucap Martin kepada Tifani.
Tifani mengangguk Dia masuk ke dalam.
"Kenapa kamu datang ke sini tidak mengabari saya?" tanya Martin.
"Aku mau mengantar kan sarapan untuk Kakak." ucap Starla. Martin Mengambil nya.
"Kita bicara di luar yah." ucap Martin.
"Tidak perlu.." ucap Starla.
Martin memegang tangan Starla namun Starla menepis nya.
"Aku mohon jelasin semuanya sekarang kak." ucap Starla.
__ADS_1
"Kamu jangan salah paham, kita tidak bisa membicarakan ini di sini, ayo kita membicarakan nya di luar." ucap Martin.
Starla menggeleng kan kepala nya. "Dia pacar kakak?" tanya Starla.
Tifani mendengar kan pembicaraan mereka. Diki yang mendengar suara dari bawah dia langsung bangun dan melihat ke bawah.
Melihat Starla datang dia langsung panik dan khawatir.
"Iyah dia pacar saya." ucap Martin. Starla langsung terdiam seribu bahasa, dia tidak bisa mengatakan apapun. Makanan yang belum sempat di ambil oleh Martin jatuh ke lantai dan berserakan.
Air mata nya keluar, sangat kecewa marah semua bercampur aduk di dalam hati nya.
"Kenapa kakak sangat jahat? Kenapa kakak sangat tega menyelingkuhi aku?" ucap Starla.
"Plak!!" Tamparan di wajah Martin.
"Dengar kan saya! Dengar kan saya terlebih dahulu." ucap Martin. "Tidak ada yang perlu di jelasin kak." ucap Starla.
"Kamu tidak tau yang sebenarnya, kamu jangan marah terlebih dahulu." ucap Martin.
"Bagaimana aku tidak marah kak, kakak menduakan aku, aku sangat percaya sama kakak." ucap Starla.
"Starla..." Martin Mencoba menenangkan Starla, mau menjelaskan apa yang terjadi tidak seperti apa yang dia pikirkan.. Namun Starla sudah terlanjur kecewa.
"Sudah lah kak, aku tidak butuh penjelasan apa-apa lagi. Kita sebaiknya putus saja." ucap Starla. Martin menggeleng kan kepala nya.
"Tidak Starla, tidak." ucap Martin.
Starla menggeleng kan kepala nya.
"Untuk apa aku bertahan dengan pria yang tidak setia seperti Kakak." ucap Starla.
"Saya sangat mencintai kamu Starla, saya sangat tulus. Saya ingin kamu kasih waktu kepada saya untuk menjelaskan nya." ucap Martin.
Starla menggeleng kan kepala nya. Dia langsung pergi meninggalkan Martin karena sudah sangat tidak bisa menahan air mata nya.
Dia berlari meninggalkan rumah itu. Martmau mengejar nya namun di tahan oleh Diki.
"Kakak tidak perlu mengejar nya." ucap Diki.
"Kamu jangan ikut campur!" ucap Martin.
"Aku harus ikut campur kak, ini semua kesalahan kakak. Asal kakak tau aku sangat mencintai Starla aku tidak akan membiarkan kakak menyakiti nya." ucap Diki.
Martin kaget mendengar Diki mengatakan itu.
"Sebaiknya kakak mengurus Tifani!" ucap Diki langsung pergi mengejar Starla.
"Starla! Starla." panggil Diki mengejar Starla yang berlari di jalan Raya. Mobil berlalu lalang tidak dia perhatikan. Berjalan sambil menangis.
Diki mengejar nya sampai dapat. "Starla jangan membahayakan diri kamu sendiri Starla." ucap Diki.
__ADS_1
"Hiks!! Hiks!! Hiks!! Kenapa Semua orang sangat jahat kepada ku? Kenapa kebahagiaan tidak bertahan lama pada diri ku? Selalu saja aku kecewa, aku selalu tidak beruntung dalam hal apapun." ucap Starla sambil menangis.
Diki menggeleng kan kepala nya. dia langsung memeluk Starla sangat erat.