
"Kak Martin pasti memiliki alasan Bu, tidak mungkin dia melakukan nya dengan sengaja, mau sampai kapan ibu harus seperti ini? Almarhum ayah tidak akan tenang di atas sana." ucap Starla.
"Diki sudah banyak membantu kita Bu, begitu juga dengan kak Martin." ucap Starla. Ibu nya menangis dia duduk lemas.
Diki khawatir terjadi apa-apa kepada Bu Irma.
"Aku tidak akan memaksa kan ibu untuk memaafkan aku dengan kak Martin. Tapi ijinkan kami untuk menjaga ibu dan Starla menggantikan Almarhum." ucap Diki.
Starla sangat terharu dengan kata-kata Diki. Bu Irma melihat Martin berdiri di gerbang. Bu Irma menunduk kan kepala nya.. Martin mendekat dia berlutut bersama Diki.
Tidak berani mengatakan apapun, namun raut wajah nya sudah menyampaikan semua nya.
"Bu..." Diki memegang tangan Bu Irma.
"Berdiri! Berdiri kalian berdua!" ucap Bu Irma. Starla sudah sangat bingung.
Martin dan Diki berdiri.
"Kami sudah menganggap ibu sebagai ibu kami, kami akan melakukan apapun demi mendapatkan maaf dari ibu." ucap Bu Irma.
Bu Irma masih belum bisa menjawab.
"Kak Martin, Diki sebaik nya kalian pulang dulu." ucap Starla karena dia takut ibu nya akan marah.
"Tapi.."
"Aku mohon." ucap Starla.
Mereka pun menginyakan.
"Kami pamit Bu." ucap Diki.
Mereka pun pergi meninggalkan rumah Starla.
Diki dan Martin pergi dengan wajah yang sangat kecewa, sedih.
"Sudah Bu tidak perlu terlalu di pikirkan, kalau begitu ibu istirahat di rumah saja yah, ibu tidak perlu ikut." ucap Starla.
Ibu nya mengangguk dan masuk ke dalam.
Starla melihat roti yang masih bagus namun sedikit hancur karena terbanting ke lantai.
Starla meletakkan di atas meja dan setelah itu berangkat ke pasar.
Sampai di pasar dia kaget melihat Martin dan Diki di sana menunggu nya dengan wajah sedih.
Starla menghela nafas panjang melihat mereka berdua.
"Apa yang kalian tunggu di sini?" ucap Starla.
Diki dan Martin menoleh ke arah Starla.
__ADS_1
"Starla.. bagaimana kalau Bu Irma tidak akan pernah memaafkan saya?" tanya Martin. Starla bingung menjawab apa dia menata jualan nya.
"Ibu belum bisa berfikir dengan baik, tidak mungkin ibu tidak memaafkan kakak." ucap Starla. Martin menghela nafas panjang.
"Malam ini kami akan membantu kamu jualan." ucap Diki.
"Sebaiknya tidak usah." ucap Starla.
"Kami tidak tau harus melakukan apa, kami pusing." ucap Diki. "Kalau begitu Bagus deh, kali ini kalian harus membuat dagangan ku laris semua." ucap Starla.
Diki dan Martin langsung berdiri dari tempat duduk.
"Baik bos Starla." ucap mereka berdua dan langsung mengundang pembeli.
Dan lagi-lagi penampilan membuat banyak yang datang dan tertarik.
Tidak butuh waktu lama dagangan Starla habis semua. Diki dan Martin duduk bersama, walaupun tidak saling berbicara sudah bisa membuat Starla tersenyum.
Dia datang membawa minuman yang dia beli di dagangan sebelah untuk mereka.
"Aku senang deh melihat kak Martin dan Diki akur seperti ini." ucap Starla. Diki mengangguk. Martin tersenyum.
"Kalau kompak dan akur seperti ini melihat nya lebih enak." ucap Starla.
Martin dan Diki tersenyum.
"Kalau begitu sebaiknya kita kembali beres-beres, kamu harus cepat pulang dan Istirahat." ucap Diki.
"Maaf yah kakak pulang duluan." ucap Martin.
Starla tersenyum. "Aku juga senang akhirnya kamu mau memaafkan Aku dengan kak Martin." ucap Diki. Starla tersenyum.
Mereka Pun membawa barang-barang masuk ke dalam mobil.
"Ayo pulang." ajak Starla. Diki melihat pasar malam masih berjalan seperti biasa.
"Pasar malam sudah mau habis, apa kamu tidak mau main-main ?" tanya Diki.
Starla menggeleng kan kepala nya. "Aku sudah lelah."
"Aku ingin ngajakin kamu untuk main-main besok." ucap Diki. "Aku jualan."
"Kamu besok berhenti jualan yah, aku akan membayar kamu satu malam sesuai dengan pendapatan kamu hari ini."
"Tapi..."
"Jangan nolak yah, aku mohon." ucap Diki.
Starla mencoba menghitung pendapatan nya.
"Apa kamu mau membayar segini?"
__ADS_1
"Aku akan membayar dua kali lipat asal kamu mau ikut dengan ku untuk bermain." ucap Diki.
Starla tersenyum. "Rejeki tidak boleh di tolak, lagian ini tidak gratis, aku ambil saja deh " ucap Starla.
"Oke, aku terima." ucap Starla. Diki terlihat sangat senang sekali.
"Ayo kita pulang kalau begitu." ucap Diki. Mereka pun pulang ke rumah Starla.
Keesokan harinya di kampus Hima melihat Starla duduk di depan taman.
"Tumben-tumbenan banget sih aku melihat seorang Starla Tersenyum seperti ini? wajah nya lebih cerah dan terlihat senang." ucap Hima sambil duduk di depan Starla.
"Aku hanya senang saja karena SPP ku sudah aku bayar lunas." ucap Starla. "Oohh jadi kamu cemberut dan banyak fikiran karena SPP kamu?" tanya Hima.
Starla mengangguk. "Kamu jualan di pasar malam menjual handphone kamu untuk bayar SPP?" tanya Hima.
Starla mengangguk. "Ya Allah Starla, kenapa kamu gak ngomong sih sama aku? Kenapa kamu gak jujur sama aku? aku bisa bantu kamu." ucap Hima.
"Aku tidak mau menyusahkan teman-teman ku Hima, aku percaya aku bisa sendiri kok " ucap Starla.
"Huff kamu membuat ku seperti teman tidak ada gunanya.
"Ssttt!! Kamu berbicara apa sih? Aku tidak pernah berfikir seperti itu!" ucap Starla.
"Terimakasih ya Allah, engkau memberikan aku teman yang baik, dan juga di kelilingi orang yang perduli kepada ku " ucap Starla.
"Sudah jangan menyalah kan diri seperti itu, ayo masuk ke dalam." ajak Starla.
Mereka masuk ke dalam untuk melanjutkan pelajaran mereka.
Setelah kelas selesai di sore hari Starla tidak berniat langsung pulang karena dia tidak jualan jadi dia memiliki waktu beberapa jam membaca buku di perpustakaan.
"Sudah lama aku tidak ke perpustakaan seperti ini." ucap Starla. Hima tersenyum.
"Oh iya Starla bagaimana hubungan kamu dengan Diki dan kak Martin?" tanya Hima. Starla terdiam.
Hima seketika menyesal menanyakan tentang itu.
"Maaf-maaf Starla, aku tidak bermaksud untuk membahas nya.
"Enggak kok. Gak apa-apa. Aku dengan Diki sudah baik-baik saja, begitu juga dengan kak Martin. Mereka sangat baik membantu ku." ucap Starla.
Hima mendengar itu pun sangat lega.. "Jadi kamu balikan sama siapa? Kak Martin atau Diki?" tanya Hima.
"Hima.. " ucap Starla. Hima tersenyum.
"Aku hanya bercanda." ucap Hima.
"Lagian kamu sih kakak dan adik kamu jadikan mantan." ucap Hima.
"Kalau bisa memilih aku juga tidak ingin seperti ini." ucap Starla. Hima tersenyum.
__ADS_1
"Kamu sudah balikan dengan Diki?" tanya Hima. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Aku belum kefikiran ke sana." ucap Starla.