
"Oh iya kamu dengan Starla kapan? Jangan lama-lama loh." ucap Tifani. Diki tersenyum sambil mengangguk.
Setelah itu mereka berbincang-bincang dengan keluarga.. Namun Diki sadar kalau Starla tidak ada di sana. Dia mencari keluar.
"Starla.." ucap Diki melihat Starla duduk di depan.
Starla menoleh ke arah Diki.
"Kenapa kamu di luar ibu mana?"
"Ibu lagi sama kak Martin dan Mbak Tifani." ucap Starla.
"Kesempatan bagus nih, untuk berduaan sama Kamu." ucap Diki.
Tifani tersenyum.
Diki memegang tangan Starla. Namun tiba-tiba ada anak kecil.
"Om.. Tante.. balon ku lepas, bantu ambil kan." ucap anak perempuan itu. Diki menghela nafas panjang.
"Ada saja yang menggangu." ucap Diki.
Diki dan Starla membantu anak perempuan itu mengambil balon.
"Nih, pegang yang kuat jangan lepas lagi." ucap Diki.
"Om galak banget, aku takut Tante." ucap anak itu bersembunyi di belakang Starla.
"Diki jangan memasang wajah seperti itu, dia anak kecil tidak tau apa-apa." Diki menghela nafas panjang.
"Dia sudah mengganggu kita hanya karena Balon."
"Tante... Ayo masuk ke dalam." ucap Anak itu. Diki akhirnya di tinggal kan sendiri di luar.
Di malam hari nya. Diki, Starla. Martin dan juga Tifani sedang mangggang di belakang rumah.
Starla dan Tifani melihat Diki dan Martin.
"Senang melihat mereka akur." ucap Tifani. Starla tersenyum.
"Almarhum pasti sangat senang melihat nya." ucap Starla. Tifani mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya Mbak, setelah menikah mbak mau lanjut kerja atau ikut kak Martin ke kota kami?" tanya Starla.
"Humm kamu belum membicarakan nya." ucap Tifani.
Setelah selesai Makan mereka istirahat karena sudah lelah seharian.
"Aku Tidur dengan ibu dulu yah, selamat malam." ucap Starla kepada Diki. Diki tersenyum sambil mengangguk dia menunggu Starla sampai masuk ke kamar baru dia pergi ke kamar nya dengan paman nya.
"Ka-kamu tidak mau mandi dulu?" tanya Tifani Kepada Martin yang berbaring sambil main handphone di tempat tidur.
Martin melihat Tifani sangat tegang, sebenarnya dia juga sangat lah gugup namun berusaha untuk biasa saja.
"Humm apa kita harus mandi dulu?" tanya Martin.
"Ki-Kita?" tanya Tifani kaget. Martin mengangguk.
"Humm."
"Tidak perlu canggung, kita sudah menjadi suami istri." ucap Martin langsung menarik tangan Tifani perlahan masuk ke kamar mandi.
"Tolak Tifani. Tolak." Namun sudah terlanjur di dalam kamar mandi.
"Aku bantu buka yah " ucap Martin sambil membuka baju Tifani.
Cukup lama di kamar mandi mereka pun akhirnya keluar walaupun masih saling canggung.
"Duduk lah di sini." ucap Martin menepuk tempat tidur di samping nya. Tifani duduk.
"Humm Martin.. Aku masih sangat gugup, aku belum biasa. Bisa tidak kita melakukan nya setelah aku siap?" tanya Tifani.
Martin tertawa mendengar itu.
"Aku serius." ucap Tifani.
"Sudah-sudah jangan membahas itu, aku tidak akan memaksa kamu kok." ucap Martin.
__ADS_1
Tifani tersenyum.
"Saya mau bilang kalau Minggu depan kamu ikut aku ke kota aku yah? Kamu berhenti bekerja di sini karena kamu sudah menjadi istri ku menjadi tanggung jawab ku." ucap Martin.
"Bagaimana dengan mamah sama Papah."
"Aku sudah membicarakan nya kepada mereka kok. Mereka setuju tergantung kamu saja."
"Kalau begitu aku juga setuju, kamu sudah menjadi suami ku." ucap Tifani.. Martin tersenyum.
Martin mengelus rambut Tifani.
"Tifani aku benar-benar tidak bisa menahan nya, aku sudah menahan ini sudah sangat lama, melihat kamu berpakaian seperti ini membuat ku semakin tidak bisa menahan diri."
"Aku tidak tau cara nya."
"Kamu berbaring saja aku akan melakukan nya."
"Aku takut sakit."
"Tidak apa-apa." ucap Martin.
Keesokan harinya...
"Mbak Tifani mana? Kok belum keluar dari kamar?" tanya Diki dan Starla.
"Dia masih tidur seperti nya kelelahan." ucap Martin.
"Huff kakak melakukan hal apa?" tanya Diki.
"Diki!" ucap Starla.
"Ya udah kalau begitu kamu pamit Pulang dulu yah kak."
"Iyah, hati-hati di jalan, terimakasih sudah mau datang ke sini."
Mereka semua berpamitan dan pulang ke kota mereka.
Keesokan harinya Starla dan Diki berangkat ke kampus bersama.
Semakin hari hubungan mereka semakin baik dan Starla sudah sangat sering berkunjung ke Cafe tidak lupa membawa Bu Irma.
Dua Minggu kemudian.
"Diki kemana sih? Kenapa dia dari kemarin tidak menghubungi aku?" ucap Starla. Dia mencari ke Cafe namun tidak ada juga.
"Huff Kemana sih dia?" dia mencoba menelpon dan akhirnya di jawab juga.
"Halo Diki, kamu dari mana saja? Aku mencari kamu!" ucap Starla dengan sangat khawatir.
"Diki ada pada saya! Kalau kamu ingin saya melepaskan Diki bawa uang 150 juta ke sini. Saya akan mengirimkan lokasinya." ucap pria yang balik telepon.
Starla sangat kaget dia mencoba berteriak kepada Pria itu namun Sudah mati.
Akhirnya dia menghubungi Martin dan Tifani, dia juga bilang kepada ibu nya.
"Kak Martin bagaimana ini? Kita harus segera menyelamatkan Diki, aku yakin itu pasti pak Faisal." ucap Starla.
"Kamu tenang dulu, sekarang bawa uang ini kepada nya, kakak akan menelpon polisi."
Malam itu Starla memberanikan diri sendiri ke sana. Dia sampai di alamat namun sangat gelap sekali membuat dia semakin takut.
"Diki!!! Diki!!!" Panggil Starla.
Tiba-tiba muncul pria dengan wajah yang sangat menyeramkan karena gelap tidak kelihatan wajah nya.
"Saya sudah membawa uang nya, lepas kan Diki."
"Baiklah saya akan melepaskan nya. Letakkan uang nya terlebih dahulu." ucap Pria itu.
Starla dengan sangat gugup meletakkan nya di tanah.
Tiba-tiba lampu hidup. Dan suara petasan serta sorakan orang yang sangat ramai menyanyikan selamat ulang tahun.
Starla sangat kaget dia menutup telinga dan jongkok meringkuk.
Namun dia mengangkat kepalanya melihat siapa yang ada di sana.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Starla..." ucap Diki membawa kue.
Starla melihat Diki.
"Apa-apaan ini? Kamu tidak apa-apa?" tanya Starla.
"Ibu, kak Martin, mbak Tifani. Hima kalian semua menipu ku?" tanya Starla.
"Ini semua ide nya Diki." ucap Martin.
"Aku ingin sesekali kamu memperdulikan aku, mencari ku, karena akhir-akhir ini kamu sangat Sibuk sehingga tidak memperdulikan aku."
"Tapi tidak harus seperti ini Diki, kamu membuat jantung ku hampir copot, bagaimana kalau ini benar-benar terjadi? Aku tidak tau harus apa?" ucap Starla sambil menangis.
Diki memeluk Starla.
"Maafin aku, maafin aku, tapi aku sangat berterimakasih sama kamu, kamu mau ke sini menyelamatkan aku." ucap Diki.
"Aku mencintai kamu, aku tidak mau kehilangan kamu." ucap Starla.
"Aku juga sangat mencintai kamu." ucap Diki memeluk Starla mereka berpelukan.
semua nya bertepuk tangan.. Starla dan Diki langsung melepaskan pelukan nya.
"Lilin sudah meleleh, ayo tiup dulu Lilin nya." ucap Martin.
Starla ulang tahun umur yang ke 20 tahun.
Dia sangat senang sekali.
"Selamat ulang tahun yah nak, ibu tidak ada kado untuk kamu, karena ibu juga lupa, maklum sudah tua, untung saja ada Diki dan nak Martin yang mengingat."
"Iyah Bu, tidak apa-apa.. Ibu ada di sini sehat sudah melebihi hadiah Apa Pun." mereka pun berpelukan.
"Starla selamat ulang tahun yah, ini Hadiah dari kakak." ucap Martin memberikan kotak hadiah.
"Dari aku hanya ini." ucap Tifani.
"Kenapa begitu kecil mbak?" tanya Diki.
"Sudah tidak apa-apa. Besar kecil nya tidak masalah, yang penting niat nya." ucap Martin.
"Aku buka ya mbak." ucap Starla.
Dia membuka. Semua orang kaget melihat isi nya tes kehamilan garis dua.
"Kamu hamil?" tanya Martin yang ikut kaget juga.
Tifani mengangguk.. Mereka semua langsung memeluk Tifani.
"Aku mau menjadi om?" tanya Diki. Tifani mengangguk.
Setelah banyak nya drama akhirnya Tifani dan Martin membawa Bu Irma pulang memberikan waktu kepada Starla.
"Starla.. Sekarang semua nya cita-cita kita sudah tercapai. Kamu juga sudah mendapatkan nilai yang bagus dan memberikan rumah yang layak kepada ibu kamu. Apa kah kita tidak ada kemajuan untuk hubungan kita?" tanya Diki.
"Humm..."
"Aku ingin bertunangan dengan kamu." ucap Diki.
"Bagaimana mau tunangan, kita saja belum pacaran."
"Oh iya aku lupa kalau kita belum balikan." ucap Diki.
"Baiklah aku akan tunangan dengan kamu." ucap Starla. Diki tersenyum dia langsung memeluk Starla.
"Aku mencintai kamu, aku sangat menyanyangi mu dan aku akan berjanji untuk menjaga mu." ucap Diki. Starla mencium bibir Diki terlebih dahulu. Diki membalas nya.
Beberapa Minggu setelah itu mereka bertunangan membuat seluruh kampus heboh namun sekarang Starla dan Diki sudah bahagia.. Walaupun terkadang ada masalah mereka tidak akan pernah berpisah lagi.
Mereka sudah sama-sama dewasa sekarang dan akan bersama Selamanya.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Tamat
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...
__ADS_1