
Setelah masuk ke kamar dia kaget melihat tempat tidur setengah sudah Terkena muntahan Hima. Semua yang dia makan dan minum keluar.
Starla menghela nafas panjang. Dia tidak tau harus bagaimana lagi dan harus tidur di mana.
Bagian yang bersih sudah di penuhi oleh badan Hima.
"Kenapa kamu keluar lagi?" tanya Diki.
"Hima mengotori tempat tidur dengan muntahan nya. Aku akan tidur di sofa." ucap Starla.
"Jangan.. kamu tidur di kamar ku saja." ucap Diki.
"Terus kamu?" tanya Starla. "Aku bisa tidur di sofa." ucap Diki.
"Kamu yakin gak apa-apa?"
"Gak apa-apa, demi perempuan yang aku sayang, tidak mungkin aku membiarkan kamu tidur di sofa, nanti badan kamu sakit." ucap Starla.
"Kamu baik banget sih, ya udah anterin aku, aku sudah sangat mengantuk." ucap Starla.
Starla di antar ke kamar. "Good night sayang." ucap Diki mencium pipi Starla. "Kamu yakin tidak mau tidur bersama ku di sini? Tempat tidur nya cukup luas." ucap Starla.
Diki menggeleng kan kepala nya, "Tidak!" ucap Diki.
"Yakin? Kamu akan sakit-sakit badan kalau tidur di sofa seperti di rumah nenek waktu itu." ucap Starla.
"Tidak perlu Starla, tidak apa-apa." ucap Diki.
"Di sini masih sangat luas, tidak apa-apa." ucap Starla sambil menepuk-nepuk tempat tidur di samping nya.
Diki menggeleng kan kepala nya dia langsung keluar mematikan lampu.
"Tidur!" ucap Diki.
Dia Langsung menutup pintu.
Starla tersenyum. Dia sangat suka membuat Diki malu, kesal dan juga salting karena tingkah laku Starla.
Keesokan harinya..
"Starla bangun..." Diki membangun kan Starla dengan lembut.
"Jangan ganggu aku dulu Bu, aku masih sangat ngantuk. Ini juga masih pagi." ucap Diki.
"Ini sudah jam enam." ucap Diki.
Starla membuka mata nya dia melihat ternyata itu adalah Diki.
"Aku bukan ibu kamu." ucap Diki. Starla tersenyum. "Maaf aku tidak tau tadi nya aku pikir kamu ibu." ucap Starla.
"Sudah waktunya bangun." ucap Diki.
"Bentar lagi yah, aku masih sangat ngantuk." ucap Starla.
"Bangun sekarang. Kamu harus pulang ke rumah, Hima juga." ucap Diki.
__ADS_1
Starla menggeleng kan kepala nya dia membalut tubuh nya di selimut.
"Bangun Sayang...."Ucap Diki menarik selimut Starla.
Starla menghela nafas panjang. "Iyah-iyah aku bangun." ucap Starla.
Diki mencubit pipi Starla.
"Sadar." ucap Diki. Starla bersandar di pundak Diki.
"Huff kamu tidak mengerti aku." ucap Starla.
"Kamu bisa saja lanjut tidur, tapi orang tua kamu dan orang tua Hima akan marah. Mereka juga pasti khawatir sebelum kalian pulang." ucap Diki.
Starla memasang wajah cemberut. "Aku mau tiduran sebentar di sini." ucap Starla memaksudkan dada Diki.
Diki tidak bisa menolak nya dia pun langsung memeluk Starla.
"Starla... Diki.." panggil Hima dari luar. Dia mencari Starla di rumah yang sangat asing bagi nya.
Dia hanya mengingat dia di dalam mobil Diki dan Starla tadi malam.
Diki dan Starla yang mendengar itu langsung sadar.
"Bagaimana ini?" tanya Starla.
"Kamu tunggu saja di sini, aku akan keluar terlebih dahulu." ucap Starla.. Mereka masih ingin menyembunyikan hubungan mereka.
"Kamu sudah bangun?" tanya Starla kepada Hima.
"Iyah Starla, kita lagi di mana ini? Ini apartemen siapa?" tanya Hima.
"Oohh gitu yah, tapi Diki nya mana?" tanya Hima.
Diki baru saja keluar dari kamar.
"Loh kok kamu keluar dari kamar yang sama?" tanya Hima Heran.
"Aku numpang kamar mandi, kamar mandi yang di luar tiba-tiba rusak." ucap Diki.
"Oohh. Aku mau ngucapin terima kasih ya sama kamu sudah mengijinkan kami tinggal di sini." ucap Hima.
"Iyah." jawab Diki.
"Soal tempat tidur, aku akan meminta orang membersihkan nya, maaf sudah merepotkan kamu." ucap Hima.
Diki mengangguk. Wajah Hima masih terlihat sangat sedih.
Diki mendekati Hima. "Kamu jangan melakukan hal seperti ini lagi kalau lagi ada masalah." ucap Diki.
"Aku sangat sedih, aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak bisa melakukan apapun selain mabuk." ucap Hima.
"Banyak pria yang lebih dari mantan kamu di luar sana, tidak ada gunanya kamu menangisi pria seperti itu." ucap Diki.
"Kamu benar. Tapi aku sudah terlanjur mencintai dia." ucap Hima. Hima tiba-tiba menangis.
__ADS_1
Diki tidak tega melihat nya dia mengelus pundak Hima.
Hima memeluk Diki membuat Diki kaget begitu juga dengan Starla.
Starla hanya diam saja. Diki berusaha melepaskan nya namun Hima memeluk nya sangat erat.
"Aku tidak tau harus bagaimana sekarang, aku tidak bersemangat lagi, aku begitu sakit hati." ucap Hima.
Starla mendekati Hima.
"Kamu jangan terlalu memikirkan nya Hima, kalau kamu terlalu memikirkan nya kamu pasti semakin sedih." ucap Starla.
Setelah selesai sarapan Diki mengantarkan Hima pulang bersama Starla. Selanjutnya Diki mengantarkan Starla.
Diki melihat Starla hanya diam saja. "Kamu kok diam saja sih?" tanya Diki.
"Tidak apa-apa." ucap Starla.
"Kamu kuliah mau aku jemput?" tanya Diki.
"Tidak perlu." ucap Starla.
"Loh kenapa?" tanya Diki. Starla menggeleng kan kepala nya.
"Ya udah kalau gak mau, aku gak maksa."
"Tapi kamu bisa kan nanti malam temanin aku keluar ke rumah temen ku?"
"Nanti malam aku mau bantuin Ibu." ucap Starla.
"Oh iya yah, bagaimana kalau sore setelah pulang dari kampus."
"Aku juga tidak bisa." ucap Starla. Diki menghela nafas panjang.
"Ya udah kalau gak bisa, aku akan mengajak teman ku." ucap Diki.
Starla sudah sampai di rumah.
"Starla kamu dari mana saja sih nak? Kenapa baru pulang?" tanya Ibu nya.
"Aku minta maaf Bu, aku menginap di rumah Hima tadi malam." ucap Starla.
"Ya ampun nak, kenapa kamu menginap di sana? Kamu membuat ibu khawatir." ucap Bu Irma.
Aku sudah ijin kepada ibu, kenapa ibu tidak membaca pesan ku?" tanya Starla.
"Ibu sangat jarang membuka pesan masuk, nomor kamu ibu telpon tapi tidak aktif, ibu semakin khawatir." ucap Ibu nya.
"Maaf Bu." ucap Starla memeluk ibu nya.
"Tidak biasanya kamu seperti itu, jadi ibu khawatir. Walaupun kamu sudah dewasa tapi ibu tetap khawatir, ibu hanya memiliki kamu." ucap Bu Irma.
Starla mengingat tadi malam dia minum, dia sangat merasa bersalah dia memeluk ibunya erat-erat sekali.
"Ya udah kamu mandi sana, nanti kamu telat lagi ke kampus." ucap ibu nya. Starla mengangguk.
__ADS_1
"Oh iya kamu mau di buatin sarapan apa?"
"Nasi goreng yang pedas Bu." ucap Starla. Ibu nya tersenyum sambil mengangguk.