Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu

Starla Perempuan Lugu Dan Pemalu
Episode 77


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Starla.


"Aku memutuskan pindah dari rumah ke sini."


"Loh kenapa?" Starla kaget.


"Ada masalah lagi dengan kak Martin? Ada apa lagi sih Ki? Bisa gak sih sesama saudara itu akur?" ucap Starla.


"Dengar dulu Starla." ucap Diki.


"Gak bisa! Aku gak setuju kamu pindah ke sini. Kalau keluarga kalian tau, mereka pasti akan sangat Marah." ucap Starla.


"Pokoknya kamu harus kembali ke rumah lagi, kamu gak boleh pindah ke sini." ucap Starla.


Diki menggeleng kan kepala nya. "Aku akan tetap di sini. Semua nya sudah aku pindah kan ke sini." ucap Diki.


"Kamu benar-benar sangat keras kepala. Kalau kamu tidak mau kembali ke rumah aku akan pu..."


"Coba dong Starla pahami aku. Ini sudah keputusan aku." ucap Diki.


Starla seketika langsung diam. Diki menatap nya.


"Aku ingin keluar dari rumah itu agar aku bisa berubah, hidup dan pola pikir ku berubah." ucap Diki.


Starla diam sejenak dia seperti memikirkan sesuatu.


"Sekarang kamu jujur saja deh, sebenarnya apartemen ini bukan milik kamu kan?" tanya Starla.


"Percaya atau tidak itu urusan kamu." ucap Diki. Starla memasang wajah kesal.


"Huff aku hanya mau memastikan saja, aku hanya ingin kamu jangan terlalu bergantung kepada kak Martin." ucap Starla.


"Aku mengerti Starla." ucap Diki. Starla Menatap Diki.


"Jadi bagaimana dengan rumah kamu?" tanya Starla.


"Kak Martin sangat jarang di rumah. Apalagi akhir-akhir ini kak Martin banyak berubah." ucap Starla.


"Sudah jangan membahas itu." ucap Diki.


"Kamu adalah anak bungsu Ki, kamu yang harus tinggal di rumah itu." ucap Starla.


"Kalau aku sudah menikah aku akan tinggal di sana, kalau masih sendiri aku bebas kemana saja tidak ada yang bisa melarang aku." ucap Diki.


Starla menghela nafas panjang.


"Ya udah deh Terserah kamu saja, aku tidak mengerti dengan kamu." ucap Starla.


Diki memegang tangan Starla.

__ADS_1


"Aku paham kok apa yang kamu khawatir kan. Tapi kamu harus tau kalau aku dengan kamu itu berbeda." ucap Diki.


"Kamu tidak bisa pergi dari rumah itu karena kamu anak tunggal dan hanya kamu yang bisa menjaga ibu. Aku tidak ada tanggungan selain diri ku sendiri." ucap Diki.


Starla menunduk kan kepala nya. "Iyah aku paham kok. Ya udah deh aku tidak mau mempermasalahkan ini." ucap Starla. Diki tersenyum.


"Jadi apa yang bisa aku bantu?" tanya Starla.


"Tidak perlu. Kamu duduk temanin aku saja." ucap Diki.


"Yakin tidak mau bantuan aku?" tanya Starla melihat pakaian Diki yang berserakan.


Diki melihat semua nya. "Aku tau sebelum nya kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini, kamu kan anak manja." ucap Starla.


Diki diam karena malu. "Baiklah aku akan membantu kamu menata barang-barang yang benar." ucap Starla.


Mereka mulai menggeser semua yang perlu di geser, di pindahkan dan juga Perlu di susun.


"Kamu pasang apa itu?" tanya Starla melihat Diki memalu dinding.


Starla melihat Diki memasang foto mereka berdua di kamar nya.


Starla tersenyum malu. "Seharusnya kamu tidak perlu menempelkan ini." ucap Starla.


"mungkin bagi kamu ini foto biasa, namun foto ini sangat berarti bagi saya, ini adalah foto pertama kita setelah berpacaran." ucap Diki.


Diki mencium pipi Starla yang tersenyum. "Diki! Jangan seperti itu." ucap Starla.


"Sudah-sudah ayo kita lanjut lagi." ucap Starla.


Lanjut merapikan barang-barang.


"Aku tidak sabar suatu saat nanti kalau sudah menikah kita tinggal bareng dan menyusun barang-barang di rumah Baru." ucap Diki.


"Menyusun barang-barang di apartemen saja kamu sudah seperti kerja berat, apalagi menyusun barang-barang di rumah." ucap Starla.


"Kamu ingin menikah di umur berapa?" tanya Diki.


"Humm aku sih gak patokin ke umur. Aku hanya menunggu takdir tuhan saja." ucap Starla.


"Lalu kalau di takdir kan tahun depan?" tanya Diki.


"Ya tetep harus nikah." ucap Starla. Diki tersenyum. "Aku harus semangat mengumpulkan mahar kamu." ucap Diki.


Starla tersenyum. "Bagaimana kamu mau mengumpulkan mahar untuk ku? Nanti kalau sudah menikah aku sudah menjadi tanggungjawab kamu." ucap Starla.


"Kamu tidak percaya kepada ku?"


Starla Menatap wajah Diki.

__ADS_1


"Jangan sampai kamu meminta uang kak Martin." ucap Starla. Diki menggeleng kan kepala nya.


"Kamu duduk manis saja," ucap Diki. Melihat wajah serius Diki membuat nya tersenyum.


Di sore hari akhirnya barang-barang semua nya sudah di susun rapi. Starla membersihkan lantai..Diki datang membawa minuman dan juga cemilan untuk Starla.


"Makasih yah sudah mau bantuin aku." ucap Diki.


"Tidak ada yang gratis. Tidak cukup dengan terimakasih. Aku mau meminta imbalan." ucap Starla.


"Apa? aku akan menuruti semua kemauan kamu." ucap Diki.


"Tidak banyak, aku hanya mau kamu datang di acara pengajian anak-anak panti asuhan dua hari lagi." ucap Starla.


"Aku bertugas sebagai guru di sana, dan aku mau kamu jadi panitia nya."


"Loh bukannya sudah ada orang nya?"


"Memang sudah ada, hanya saja aku ingin kamu yang melakukan nya."


"Baiklah kalau begitu, tidak begitu sulit kok." ucap Diki. Starla tersenyum.


"Acara pengajian, itu artinya kak Martin juga datang?" tanya Diki.


Starla mengangguk. "Kak Martin sering ke sana, tidak mungkin dia tidak hadir di acara penting.


Dan asal kamu tau ini bukan acara kecil, ini acara yang besar." ucap Starla.


"Kamu sengaja mengatakan itu agar aku takut dan khawatir kan? aku tidak akan takut. Aku akan membuktikan kepada kak Martin aku bisa menyesuaikan diri dengan kamu.. Semua tentang kamu aku harus bisa tau." ucap Diki.


"Kamu benar-benar pria yang sangat gentleman, aku bangga punya pacar seperti kamu." ucap Starla.


"Kamu bisa masak gak?" tanya Diki. Starla mengangguk.


"Kamu jangan pulang dulu yah, aku mau di ajarin masak sama kamu." ucap Diki.. Starla tertawa mendengar itu.


"Aku tau kamu mau mandiri sayang, tapi gak harus belajar masak juga." ucap Starla.


"Kalau aku tidak bisa masak, aku harus bagaimana dong?"


"Kamu bisa membeli di luar seperti biasa."


"Tapi..."


"Karena kak Martin pandai Masak? Kamu tidak perlu menyaingi kakak kamu sendiri sayang." ucap Starla.


Diki menghela nafas panjang. "Aku ingin kamu bangga terus punya aku." ucap Diki.


"Kamu seperti ini aku sudah bangga kok memiliki kamu." ucap Starla.

__ADS_1


Diki mendekati Starla. "Tapi tetap saja aku merasa aku belum pantas bersama kamu." ucap Diki.


__ADS_2