Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 100


__ADS_3

Akhirnya mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di tengah kota. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua setengah jam. Bahkan si kembar kembali ceria, mereka memasuki mall dengan riang gembira.


"Ayah Ayah Ayah" teriak Key heboh kala melihat sebuah gaun pernikahan yang ada di videotron.


"Apa Key?"


"Ayah aku mau itu, ayo kita beli"


"Aku juga mau itu Ayah, ayo ayo Ayah" imbuh Kai. Mereka berdua bergelayut manja di lengan El. Sikap lucu keduanya sukses membuat beberapa pengunjung menatap mereka dengan gemas.


Si kembar memang sudah tahu jika tujuan mereka adalah membeli gaun pernikahan untuk Jihan. Bahkan di perjalanan pun mereka banyak sekali bertanya, ini dan itu, keingintahuan yang sangat besar.


"Sayang, kenapa kalian mau gaun itu?" Tanya Asya penasaran. Padahal dirinya tengah asyik berbincang dengan Jihan.


"Aku mau lihat Bunda menikah lagi" jawab Kai begitu lantang.


"Apa? Kalian ini bicara apa?" Sentak El yang terkejut.


Kai dan Key ikut terkejut mendengar bentakan sang Ayah. Mereka menangis dalam pelukan Asya.


"Jagoan Bunda kok nangis, udah cup cup, sayangnya Bunda jangan nangis" ucap Asya menenangkan si kembar.


"Ayah bilang, baju itu untuk perempuan yang akan menikah" jelas Kai dalam Isak tangisnya.


"Aku juga mau lihat Bunda pakai baju itu. Aku mau Bunda terlihat seperti Ratu" imbuh Key. Mereka kembali menangis haru dalam pelukan sang Bunda.


El tertawa kikuk setelah mendengar penjelasan sang anak. Harusnya ia tak membentak si kembar, kini kedua putranya enggan untuk menatap dirinya. Asya terus berusaha membuat si kembar mengerti, namun keduanya masih menangis. Alhasil, Asya dan Jihan harus menggendong si kembar untuk menenangkan mereka.


Zio dan El berjalan mengikuti wanitanya, walau setiap mata perempuan menatap kedua pemuda tampan itu. Tapi mata mereka tak pernah lepas dari sosok wanita di hadapannya.


"Key, Om Zio gendong ya, kasihan Tante Jihan capek" ucap Zio menawarkan diri.


Key dengan polosnya mengangguk dan merentangkan tangannya pada Zio.


"Bunda capek? Aku mau jalan saja" Celetuk Kai berusaha turun dari gendongan Asya.


"Ayah gendong sayang, sini"


"Aku gak mau sama Ayah, jahat"

__ADS_1


"Maafin Ayah ya, Ayah harus apa biar kalian mau maafin Ayah?"


Kai menatap ke arah Key, mereka berdua saling berpandangan tanpa mengatakan apapun. Lalu Kai berbisik pada El jika mereka ingin melihat sang Bunda mengenakan gaun pengantin yang indah. El tentu sangat menyetujui nya, ia juga ingin Asya mengenakan pakaian pengantin sekali lagi. Ia merindukan pernikahan nya dengan Asya.


Setelah El setuju, Kai mengulurkan tangannya pada El, meminta di gendong.


"Aah lucu sekali"


"Mereka berdua sangat tampan"


"Ayahnya juga terlihat tampan"


"Mereka sangat serasi, suami idaman"


Banyak sekali pujian yang samar terdengar kala mereka melintas. El dan Zio sangat puas dengan pujian itu, sedangkan Asya dan Jihan ingin rasanya segera mungkin membawa pulang para pria mereka.


Di butik gaun...


Jihan dan Zio memilih lebih dulu, diikuti oleh Kai dan Key yang juga melihat-lihat gaun untuk sang Bunda. Sedangkan El, hanya duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


Asya baru saja dari kamar mandi, ia menatap sekitar mencari keberadaan suaminya. Terlihat seorang pegawai yang tengah mendekati El dengan begitu menggoda. Asya ingin melihat, apakah suaminya akan melakukan sesuatu hari ini. Geram rasanya melihat pegawai itu jelas menggoda suaminya dengan membuka beberapa kancing kemeja yang digunakannya.


El tampak cuek, ia hanya berdehem dan terus memainkan ponselnya.


Karena merasa tak dianggap, pegawai itu berpura-pura terjatuh tersandung kaki El. Ia merintih genit seraya menatap ke arah El.


"Kau baik-baik saja?" Tanya El memandang sang wanita.


"Iya Tuan saya tidak apa-apa, tapi sepertinya kaki saya terkilir"


El menatap ke arah kaki pegawai itu, ia hendak memeriksanya namun Asya datang dan langsung duduk diatas pangkuan suaminya.


"Dia kenapa?" Tanya Asya ketus.


El terkejut menatap wajah istrinya yang cemberut. Ia pikir Asya sedang cemburu.


"Tidak tahu. Excusme, tolong dia" ucap El pada pegawai lainnya.


"Mbak, itu bajunya dibenerin ya. Dia udah punya istri, jangan genit deh"

__ADS_1


"Maksud Nyonya apa? Saya tidak menggoda suami anda"


"Mbak lihat teman-teman Mbak, bajunya rapi, baju Mbak kenapa gitu? Kebuka semua"


"Anda jangan menuduh saya"


Asya berdiri dari pangkuan El dan menatap wanita itu dengan kesal. Jelas sekali terlihat. jika pegawai itu menggoda suaminya, bahkan Asya juga meminta ditunjukkan cctv untuk melihat kebenaran nya. Namun wanita itu malah memulai drama dan mengatakan yang tidak-tidak.


"Panggil manager kalian, saya ingin bicara" sela Zio.


Pegawai lain mulai beranjak pergi memanggil manager mereka. Lagi-lagi wanita genit itu melakukan drama yang menjijikkan. Ia bahkan memfitnah Asya telah melukai fisiknya. El masih diam pada awalnya, namun setelah mendengar ada yang mengatakan hak bodoh tentang istrinya, ia tak bisa mengendalikan diri.


Diambilnya telepon Zio yang tengah menelepon pemilik butik tersebut.


"Halo, pegawai anda sangat kurang ajar. Anda tahu saya sedang mempertimbangkan kerja sama kita, tapi setelah semua ini, saya yakin kerja sama kita tidak akan pernah berjalan" El lalu mengembalikan ponselnya pada Zio. Ia mengajak Asya, Jihan dan si kembar pergi menuju butik lain. Biarlah jadi urusan Zio untuk menyelesaikan semuanya.


"Ayah Ayah, ada apa? Kenapa Bunda marah?" Tanya Key.


"Bunda cemburu" jawab El.


"Ceburu? apa itu ceburu?" Sahut Kai.


"Cemburu sayang, artinya Bunda takut kehilangan Ayah, dia sangat menyayangi Ayah kalian ini"


Entah apa yang lucu, tapi Kai dan Key tertawa setelah mendengarkan penjelasan sang Ayah. Mereka menatap Asya sambil tertawa kecil, seolah sedang menggodanya.


"Jihan, maaf" ucap Asya sedih. Ia menyesal sebab Jihan tak jadi membeli gaun di tempat yang diinginkan.


"Tidak apa Asya, aku juga tak suka disana. Dia juga mencoba menggoda Mas Zio, menyebalkan" gerutu Jihan kesal.


Sontak saja kedua wanita ini menatap tajam para lelakinya. El dan Zio hanya tertawa canggung sambil menggendong si kembar. Suasana menjadi menegang, para lelaki itu memilih untuk menjauh sejenak. Tampaknya para betina ingin menerkam tanpa ampun. Padahal jelas itu bukan kesalahan mereka.


Mereka kembali berjalan mencari toko butik lain yang mungkin menarik hati. Selama perjalanan itu, para lelaki sering sekali tertawa di belakang sana. Tapi saat Asya dan Jihan menoleh, mereka terdiam.


"Nona cantik, haii" celetuk Key seraya melambaikan tangannya.


"Siapa yang mengajarimu seperti itu?" Tanya Asya dengan tatapan super tajamnya.


"Ayah"

__ADS_1


__ADS_2