Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 84


__ADS_3

Tangan El mulai menyingkap pakaian istrinya bergerilya dengan leluasa didalam sana.


"Imo, Om El, kalian lagi apa?" Tanya Aqilla yang masuk kedalam kamar. Bodohnya Asya yang tak menutup kembali kamar mereka.


Tak lama setelah Aqilla masuk, Nenek datang dan langsung memarahi gadis kecil. Sembari tertawa dan mengedipkan matanya pada El juga Asya. Kemudian, beliau membawa Aqilla pergi keluar kamar El.


Asya tertawa sambil memandangi wajah suaminya yang tampak terkejut. Tangannya mulai menggerayangi dada El dan menggigit pu ting nya. Suara desa han El terdengar begitu jelas, Asya yang terkejut refleks mendongakkan kepalanya.


"Kok udahan sih sayang? Lagi dong"


"Mas El ih suaranya, nanti kedengaran loh. Dasar, udah sana ganti baju, aku mau kebawah lagi"


"Apa? Enak aja kamu, udah bangunin yang bawah terus mau pergi gitu aja? Tanggung jawab dulu"


El menggendong istrinya, membawa Asya ke atas ranjang. Asya yang was-was, terus melihat ke arah pintu yang masih sedikit terbuka. Tapi El tidak menggubris hal itu, ia sudah diselimuti keinginan yang menggebu.


Asya mencoba menjelaskan kepada El berkali-kali, tapi telinga El tak ingin mendengarkan apapun. El hanya ingin menyalurkan keinginannya pada sang istri. Karena kesal, Asya menendang bagian bawah suaminya. Saat El terkejut menahan sakit, gadis itu berlari keluar kamar, tak lupa ia juga menutup pintu kamarnya.


"Cepet banget selesai nya Sya?" Goda Nenek seraya mengedipkan sebelah matanya.


Asya hanya bisa tersenyum malu, ia memangku Aqilla dan bermain dengannya. Tak lama berselang, El turun dengan pakaian kantornya. Wajahnya cemberut ditambah memakai baju yang tak karuan, sepertinya El sangat marah.


"Mas El"


Bahkan panggilan Asya tak ia gubris, El melengos pergi tanpa menatap dan mengatakan apapun pada siapapun. Asya mengalihkan Aqilla dari pangkuannya, ia kembali mengejar sang suami yang marah.


Ketika El hendak menutup pintu mobil, Asya menahannya, ia duduk dipangkuan El dan menutup pintu mobil.


"Mas El marah ya, maaf"


"Gak lucu, minggir"


"Mas aku gak bodoh, aku tau Mas El gak akan pernah bisa marah ke aku" ujar Asya seraya memeluk suaminya. Ia menciumi leher El dan sesekali meniupnya.


"Terus kamu mau apa?"


"Ayo kita pergi, ke acara nikahan temannya Mas El"


Pemuda itu menghembuskan napasnya berat, pasti Zio yang memberitahu Asya hal ini. Padahal El tak ingin pergi karena acara itu diluar kota.


"Ngapain sih kesana capek, jauh"


"Sambil jalan-jalan, sambil bikin baby El"


"Oke, kita harus berangkat sekarang, kan acara nya nanti malam"

__ADS_1


"Ajak Jihan ya? Biar jadi pasangan Adik Ipar"


"Boleh, tapi kita nginep disana beberapa hari ya. Kita biarin mereka pulang dulu, biar bisa berduaan"


"Aaah, modus tau gak, Mas El kan yang pingin berduaan sama aku. Yaudah sana berangkat, aku mau masuk dulu"


El menarik istrinya yang hendak pergi, Ia mengalihkan tubuh Asya ke tempat duduk disampingnya. Merekapun berangkat menuju kantor El bersama-sama.


Di kantor....


Asya menghentikan suaminya yang hendak turun, ia membenarkan kancing pakaian El dan sedikit merapikannya. El tersenyum lalu meminta istrinya untuk turun, mereka harus segera bertemu dengan Zio dan pergi keluar kota. Tapi sebelum itu, ada beberapa pekerjaan yang harus El dan Zio selesaikan.


"Zio, bawa semua file nya kemari, kita akan pergi keluar kota setelah menyelesaikan semuanya"


"Pergi kemana El?"


"Jangan pura-pura, kau yang mencuci otak istriku bukan. Cepat"


Zio tertawa mendengar perkataan El, memang sudah seharusnya El beristirahat. Menghabiskan waktu bersama sang istri tercinta. Tapi ini bukan niat Zio, ia tak ingin ikut andil dalam perjalanan cinta sahabatnya.


"Kenapa kau duduk disini?" Ujar El saat mendapati Zio duduk dihadapannya.


"Bukankah kita akan membahas file-file ini?"


"Kita lakukan lewat telepon, keluar lah"


"Lihatlah, dia terus saja menggodaku Zio. Aku tak bisa menahannya, keluar"


Zio menghembuskan napasnya kesal, ingin rasanya mencekik El saat itu juga. Sahabatnya yang dulu hanya terpaku pada pekerjaan, kini sangat terlena oleh perasaannya sendiri.


Setelah Zio keluar, El mengunci pintu ruangannya. Mematikan beberapa lampu disana.


"Sayang sini" panggil El pada Asya yang asik menonton televisi.


Gadis itu berjalan mendekati El, lalu duduk dipangkuannya. Ia menanyakan alasan El memanggilnya, padahal Asya tengah asik dengan tontonan nya.


"Sya, sekali aja, beneran pingin aku" bisik El. Ia memandangi Asya dengan putus asa.


"Mas El mau apa hm..." tanya Asya seraya mencium gemas pipi suaminya.


Belum saja El sempat menjawab, teleponnya berdering. Zio ingin segera menyelesaikan pekerjaan mereka seperti permintaan El. Sembari berbincang dengan Zio ditelepon, El meminta Asya untuk membuka kancing pakaian El.


Asya tampak bingung pada awalnya, ia tidak begitu memahami apa yang ingin suaminya lakukan. Namun ia menuruti semua permintaan El. Gemas sekali melihat tubuh kekar suaminya, Asya tak bisa menahan diri untuk tidak meraba tubuh El.


El mendorong tubuh Asya agar berlutut dihadapannya, mata Asya terbelah lebar karena memikirkan hal yang tak ingin ia lakukan. Dengan senyuman, El menarik kepala Asya ke dadanya.

__ADS_1


"Tadi pagi, lakukan seperti itu" bisik El ditelinga istrinya.


Seperti permintaan El, Asya melakukan hal yang sama. Ia ingin merasakan apa yang membuat suaminya begitu tertarik bermain dengan dadanya. Walau milik El tak seindah milik Asya tentunya.


"Ahh sayang, jangan digigit gitu, sakit" ujar El.


"El, aku bisa mendengar nya. Apa yang sedang kalian lakukan disana?" Zio semakin frustasi mendengar suara desa han El. Bisa-bisa ia juga tak mampu menahan keinginannya.


El menutup teleponnya sejenak, ia kembali membaca beberapa file disana. Sambil menikmati sentuhan hangat istrinya.


"Sya, mau coba yang bawah gak?"


"Gak, jangan bilang itu lagi" jawab Asya kesal.


"Cium aja, sebagai permintaan maaf karena sudah menendang nya"


"Oke, tapi Mas El tidak boleh menyentuhku lagi"


"Baiklah Nyonya El, kau menang. Rapikan bajuku dan lanjutkan menontonmu"


Asya bergegas merapikan pakaian suaminya, lalu pergi ke sofa dan menonton drama Korea favoritnya. Layaknya di hotel, Asya juga memesan beberapa makanan dan minuman. Zio juga sudah boleh masuk kedalam ruangan El, membahas pekerjaan mereka secara langsung.


Walau mata El tak pernah lepas dari sosok istrinya. Zio dengan begitu sabar harus membuyarkan El dari lamunannya.


"Mas, buruan, aku udah bilang Jihan, dia mau ikut"


"Jihan? Kita mengajaknya? Tapi kenapa Kakak Ipar?"


"Agar kau memiliki pasangan, nanti kau yang minta ijin pada orangtuanya ya"


"Aku? Haha lelucon macam apa ini El?"


"Sepertinya Zio menolak permintaan mu Sya"


Asya menatap Zio dengan raut wajah sedihnya. Zio menjadi gugup dan canggung, ia dengan cepat menyetujui permintaan Asya. Tanpa tahu ada rencana dibalik itu semua.


Beberapa jam berlalu...


Akhirnya tugas El dan Zio selesai. Mereka membereskan semuanya dan bersiap untuk pergi. Lagi-lagi Asya selalu tertidur disaat seperti ini. El harus menggendongnya masuk kedalam mobil.


Selama perjalanan menuju kampus Asya, Zio terus mendesak El untuk menjelaskan omong kosong yang terjadi padanya. Keinginan tidak masuk akal Asya yang tiba-tiba.


"Zio, kau ingin cepat punya keponakan kan?"


"Kakak Ipar hamil? Sungguh"

__ADS_1


"Tidak secepat itu Zio. Dia harus selalu bahagia, jadi kau harus menuruti semua permintaannya. Jika dia bersedih dan memiliki banyak pikiran, dia akan sakit. Lalu kami tidak bisa, kau tau maksud ku kan"


"Hm....."


__ADS_2