
Zio berjalan mendekat dan memberikan kotak itu pada El. Membiarkan El mengobati luka Asya.
"Kau bodoh Kakak ipar? Kenapa kau melakukannya?" Sentak Zio dengan amarah.
Sontak Asya dan El menoleh bersamaan.
"Kenapa kau menaiki tangga dari lantai dasar hingga kemari? Tidak bisakah kau menunggu lift sebentar?"
"Maafkan aku, tadi aku tidak bisa berpikir jernih. Aku hanya takut jika Mas El dalam masalah kalau filenya tidak sampai. Mas El bilang ini meeting penting" jawab Asya begitu lirih.
"Lalu kau kesini naik ojek? Kenapa?"
"Tadi jalanan sangat macet, aku mencari ojek agar bisa cepat sampai. Maafkan aku ya, aku akan pulang sekarang. Aku sudah tidak apa-apa" ucap Asya lalu berdiri dari duduknya. Ia mencoba berjalan perlahan, menolak semua tawaran El yang hendak mengantarnya pulang.
Zio ikut menahan El, mendudukkan sahabatnya itu di kursi dan mulai menginterogasinya.
"Asya bangun pagi dan menyiapkan semua kebutuhanmu kan El?"
El mengangguk.
"Kemarin dia masak untukmu dan kau tidak memakannya. Apa dia marah? Saat kau marah apa dia juga ikut marah El?"
El menggeleng.
"Kau ingat El? Saat dipesta, teman Asya menjelekkan dirimu. Dan Asya hendak pergi untuk membalasnya. Tapi kau? Kau malah menyetujui saat teman-teman mu mengatakan hal buruk tentangnya. Bahkan tanpa mereka tau siapa Asya"
El terdiam, memorinya kembali berputar. Kesalahan yang teman-temannya katakan mengenai istri mereka, tak El temukan pada istrinya. Bahkan saat memiliki banyak pelayan, Asya masih suka memasak sendiri untuk El. Walau mengurus si kembar, Asya juga tak pernah lupa akan dirinya. Selalu bangun lebih dulu dibandingkan El, dan selalu menyiapkan semua hal kebutuhan El.
"Sekarang, jika Asya benar-benar bersikap seperti istri mereka. Apa yang akan terjadi padamu El?"
Pemuda itu kembali membayangkan, ia begitu bodoh akan sikapnya. Hanya karena Asya membagi waktu untuk si kembar, El merasa jika Asya tak lagi peduli padanya. Jika tak ada Asya, mana mungkin pakaian El rapi saat berangkat ke kantor. Mana mungkin ia makan tepat waktu dan ingat pulang kerumah.
"Zio, aku membuatnya menangis" lirih El. Ia menghela napasnya panjang, sesak kini terasa didadanya. Mengingat perlakuannya pada Asya selama beberapa hari terakhir.
"El, alasanku ingin menikah adalah melihat kalian. Jika kau seperti ini, keinginanku jadi sedikit goyah"
"Zio maafkan aku"
"Kau berbohong padanya, dia sampai terluka hanya karena tak ingin kau berada dalam masalah. Bukan padaku El, minta maaflah pada istrimu. Aku kecewa El, padahal hari itu aku bangga memiliki sahabat seperti mu. Yang menyanjung istrinya dengan senyuman lebar"
__ADS_1
Zio membereskan kotak P3K itu lalu pergi meninggalkan ruangan El. Ia memberikan waktu pada El agar berpikir mengenai kesalahannya. Hanya beberapa detik, El langsung berlari keluar ruangan. Ia bergegas turun kebawah berharap Asya masih berada disana.
"Pak Elvin" panggil seseorang kala melihat El yang tengah menunggu lift.
"Ada apa?"
"Bu Asya, berada dikamar mandi" ucap karyawan wanita itu seraya menunjuk ke arah kamar mandi.
El bergegas masuk kedalam kamar mandi setelah meminta karyawati itu memeriksa jika tak ada orang lain disana. Ia masuk ke bilik samping Asya, mengintip sang istri yang tengah menangis tanpa suara. Asya memukul-mukul dadanya, ingin menghilangkan rasa sesak itu.
Aku adalah pria paling bodoh. Kenapa aku membuat wanita sebaik dirinya menangis? Lalu kenapa jika umur kami terpaut jauh? Ia bahkan lebih baik dari istri teman-temanku. El, kau bodoh mempercayai perkataan teman-teman mu.
El turun dan berdiri di depan bilik Asya. Ia mengetuk pintu dan memanggil namanya. Cukup lama El menunggu hingga istrinya membukakan pintu itu.
"Iya Mas, ada apa?" Tanya Asya dengan senyumannya.
Sekarangpun dia masih bisa tersenyum manis padaku.
El terduduk dilantai, ia menggenggam tangan Asya dan meminta maaf padanya. Persis seperti apa yang Asya lakukan enam tahun yang lalu.
"Mas, kamu ngapain sih? Ayo berdiri" pinta Asya membantu suaminya untuk berdiri.
"Tidak apa-apa Mas, aku senang Mas El tidak marah lagi padaku"
El, wanita polos ini yang kau lukai berkali-kali.
El menggendong Asya dipunggungnya, ia berjalan keluar kamar mandi dan menuju mobilnya. Sebelum pergi, El mengirim pesan pada Zio jika ia tak bisa berada di kantor hari ini. Lalu meminta pemuda itu untuk memakan bekal yang Asya bawakan untuknya.
"Kita mau kemana Mas?"
"Pulang kerumah"
"Aku bisa naik taksi kok Mas, aku gak mau merepotkan kamu"
El menatap istrinya, mengelus pipi Asya lalu mencium keningnya. Ia tahan beberapa detik, hingga air mata El pun menetes.
"Sya, aku mencintaimu. Maaf aku seperti anak kecil"
"Hahaha, Mas berhentilah meminta maaf. Aku juga mencintaimu"
__ADS_1
Mobil El mulai melaju meninggalkan kantornya. Selama perjalanan, Asya menatap jalanan dengan banyak hal yang ia pikirkan. Sekali lagi, ia kalah dengan perasaannya. Rasa cintanya pada El, membuat Asya tak bisa membantah permintaan suaminya. Ia tak ingin egois dengan menuruti perasaannya. Sebagai seorang Ibu, anak adalah nomor satu. Ia tak mau jika kedua putranya tumbuh tanpa sosok Ayah.
*Cinta? Perasaan seperti apa itu? Rasa bahagia dan luka selalu datang bersamaan. Harapan apa yang harus dimiliki untuk membentuk cinta sejati? Hidup adalah tentang realita. Saat dewasa, semua terlihat jelas. Papa benar, kita tak akan bisa hidup bebas tanpa harta dan kekuasaan.
Perasaanku ini apakah benar cinta? Atau aku sebenarnya takut kehilangan suamiku karena nantinya aku tak akan bisa hidup sebebas ini? Aku masih tidak mengerti Mas, hidup terlalu rumit, seperti katamu. Tapi kenyataannya, aku membutuhkanmu untuk bertahan hidup*.
Helaan napas berat Asya membuat El menoleh. Ia menatap sejenak istrinya yang termenung.
"Sayang, are you okay?" Tanya El seraya mengelus rambut istrinya.
"Not bad, but not good"
"I am sorry about, yeah you know. I think mm... I love you"
"Love you too sayang"
Mobil El berhenti di depan rumahnya. Ia menggendong Asya dipunggungnya. Namun sebelum masuk, El mengumpulkan semua bodyguard.
"Dengar, saya yang membayar kalian. Jadi apa yang harus kalian lakukan adalah atas perintah saya. Saya tidak mau ini terulang lagi, kemanapun istri dan anak saya pergi, mereka tidak boleh lepas dari pengawasan kalian. Apapun alasannya, jangan biarkan mereka pergi tanpa pengawasan. Mengerti?" Ujar El dengan nada dinginnya. Padahal raut wajah El begitu datar, tapi ada kemarahan besar dalam nada suaranya.
"Baik Pak, mengerti" sahut para bodyguard itu sebelum kembali ke tempat masing-masing.
El melanjutkan jalannya masuk kedalam rumah. Ia melihat kedua putranya yang tengah bermain dengan baby sister mereka.
"Bunda, Bunda kenapa?" Tanya Key berlari menghampiri.
El menurunkan Asya, memapahnya untuk duduk di sofa.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit terluka"
Si kembar duduk di samping kanan dan kiri Asya. Mereka memijat kaki Asya dan memarahinya. Mengomel agar sang Bunda tidak pergi kemanapun supaya tak terluka lagi.
"Anak Ayah lagi main apa sih?" Sela El yang duduk di lantai menghadap Asya.
Kai dan Key tak menggubris pertanyaan itu, mereka masih terus memijit kaki Asya dengan mengomel yang sangat lucu untuk di dengarkan.
"Sayang, Ayah kalian bertanya. Ayo dijawab!"
"Tidak Bunda, dia pembohong" ucap Kai kesal.
__ADS_1
"Aku tidak suka pembohong Bunda" imbuh Key.