
Asya mulai menyiapkan bahan makanannya. Ia ingin mencari banyak kesibukan, karena terkadang masih terbesit bayangan Dirga dibenak Asya.
"Aku rindu Papa dan semua peraturannya"
"Aku juga ingin membesarkan putri kita seperti Papa membesarkan mu sayang" ucap El sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Tidak, itu akan melukai putri kita nantinya. Aku tahu Mas, saat Mas El mengkhianati aku, saat Mas El bermain dengan wanita lain saat kita berbulan madu aku juga tahu"
"Asya ... itu"
"Aku tidak bodoh Mas El, aku hanya ingin menerima semuanya. Papa sudah mengajarkan aku, jika hati wanita akan lebih sering merasa sakit setelah menikah"
Didikan keras Dirga bukan tanpa sebab, beliau memang tidak tahu bagaimana cara membesarkan seorang putri. Tapi Dirga tahu benar, alasan dibalik sikap tegasnya, demi kebaikan Asya. Peraturan yang Dirga buat untuk melindungi Asya, untuk menjadikan Asya wanita tangguh. Sayangnya Dirga tidak tahu, jika hati putrinya akan lebih sakit saat menerima semuanya.
Melihat suaminya berkhianat, berpura-pura semuanya baik-baik saja. Asya lelah bersikap seolah dirinya gadis bodoh yang menerima segala hal. Ia gadis yang berpendidikan, Asya bisa berdiri sendiri bahkan tanpa bantuan seorang suami.
Tapi bagi Dirga, kehadiran sosok pria dalam hidup putrinya akan sangat berarti untuk melindungi Asya.
Walau tahu sikap dan sifat buruk El, Dirga memilihnya sebagai menantu. Sebab beliau pikir, El akan menjamin kehidupan putrinya. Beliau hanya ingin Asya diam dirumah dan menjadi seorang istri yang sempurna. Jauh dari kehidupan berbahaya yang tak pernah bisa Dirga jelaskan sebelumnya.
"Papa memang kejam Mas, tapi niatnya baik"
"Asya, aku.. itu..."
Asya memeluk suaminya, rasa terimakasih itu keluar dari bibirnya. Seandainya saja, El menolak perjodohan ini, mungkin Asya tidak akan pernah tahu. Seandainya Asya tidak pernah bertemu dengan pria seperti El, mungkin ia tidak akan pernah tahu.
Kebenaran dibalik sikap tegas Dirga selama ini. Untuk membentuk wanita tangguh seperti mendiang Nenek Asya, Ibunda Dirga. Beliau membesarkan Dirga seorang diri, karena Papa Dirga dulu juga suka bermain wanita. Walau pada akhirnya, Papa Dirga kembali pada Ibundanya. Hal itu juga membuat Dirga berpikir jika El hanya akan kembali pada Asya nantinya.
Pikiran picik Dirga, sangat bodoh. Ia berpikir itu yang terbaik tanpa tahu rasa sakit yang putrinya rasakan.
"Asya, kamu tahu semua?"
"Semuanya Mas El, bahkan dengan wanita itu aku juga tahu. Wanita yang kita temui dihotel"
Saat itu, rasanya hati Asya sangat sakit sekali. Tapi apa yang bisa Asya lakukan, dia menerima semuanya. Dan saat El pergi, ia hanya bisa menangis seorang diri. Didalam kamar yang sepi ditemani poster idolanya. Itulah mengapa, Asya tak tega melihat Kinan tetangganya dikhianati seperti ini. Walau dalam hati Asya yakin, Kinan juga tahu suaminya berselingkuh.
"Aku hanya ingin mempertahankannya Mas, tapi terkadang rasa sakit itu, mengikis kekuatan ku"
__ADS_1
"Asya, sayang, aku minta maaf. Aku benar-benar akan berubah. Satu kali lagi aku mohon, kali ini aku akan berusaha"
"Aku tidak bisa menjadi wanita kuat seperti keinginan Papa, Mas"
"Tidak lagi sayang, sekarang kamu adalah satu-satunya wanita ku. Asya percayalah kali ini saja"
Asya melepaskan pelukannya dari El, lalu kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. El yang masih tak mendapatkan jawaban, terus mengusik Asya dengan pertanyaannya.
"Asya oke, sebagai buktinya, aku mau kita punya anak. Dan aku gak akan pulang malam lagi, aku gak mau kamu nangis sendirian, ada aku"
"Oke setuju, hehehe"
El mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti kenapa istrinya terlihat begitu ceria. Padahal Asya telah mengetahui semuanya. El membalikkan tubuh istrinya agar menghadap dirinya, ia perhatikan mata Asya dengan seksama. Mencari penjelasan yang tak El temukan.
"Katakan Asya"
Asya menggenggam tangan suaminya, lalu menciumnya. Ia sudah kalah, rasa cintanya pada El membuat Asya dengan mudah memberikan kesempatan itu. Dan nasihat terakhir Airin setelah menceritakan semua hal mengenai Dirga, Asya harus mempertahankan hubungannya dengan El. Karena hanya dirinya yang berhak atas El dan bukannya wanita lain. Juga, kebenaran lain, Kakek dan Nenek El memberitahu Asya, jika El telah mencintainya. Asya memang naif.
"Apa sih Mas? Kalau Mas El masih tanya lagi, aku berubah pikiran nih ya"
"Tergantung Mas El"
El tersenyum lebar dan memeluk istrinya dengan sangat erat. Asya membalas pelukan itu, entah mengapa hatinya menerima semua ini. Padahal pikiran Asya tak pernah mau sejalan dengan cinta, karena cinta hanya membodohkan seseorang.
Jika saja El tidak mendatangkan Airin kemarin, mungkin selamanya Asya akan salah paham pada Dirga.
"Sya, aku juga tahu loh kegiatan kamu. Hari ini mau masak besar kan? Buat orang-orang miskin itu"
"Ih Mas El mulutnya, kasar. Maaf deh, habisnya Mas El kan pelit, pasti nanti marah deh"
"Emang niatnya aku mau marah, tapi setelah kamu cerita, aku harus mengalah kan? Sekarang bos di rumah ini adalah Nyonya El, semua harus seperti kemauannya"
Asya tertawa kecil karenanya, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun sekali lagi El mengganggu dirinya. El mengatakan ingin bertemu dengan Papa untuk meminta maaf, seolah ia tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya. Asya memang berniat menemui Papa, tapi rasa takut kembali muncul dalam hatinya.
Ketika ia berusaha untuk membenci dan meragukan Dirga, jawaban atas tindakan Dirga selalu Asya temukan di kemudian hari. Begitu juga dengan hari ini.
El menggendong istrinya untuk mandi bersama, ia ingin segera pergi ke rumah Dirga dan sarapan dirumah mertuanya.
__ADS_1
"Mas, jangan pegang ih"
"Kamu kan istriku, pegang massa gak boleh"
"Aku lagi haid Mas"
"Iya aku bersihin ini, udah diem aja"
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Asya masuk kedalam mobil dan mengomel dengan kesal, suaminya memang keras kepala. El melajukan mobilnya pergi kerumah mertuanya, sembari sesekali menatap istrinya yang masih terdiam.
"Udah gak usah belagak takut deh, kemarin kamu gak ingat udah bentak Papa?"
"Maaaaassssssss"
El terkekeh melihat istrinya yang khawatir tanpa alasan. El yakin Dirga akan mengerti, tapi ada kabar tak sedap yang El dengar mengenai mertuanya. Karena itu El ingin datang dan memastikan semuanya.
Setelah sampai dirumah mertuanya, El masuk lebih dulu diikuti oleh Asya. Mereka disambut hangat oleh Airin yang hendak pergi ke dapur.
"Sayang, tumben kalian kesini pagi-pagi, gak ngabarin pula. Ada apa?"
"Mama, Mas El mau ketemu Papa"
Airin menatap El, raut wajah aneh itu membuat El semakin penasaran. Beliau pun menyuruh El dan Asya untuk pergi ke kamar Dirga. El mengangguk dan berjalan menuju kamar mertuanya. Ia mengetuk pintu kemudian masuk kedalam.
Dirga terlihat terbaring diatas tempat tidur dengan wajah pucat. Beliau sangat terkejut ketika mendapati El dan Asya yang masuk.
"Papaaa, Papa kenapa?" Teriak Asya menghampiri Dirga.
"Papa sakit? Karena Asya ya" sela El menggoda.
Gadis itu mulai menitihkan air matanya. Mungkin perkataan Asya kemarin sangat kasar, hingga membuat Dirga sakit seperti ini.
"Maafin aku ya Pa. Aku..aku gak bermaksud..."
"Asya, jangan cengeng" ucap Dirga seraya menghapus air mata putrinya. Beliau menepuk kepala putrinya beberapakali, lalu mencium keningnya. Air mata Dirga ikut jatuh seiring dengan isak tangis Asya.
__ADS_1