
Mobil El sedang melaju menuju rumah mereka. Tapi sebelum itu, El ingin mengajak sang istri untuk pergi berbelanja terlebih dahulu. Kata orang, belanja adalah obat kesedihan setiap wanita.
Dduuuttt....
"Asya, makan bangkai ya kamu? Bau banget, hoek" sentak El yang segera menepikan mobilnya. El membuka kaca mobil, istrinya benar-benar membuat udara didalam mobil menjadi penuh karbondioksida.
"Mas, sakit perut nih" rengek Asya sembari memegangi perutnya.
El meminta Asya menahannya sejenak, ia kembali melajukan mobilnya mencari hotel terdekat. Setelah menemukan hotel, El bertanya pada resepsionis dan meminta Asya untuk segera pergi ke kamar mandi.
Selama menunggu sang istri, El membuat reservasi dengan salah satu manager toko. Ia akan datang bersama istrinya untuk melihat baju-baju model terbaru. El berharap Asya akan menyukainya dan sejenak melupakan kesedihannya.
"Pak El" sapa seseorang.
"Hai, sendiri aja? Atau sama bos?"
"Biasa Pak, nemenin Pak bos nemuin klien. Pak El sendiri saja? Sudah lama kita tidak berbincang" ujar wanita itu dengan centil. Ia bergelayut manja dilengan El, sembari menempelkan dadanya pada lengan El.
"Eh, ngapain kamu, sana minggir jangan pegang-pegang" sentak Asya menarik wanita itu menjauh dari suaminya.
El hanya diam dan tertawa kecil melihat Asya yang sudah mulai berani mengutarakan perasaannya. Memang harus seperti itu, karena Asya selalu saja menerima tanpa mau melawan.
Wanita itu berdiri dan menatap Asya dengan tajam. Hanya sejenak sebelum bos wanita itu datang. Ia mengadu pada si bos dengan gayanya yang manja. Hampir saja bosnya menampar Asya, tapi El lebih dulu menahan tangannya.
"Pak Elvin?"
"Dia istriku, jangan coba-coba"
Seketika wanita itu dan bosnya terdiam dan meminta maaf. El menarik tangan istrinya untuk pergi, Asya sempat menoleh kebelakang, menatap kedua orang itu dan menjulurkan lidahnya. Gadis nakal.
Sebelum melajukan mobilnya pergi, El mencium pipi istrinya. Ia sangat gemas melihat tingkah Asya.
"Mas El kan udah janji mau berubah"
"Loh, aku kan biasa aja sayang, dia aja yang genit"
"Hm..."
"Manis banget sih istriku, tapi sayang kalau kentut bau banget"
Asya memukul lengan suaminya pelan, ia mulai bercerita jika teman-temannya juga mengatakan hal yang sama seperti El. Tetapi hanya Nando yang tak pernah berkomentar apapun mengenai bau kentut Asya. Ia terlihat begitu berseri kala menceritakan mengenai Nando.
El terdiam, ia merasa sangat kesal, sangat. Ia tak suka jika Asya terlihat senang membicarakan pria lain selain dirinya.
__ADS_1
"Mas El kenapa? Sakit perut juga?"
"Cemburu"
Seketika Asya menjadi salah tingkah, bagaimana mungkin suaminya begitu lugas mengatakan kecemburuannya. Pemuda menggemaskan itu, Asya tak bisa menatap El, wajahnya tersipu malu.
"Aaah, Mas El ih, malu tau aku"
"Cewek aneh, suaminya cemburu malah kegirangan"
Asya memeluk suaminya dan mencium pipi El berkali-kali. Mengatakan jika dirinya hanya mencintai El, dan akan selalu seperti itu. El membalas mengecup bibir Asya, lalu menyuruh sang istri untuk duduk karena dirinya akan membawa Asya ke suatu tempat.
"Mas El, aku seneng banget. Aku punya alasan buat benci sama Papa, aku punya alasan buat pergi dari dunia yang Papa ciptakan untukku"
"Maksud kamu gimana sayang?"
"Mas El, bukankah aku juga berhak memilih untuk menciptakan dunia yang ingin aku tinggali?"
"Tentu sayang, kini duniamu adalah aku"
Asya terkekeh mendengar hal tersebut. Ia memainkan ponselnya karena grup chat nya tiba-tiba saja ramai. Gita dan Jihan tengah membahas mengenai drakor baru. Asya juga ikut berkomentar, ingin sekali dirinya cepat pulang dan menonton drakor tersebut.
Karena merindukan kedua temannya, Asya melakukan video call bersama Jihan dan Gita. Mereka bertiga tampak asik berbincang, hingga Asya lupa jika El bersamanya.
"Sayang lihat" ucap El seraya menunjuk ke arah billboard.
Asya mendongakkan kepalanya, menatap iklan yang berganti menjadi foto pernikahan dirinya bersama El. Sejenak gadis itu tertegun tak percaya, tetapi foto pernikahan mereka memang muncul disana.
Dengan cepat Asya menunjukkannya pada Jihan dan Gita. Gadis itu berteriak kegirangan memandangi iklan di billboard tersebut.
Setelah iklan berganti, Asya memandangi suaminya. Ia tak pernah menyangka jika suaminya bisa seromantis ini. Sangat-sangat romantis, bahkan adegan di drama saja kalah romantis dengan sikap El.
"I love you sayang" bisik El sembari mengecup singkat bibir istrinya.
"Aaahhhh, I love you too Mas. Aku sayang Mas El" jawab Asya.
Jihan dan Gita melihat semuanya, pasangan yang membuat kedua wanita itu iri. Mereka berjingkrak-jingkrak hanya dengan melihatnya secara virtual.
"Asya so sweet banget sih" ucap Dita tak bisa menahan diri.
"Eh kalian dengar?"
"Gak cuma dengar, kita juga lihat suami loe cium bibir loe. Mmhhh so sweet" imbuh Jihan.
__ADS_1
Sontak saja Asya menutupi wajahnya, dia benar-benar lupa jika sedang melakukan panggilan video. Asya kembali berbincang singkat dengan kedua temannya sebelum menutup panggilan video tersebut.
El menghentikan mobil disebuah toko baju yang lagi-lagi tak kaleng-kaleng. Asya menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. Hanya dengan sedikit senyuman kecil, Asya langsung dibuat kegirangan. Ia sekali lagi memeluk dan mencium suaminya.
"Aku akan membuatmu menjadi istri paling bahagia Asya. Berbelanja lah sesukamu"
"Tunggu, Mas El pasti ada maunya ya"
"Gak ada"
"Jangan-jangan Mas El mau minta ijin buat nikah lagi, aaah gak mau ah"
El menoyor kepala istrinya, otak kecil sang istri sudah mulai terkontaminasi dengan sinetron yang sering ditontonnya. Karena Asya berada dipelukan El, pemuda itu menarik istrinya keluar dari pintu kemudi.
Sekali lagi Asya dibuat kagum dengan kekayaan El. Mereka berdua memasuki toko pakaian, para pegawai toko sudah berjejer menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya El.
"Tuan El, selamat datang" ucap manager toko mengulurkan tangannya.
"Hm, ingat wajahnya, dia istriku" ujar El memperkenalkan Asya.
Asya tersenyum tipis dan menerima uluran tangan sang manager toko. Beliau memuji betapa cantiknya Nyonya El.
"Asya" panggil seorang pemuda yang muncul dari balik punggung manager toko.
"Kak Rio? Aaahhh lama gak ketemu" jawab Asya heboh.
Rio menjulurkan tangannya, mencoba bertegur sapa dengan Asya. Tetapi dengan cepat El menangkis tangan tersebut. Membangun dinding diantara Asya dan siapapun yang mencoba mendekati istrinya.
Rio menatap tajam ke arah El, hanya sesaat sebelum sang manager menegurnya.
"Rio, kendalikan sikapmu" bisik manager.
"Memangnya dia siapa Pa?" Tanya Rio.
"Mereka adalah Tuan dan Nyonya El, cucu bungsu keluarga Winarso"
"Asya kau sudah menikah? Tapi, bagaimana dengan Nando? Bukankah dia..."
"Cukup, pergi kamu darisini" sentak manager.
Asya menatap Rio dan El bergantian, ia kembali teringat perkataan El mengenai Nando yang menyukai dirinya. Ia berjalan mendekat ke arah El dan berbisik, "Mas El, apakah semua orang tau Nando menyukaiku?"
El merangkul pinggang Asya, mengecup bibirnya singkat. "Aku juga tidak tahu sayang, biarkan saja" ucap El.
__ADS_1