Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 38


__ADS_3

El melajukan mobilnya menuju kantor, karena ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani olehnya.


"Maaf ya Kakak Ipar, jadi ganggu waktu kalian" ujar Zio.


Asya mengangguk dan tertawa, ia sama sekali tak merasa keberatan atau apapun karenanya. Ia duduk, memandangi El dan Zio yang masih berbincang-bincang mengenai pekerjaan.


Ttokkkk.... Ttokkkk....


Seorang wanita terlihat berdiri didepan pintu. Asya memandangi wanita itu yang berjalan dengan lenggak-lenggok mendekati El.


"Pak El, ini ada titipan dari Pak Dimas" ucapnya sembari duduk dipangkuan El.


Asya nampak biasa saja melihatnya, sebab ia sudah pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Berbeda dengan Zio yang terus menatap Asya dengan khawatir.


El juga biasa saja, ia membiarkan wanita itu duduk dan melingkarkan tangannya pada bahu El.


"Pak El kalau pakai baju santai gini, gantengnya kebangetan deh" puji wanita itu dengan centil.


El hanya tertawa membalas pujian itu, tangan nakalnya mulai lagi mengelus tubuh molek wanita yang duduk dipangkuannya.


Asya dengan malas bangun dari duduknya, karena Zio sedari tadi menatapnya dengan khawatir. Gadis itu berjalan mendekati El lalu menarik lengan wanita itu dengan kasar.


"Apa sih?" Bentak wanita itu pada Asya.


"Itu ada kursi, kenapa harus duduk disitu?" Tanya Asya menarik wanita itu menjauh dari suaminya.


"Heh pela cur, loe wanita malamnya Pak El kan? Beraninya loe pegang-pegang gue, jijik" sentak wanita itu dengan kasar.


Asya tak menggubris kata-kata wanita itu, ia malah duduk diatas pangkuan suaminya. "Aku kesayangannya Mas El tau" sahut Asya sembari menjulurkan lidahnya.


El tertawa melihat tingkah konyol istrinya, ia memeluk Asya dan menggigit pipinya gemas.


"Mas? Tapi kan Pak El tidak punya adik perempuan" Tanya wanita itu. Ia masih penasaran dengan posisi Asya.


Tak ada yang menjawab pertanyaan wanita itu, Zio sibuk dengan beberapa dokumen yang harus ia periksa. Sedangkan El sibuk menggoda Asya dengan candaannya.


"Zio, ih, kok gak ada yang jawab aku sih" rengek wanita itu.


"Istrinya, udah sana pergi" jawab Zio ketus.

__ADS_1


Seperti halnya wanita lain yang telah mendengar hal tersebut, wanita itu juga terkejut bukan main.


"I..I..istri? Maafkan saya Bu, saya tidak tahu kalau Pak El sudah menikah" ujar wanita itu sambil menunduk.


"Iya, jangan gitu lagi ya. Kalau kamu deketin Pak El lagi, kerjasamanya batal, ngerti? Sudah sana pergi" ucap Asya. Ia mencoba membentak, namun masih kurang nyali untuk melakukannya.


"Males ah sama Mas El, tadi kan udah janji, kenapa sekarang malah dilakukan lagi?" Tanya Asya dengan nada kesal.


El membela dirinya, mengatakan jika semua itu bukanlah salahnya. Sebab wanita itu yang mulai mendekati dan menggoda El lebih dulu.


Asya memanyunkan bibirnya, ia tak ingin mendengar pembelaan apapun dari El.


"Iya aku salah maaf ya. Kamu kalau lihat cewek deketin aku langsung jambak aja, tarik sampai jatuh biar jauh dari aku" ujar El.


"Nanti kalau aku dipukul gimana?"


"Gak akan berani. Aku gak akan biarin siapapun nyakitin kamu Nyonya El"


"Oke, kalau aku lihat cewek deketin Mas El, aku jambak rambutnya. Terus kalau aku lihat Mas El pegang cewek lain selain aku, aku patahin tangan Mas El" ucap Asya geram.


El tertawa dan memeluk istrinya dengan erat. Ia lalu mengajak Asya pulang karena semua urusannya di kantor telah selesai. Asya terus saja berbicara selama perjalanan pulang, ia mengoceh tanpa henti, mewanti-wanti El agar tidak melakukan ini dan itu.


"Mandi gih, aku mau ajak kamu ke suatu tempat, dandan yang cantik ya" bisik El.


"Cepat mandi, sebentar lagi pegawai salon datang buat dandanin kamu, buruan gih" ujar El.


Asya mengangguk, ia bergegas menuju kamar dan bersiap disana. Sedangkan El menunggu para pegawai salon, juga barang belanjaan Asya yang belum tiba dirumah.


Beberapa menit berlalu....


Asya duduk didepan cermin di kamar tamu. Pegawai salon telah selesai meriasnya, riasan yang cocok dengan gaun yang Asya kenakan malam ini.


"Nyonya cantik sekali" puji salah satu pegawai salon.


Asya menjadi tersipu malu karena pujian itu, ia juga merasa sangat senang memandangi dirinya didepan cermin. Dengan dress berwarna hitam yang pas pada tubuhnya, menunjukkan lekuk tubuh Asya dengan sangat indah.


Setelah selesai dengan pekerjaan mereka, para pegawai itu pergi setelah berpamitan pada El yang sedang menunggu di ruang tamu.


"Mas El" panggil Asya.

__ADS_1


El menoleh, ia tersenyum lebar melihat istrinya begitu cantik dan menawan. Tak lupa sebuah buket bunga yang cantik, El berikan untuk Asya.


"Bunga cantik untuk wanita tercantik" ujar El seraya memberikan buket bunga pada Asya.


"Aaahh so sweet" ucap Asya sembari menghentakkan kakinya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya itu. Ia lalu memeluk El dan mengucapkan terimakasih.


El memegang tangan istrinya, membantu Asya untuk berjalan masuk ke dalam mobil. Kejutan lain telah El siapkan untuk sang istri tercinta.


El melajukan mobilnya menuju salah satu hotel terbaik di kota. Hotel dengan pemandangan paling indah dan romantis. Pemuda itu menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat, menciumnya sesekali dalam perjalanan.


Salah satu kamar terbaik dengan pemandangan yang indah. Ruangan yang selalu menjadi rebutan untuk para pasangan yang hendak berbulan madu.


"Waaah, cantik banget pemandangannya" gumam Asya saat melihat pemandangan melalui balkon kamarnya.


Pemandangan laut malam yang di hiasi dengan lampu berwarna-warni. Begitu indah karena bertuliskan nama Asya disana.


"Nama aku Mas, Mas El...."


"Iya, ini semua untuk kamu, Nyonya El"


Asya memeluk suaminya, kebahagiaan yang benar-benar akan menjadi kenangan untuk Asya kelak. Pria paling manis dan romantis yang pernah Asya temui.


"Aku udah jadi pria idaman kamu belum?"


"Mm.. kurang nol koma nol satu persen"


"Kok gak sempurna?"


"Soalnya Mas El masih nakal"


El terkekeh mendengar jawaban itu, sebab itu memang benar. Namun ia sekali lagi berjanji pada Asya akan berusaha berubah demi hubungan mereka.


"Apa aku wanita idaman Mas El?"


"Tidak"


"Oooh"


"Kau jauh dari wanita yang aku impikan Asya. Tapi mungkin aku salah, aku merasa nyaman di dekatmu, dan aku ingin memilikimu, selamanya"

__ADS_1


Asya menatap lekat mata suaminya, mengelus pipi El perlahan. Detak jantung Asya berdebar begitu kencang, mungkinkah ia telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada pemuda yang bahkan belum lama ia kenal. Pemuda yang merenggut semua miliknya, suami Asya, Elvin Adhitama.


"Mas, aku memiliki idola lain sekarang. Suamiku, Mas El, adalah idolaku. Aku menyukai semua yang Mas El lakukan, aku menyukai semua tentang Mas El"


__ADS_2