Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 57


__ADS_3

Nando terdiam, ia tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Jika Asya tahu mengenai perasaannya, ini pasti karena El memberitahunya.


"Nando, lebih baik kita menjauh saja"


"Itu tidak mungkin Sya"


"Kalau begitu lupakan perasaan mu padaku"


Pemuda itu terdiam, ia menghembuskan napasnya kasar sambil menatap ke lantai. Asya sudah memantapkan hatinya, jika Nando tak biasa merelakannya maka pilihan terbaik adalah akhir dari pertemanan mereka.


Awalnya Asya pikir pertemanan diantara wanita dan pria itu mungkin, setelah dirinya bertemu dengan Nando. Ia selalu bercerita pada Nando, bagaimana akhir dari pertemanan pria dan wanita. Tapi Asya selalu mengatakan jika itu mungkin, karena Nando dan Asya bisa melakukannya.


Namun Asya salah, rupanya Nando memiliki tuntutan atas hubungan mereka. Mungkin jika Nando tak menyukai dirinya, pasti mereka tak akan dekat. Dan Angga juga Surya pasti tak akan mau berteman dengan Asya. Begitulah yang gadis itu pikirkan.


"Baiklah Asya, beri aku waktu. Dan jika mungkin, ajari aku cara melupakan mu"


"Itu sangat mudah Nando, buka hatimu untuk wanita lain"


"Tidak ada yang seperti dirimu Asya"


"Ada banyak yang lebih baik dariku, yang pantas untukmu"


Asya menggenggam tangan Nando, menepuk tangan pemuda itu perlahan. Menguatkan Nando, meyakinkannya jika ada seseorang yang menunggu Nando selama ini. Tetapi Asya tak menyebutkan nama orang itu, karena Asya tak ingin merusak kedekatan keduanya.


"Asya sini, foto dulu" panggil salah satu teman Asya.


Gadis itu berlari menjauh, setelah perbincangan singkatnya dengan Nando. Kini giliran El yang berhadapan dengan Nando. Ia meminta maaf karena tak bisa menepati janjinya untuk tidak memberitahu Asya.


"Licik" ucap Nando sinis.


"Lupakan dia, lagipula Asya sudah mencintai ku. Kami sudah sering melakukannya, dia sangat manis"


"Diam loe brengsek" ujar Nando lalu pergi meninggalkan El.


"Jangan memancingnya El" celetuk Zio. Ia segera mengajak El untuk kembali ke kamar. Kini tidak akan ada lagi yang menganggu pesta ulang tahun Asya.


Asya tampak sangat bahagia, senyuman tak pernah hilang sedikitpun dari wajahnya. Bahkan teman-teman Asya juga merasakan hal yang sama, kebahagiaan.

__ADS_1


Acara ulang tahun Asya berjalan cukup lama, hingga El dan Zio selesai dengan pekerjaan mereka pun, pesta Asya masih berlangsung. Ini pertama kalinya Asya merayakan hari ulang tahun sebesar dan semewah ini. Karena tentu saja Dirga tak akan mau mengotori rumahnya untuk pesta Asya.


Setelah hari menjelang sore, barulah para teman-teman Asya pergi. Meninggalkan ketiga sahabat itu yang kini harus bekerja sama membersihkan rumah Asya.


"Makasih ya, kejutannya asik banget"


"Santai kali Sya, kita juga seneng kok, iya kan Han?"


Jihan tersenyum tipis dan mengangguk. Hal itu membuat Asya dan Gita merasa heran. Mereka mencoba mencari tahu, tapi Jihan nampaknya tak ingin kedua sahabatnya tahu.


"Aku udah tahu kok, kamu suka Nando kan?" Celetuk Asya.


Sontak saja mata Jihan terbelalak, tapi tak lebih besar dari Gita. Jihan memeluk Asya dan meminta maaf, harusnya ia tak menyembunyikan perasaannya. Tapi kebenaran mengenai Nando yang memang menyukai Asya dari awal, membuat Jihan tak mampu melangkah lebih lanjut untuk menunjukkan perasaannya.


"Parah loe Han, tapi kan Nando..."


"Harusnya aku yang minta maaf, aku pasti udah nyakitin kamu"


Jihan dan Asya saling berpelukan dalam tangisnya, berbagi duka yang selama ini terpendam. Gita mengelus kedua kepala sahabatnya, mencoba menenangkan para bayi kecilnya.


Ia kembali bertanya darimana Asya bisa tahu, sebab Asya sangat tak peka mengenai perasaan seperti ini. Dengan jujur Asya menceritakan semuanya, semua hal yang ia dengar dari sang suami. Begitulah gadis yang tak pandai mengenai perasaan itu bisa mengetahui semuanya.


"Kalian tidak bisa dipercaya, lama banget acaranya" timpal Zio.


El dan Zio tiba-tiba terdiam ditempat, setelah menyaksikan Asya dan Jihan yang tengah menangis. Kedua pemuda itu segera mencari alasan untuk membersihkan dekorasi sambil mencuri-curi dengar.


"Tenang aja, kami bakal bantuin kamu deketin Nando. Iya kan Git?"


"Gue sih mau aja Sya, tapi Nando kan.. Eh iya bisa-bisa pasti bisa" Gita segera saja berubah pikiran setelah bertatapan dengan mata tajam Asya.


Jihan kembali memeluk kedua sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang. Ah, harusnya ia mengatakannya dari awal. Apalagi, jelas Asya sama sekali tak menyukai Nando. Mereka bertiga kembali berbincang dan membahas hal lain, hingga kedua pemuda itu selesai membersihkan rumah.


"Ah, Mas El dan adik Ipar ini apa'an sih ganggu orang ngobrol aja"


"Nyonya El, ini sudah jam sepuluh malam, kalian ngobrol lebih dari lima jam" ucap El sembari menunjuk jam dinding.


Asya, Jihan dan Gita menatap jam dinding, lalu saling berpandangan dan tertawa lepas. Sudah sangat lama mereka tak pernah bisa mengobrol panjang seperti ini, rindu sekali. Mereka bahkan lebih terkejut karena rumah sudah kembali bersih dan rapi.

__ADS_1


El meminta Zio untuk mengantarkan Jihan dan Gita pulang, karena El ingin menikmati sisa malam ini bersama sang istri.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Setelah membersihkan diri, El dan Asya berbaring diatas kasur.


"Mau hadiah apa sayang?"


"Baby El"


"Siap Nyonya, ayo kita bikin"


Belum sempat Asya menjawab, El sudah mulai melucuti pakaian istrinya. Asya mengelus pipi suaminya, dan menatapnya. Tatapan itu bahkan kini bisa meluluhkan hati El.


El mengurungkan niat dan hanya memeluk sang istri yang kini tak memakai sehelai kain pun.


"Kenapa Mas?"


"Tidak apa-apa, ayo tidur saja"


"Dingin dong, ih Mas El mah curang"


El mengecup singkat bibir istrinya, lalu memeluk erat Asya. Ia tak mengira, jika rasa takut akan kehilangan Asya akan datang secepat ini. Terlebih, El melihat semuanya, kala Asya menggenggam tangan Nando saat itu. Hal paling menyebalkan yang pernah El lihat.


"Sayang, besok ikut aku ya"


"Kemana?"


"Ulang tahun anak temanku dan ulang tahun pernikahan mereka"


"Waah so sweet Mas, pakai baju kembar ya, ayo belanja lagi"


El terkekeh melihat istrinya yang sudah mulai nakal. Asya juga ikut tertawa, ia tak akan melupakan hari ini. Hari ulang tahun yang sangat berkesan untuknya. Hari dimana ada seseorang yang berani menentang Dirga demi Asya untuk pertama kalinya.


Mata mereka tiba-tiba saja bertemu, bertatapan cukup lama hingga tak sadar bibir mereka saling bersentuhan. Malam ini, akan selalu Asya kenang. Sentuhan El mulai Asya rasakan, debar jantung yang sama.


"I love you sayang"

__ADS_1


"Aah, Mas"


El sudah tak bisa menahannya lagi, ia kerahkan seluruh tenaganya untuk melayani sang istri malam ini. Menciptakan malam paling mengesankan yang tak akan pernah Asya lupakan.


__ADS_2