Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 46


__ADS_3

Esok hari tiba..


El mengerjapkan mata ketika terbangun dari tidurnya. Ia bangun dari atas ranjang dan meregangkan otot-otot yang kaku. Jendela ia buka untuk menghirup udara segar dipagi hari. Kicauan burung yang jarang ia dengar di kota.


"Sudah lama sekali, rumah Kakek memang yang terbaik" gumam El. Ia lalu memalingkan tubuhnya, menatap kasurnya yang kosong.


Pemuda itu sudah menduganya, pasti Asya sudah melakukan banyak hal pagi ini. El mengambil handuk dan pergi mandi. Setelah itu, ia turun menuju meja makan yang sudah ramai dengan banyak orang.


"Dimana istrimu El? Apa dia masih tidur?" Tanya seorang sepupu El.


"Maklumi saja, dia masih sangat muda dan labil" sahut sepupu lainnya. Mereka masih saja mencoba mencari kesalahan Asya.


El tak menggubris perkataan sepupunya, ia duduk dimeja makan sembari memainkan ponselnya. Menunggu Asya yang masih tak terlihat dimanapun.


Tawa para anak-anak mulai terdengar memasuki ruang makan. Mereka begitu riang gembira tertawa bersama Asya dan Nenek buyut mereka. Semua mata kini menatap ke arah mereka, terutama pada Asya.


"Asya, lihatlah suamimu, dia sepertinya marah" ujar Nenek seraya menggerakkan dagunya.


Asya menoleh dan berjalan menghampiri El. Gadis itu mencium pipi El sembari mengucapkan selamat pagi. Ia lalu pergi menuju dapur menyiapkan kopi untuk sang suami.


"Ehem, manis banget sih anak Bunda sama istrinya" goda Bunda pada El.


"Kenapa Nenek membawa istriku pergi? Bukankah dia hanya harus mengurus aku? Jauhkan Asya dari anak-anak itu" ucap El lalu pergi menghampiri istrinya. Ia menarik Asya kedalam kamar, meminta istrinya untuk mengemas semua barang-barang mereka.


Asya tentu tidak mau melakukannya, ia masih ingin berada di rumah Kakek Nenek lebih lama lagi.


"Mas El, aku tidak mau pergi" lirih Asya.


El tidak peduli, ia mengemas sendiri semua pakaian mereka. Asya sudah mencoba menghentikan El, tetapi pemuda itu tak memedulikan Asya sama sekali.


Setelah mengemas semua pakaiannya, El menarik Asya untuk keluar kamar. Namun Asya menolak, dan malah membentak El. Ini pertama kalinya Asya berani menolak keinginan suaminya.


"Kau, berani menolak ku ?" Sentak El seraya mencengkram lengan Asya.

__ADS_1


"Cukup Mas El, kembalikan saja aku pada orangtuaku. Aku menuruti semua permintaan Mas, tapi apa? Mas El melupakan aku dan malah minum-minum dengan wanita lain"


"Apa Nenek mencuci otakmu? Kau baru sebentar bersamanya dan sudah melawanku. Kita harus pergi dari sini"


"Mas El pembohong. Justru Mas El yang menyakiti aku, bukan orang lain"


Asya terduduk di atas kasur, ia sudah lelah dengan semuanya. Tetapi semua yang dikatakan El benar, Asya berani melawan karena dorongan sang Nenek.


Gadis itu masih labil, ia sangat mempercayai segala yang dikatakan oleh orang yang lebih tua, termasuk Nenek. Nenek mewanti-wanti Asya, agar tak terlalu menurut kepada El, karena Nenek tahu benar sifat buruk cucunya.


Mungkin pada awalnya Nenek tak menyukai Asya, bukan tanpa alasan, karena semua istri cucunya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga ketika mereka baru menikah. Terlebih karena berasal dari keluarga kaya, sudah terbiasa memerintah.


El menatap istrinya, Asya terlihat kesal dan terus menatap ke lantai.


"Asya, maafkan aku"


"Tidak lagi Mas. Nenek benar, harusnya aku marah dan tidak memaafkan Mas El. Nenek bilang akan membantu Papa melunasi semua hutangnya pada keluarga Mas El"


"Hutang Apa?"


El sekali lagi mencengkram lengan Asya yang hendak pergi. Ia tidak mengerti mengenai hutang yang Asya bicarakan. Karena sebenarnya itu hanya alasan Dirga agar Asya terikat dengan El. Supaya putrinya tak macam-macam.


Pemuda itu menatap mata istrinya, entah apa yang Nenek katakan hingga Asya bisa memiliki keberanian sebesar ini untuk melawan dirinya.


Flashback on....


Asya yang sudah bangun dari tidurnya, berjalan menuju dapur. Ia sudah terbiasa menyiapkan semuanya dipagi hari.


Dalam perjalanan itu, ia bertemu dengan para ponakannya yang juga terbangun dari tidur.


"Sayangnya Imo sudah bangun, mau kemana?" Tanya Asya antusias.


Ketiga ponakan kecilnya itu duduk di sofa dan merebahkan tubuh kecil mereka disana. Mereka masih sangat mengantuk, tetapi Nenek El sudah membangunkan mereka.

__ADS_1


Tak lama, Rendi juga keluar kamar sembari mengucek matanya. Ia juga berjalan dengan sempoyongan, di susul oleh dua orang sepupunya yang juga masih mengantuk.


"Istri El, kau sudah bangun sepagi ini?" Celetuk Nenek El.


"Iya Nek, kenapa mereka dibangunkan? Mereka masih sangat mengantuk"


"Mereka harus terbiasa bangun pagi, bantu aku untuk memandikan cicitku ya"


Asya menerima permintaan itu, ia segera menggiring ketiga ponakan kecilnya menuju kamar mandi. Dingin, airnya sangat dingin ditambah dengan udara di pedesaan.


Setelah memandikan anak-anak, Asya memakaikan baju lalu mendandani mereka agar terlihat cantik dan juga tampan.


Nenek El mengajak Asya juga para cicitnya untuk berjalan pagi keliling desa. Menyapa setiap penduduk yang sudah mulai bekerja di kebun teh miliknya. Beliau menunjukkan pada Asya betapa luasnya kebun yang dimiliki oleh keluarga Winarso. Asya terkesan, sangat.


"Asya, kenapa Dirga mau menikahkanmu dengan El? Aku yakin, jika Adhitama dan Laura saja memujimu, pasti kau bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari El"


"Mas El baik kok Nek"


"Aku sudah hidup lebih dari enam puluh tahun nak. Aku bisa melihat jika El tidak mencintaimu, kau pasti sering menangis karenanya"


Asya terdiam, ia tidak bisa menyangkal perkataan Nenek El. Tapi ia juga tak ingin mengatakan apapun tentang masalah keluarganya.


Nenek El terus mendesak Asya untuk mengatakan apa yang ia ketahui. Dengan janji akan membantu Asya sebisa mungkin. Perlahan, Asya mulai luluh dengan janji yang Nenek El ucapkan. Ia pun menceritakan semua yang ia dengar dari Papanya, mengenai hutang yang tak bisa dibayar oleh keluarga Asya.


"Aku akan meminta Kakek El untuk melunasinya. Asya, jika El memaksakan kehendaknya lagi, kau bisa menolak"


"Tapi Nek, Mas El suamiku. Papa bilang, istri harus selalu menurut pada suaminya"


"Itu benar sayang, tapi kamu bukan boneka. Kamu bisa menentang jika merasa perlakuan itu tak adil untukmu. Asya, pernikahan itu, kebahagiaan dua orang, bukan salah satu pihak"


Gadis itu kembali dilanda dilema, Airin sudah menasihati Asya untuk mengambil hati El. Tetapi apa yang Nenek El katakan juga benar, jika Asya terus mengalah, dirinya akan terus terluka.


Mama pasti kesulitan, pernikahan begitu memusingkan, batin Asya.

__ADS_1


Asya mencoba mempertimbangkan nasihat Nenek El. Walau hatinya masih ragu, sebab El sudah membuatnya jatuh cinta.


Flashback Off.....


__ADS_2