Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
S2 - 121


__ADS_3

"Zio, jaga kantor. Aku harus pergi, dan periksa semua laporan penjualan hari ini" ucap El kala melihat Zio yang hendak memasuki kantor.


"Kau mau kemana El?"


"Menemui Mama. Tolong pesankan bunga mawar yang indah"


Zio tertawa lalu berbalik setelah mengedipkan matanya. Ia merasa tenang karena hubungan El dan Asya kembali seperti semula.


Mobil El melaju menuju sebuah kompleks perumahan. Menuju sebuah rumah yang familiar untuknya.


Ttok... Ttok ...


Suara ketukan pintu terdengar, El menunggu pemilik rumah membukakan pintu untuknya.


Ceklek...


Pintu terbuka, seorang wanita menyambut El dengan senyuman ramah.


"El, apa yang kau lakukan disini? Asya sudah pergi mengantarkan makanan untukmu, apa kalian tidak bertemu?"


"Boleh aku masuk Ma? Aku sudah bertemu Asya dikantor"


Airin mempersilahkan menantunya untuk masuk kedalam. Terlihat Dirga yang tengah duduk di ruang tamu sambil minum kopi. Beliau terlihat senang melihat El datang berkunjung.


El yang memang tak suka basa-basi langsung mengatakan tujuannya datang kerumah sang mertua. Mencari jawaban dibalik tangis istrinya. El bisa melihat mata sembab Asya, dan perlakuan manis itu. Asya selalu melakukannya saat hatinya terluka. Menyembunyikan luka dengan perlakuan manisnya.


"Bukankah harusnya Mama yang bertanya padamu El? Kenapa kau membuatnya terluka?"


"Asya mengeluh tentang ku Ma?"


"Coba kamu pikir, alasan istrimu mendatangi orang tuanya pasti karena ada masalah dalam keluarganya. El, Asya menikah di usia yang sangat muda. Ia harus tinggal jauh dari keluarga dan membesarkan anak seorang diri. Dan kau masih tak menghargai nya?"


"Aku menyayangi nya Ma, aku bisa membeli semua yang Asya inginkan"


"Asya memberikan sesuatu yang tak bisa kau beli dengan uang El"


El terdiam, ia kalah dengan apa yang Airin katakan. Dirga mencoba menengahi keduanya, ia meminta Airin untuk tidak berpikir yang macam-macam. Beginilah cara kedua orang tua membuat anak mereka mengerti jika pertengkaran itu tak baik.


Airin berdiri dan meninggalkan Dirga serta El yang tengah berbincang. Ia sebenarnya kecewa dengan sikap menantunya, tapi Airin bisa melihat jika Asya sangat mencintai El. Mungkin karena El adalah satu-satunya laki-laki yang datang dalam hidup Asya sebagai seorang pasangan.


"Pa, aku tidak, bukan maksudku.."

__ADS_1


"Iya Papa tau, Mama mu sedang gelisah saja memikirkan putrinya"


"Pa, jika ada masalah tolong hubungi aku. Aku pergi dulu Pa" ucap El berpamitan. Ia menatap ke arah dalam rumah, berharap Airin ada disana untuk melepas kepergian El. Tapi Dirga meminta El untuk mengerti dan lebih baik pergi tanpa berpamitan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Malam tiba...


Asya tengah menyiapkan makanan di meja makan. Menghidangkan makanan untuk si kembar yang sudah duduk manis di meja makan.


"Bunda, apakah Ayah tidak akan pulang hari ini?" Tanya Kai yang terus memandangi arah pintu masuk.


"Ayah pasti sedang makan diluar bersama perempuan cantik" jawab Kay menyahut.


"Hei, siapa yang mengajarkan kalian seperti itu? Tidak ada wanita tercantik selain Bunda kalian ini" sahut El berjalan mendekat. Ia memeluk Asya dari belakang dan memberikan buket bunga mawar untuknya. Ia mencium pipi Asya dan berbisik menyatakan cintanya.


"Kakek yang bilang, katanya Ayah suka banyak perempuan cantik" ucap Key. Ia kembali melanjutkan makannya setelah mengatakan hal itu, seolah tak ada yang terjadi.


Asya menatap suaminya dengan kesal, sedangkan El hanya menghardikkan bahunya tak mengerti. Candaan Adhitama sangat menyebalkan, pasti Ayah El itu ingin membalas putranya yang nakal.


Merekapun melanjutkan makan sambil berbincang mengenai gigi Key. Sepulang dari kantor El, Asya pergi kerumah sakit untuk memeriksakan gigi Key yang terus mengeluh sakit. Akhirnya Asya membawanya ke dokter gigi untuk memeriksanya.


"Anak Ayah gak apa-apa kan? Masih sakit?"


"Key, jangan cari kesempatan ya" sela Asya dengan mata melotot.


Key tertawa melihat Bundanya marah. Sedangkan Kai hanya diam dan fokus pada makanan nya.


"Kai, apa gigimu sakit juga?" Tanya El seraya mengelus rambut putranya.


"Aku tidak suka Om Nando Ayah. Kenapa dia selalu ingin dekat Bunda? Aku takut dia merebut Bunda dariku"


"Kau bertemu Nando, Asya?"


Asya mengangguk. Karena perkataan Kai, suasana menjadi sangat canggung.


Selepas makan, El menemani kedua putranya menonton televisi. Acara anak-anak untuk belajar membaca dan menyanyi. Sesekali ia melirik ke arah Asya yang cemberut, pasti karena perkataan Kai tadi. Asya selalu saja memikirkan semuanya terlalu dalam.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam, El menggendong si kembar masuk kedalam kamar. Ia menidurkan kedua putranya di temani Asya yang hanya melihat. Asya tersenyum melihat kasih sayang El untuk putra mereka.


Usai memastikan si kembar tertidur, El dan Asya berjalan menuju kamar mereka.

__ADS_1


"Sayang"


"Hm, kenapa Mas?"


El menarik sang istri duduk dipangkuannya. Ia memainkan tangan Asya sembari menonton drama kesukaan istrinya. Sesekali El mencium pundak Asya.


"Ada apa Mas? Kebiasaan deh"


"Jangan takut, kamu berhak memilih jalan hidupmu. Kamu berhak menolak seseorang yang tak kamu sukai agar tak dekat denganmu. Tidak perlu khawatir kalaupun dia membencimu nantinya, kau punya aku dan anak-anak"


"Bukan begitu Mas, aku tidak ingin menyakiti perasaan siapapun"


"Sayang, cukup. Kamu banyak menangis karena aku, jangan paksakan dirimu untuk menjaga perasaan semua orang. Kamu berhak bahagia Asya"


Asya menyenderkan tubuhnya pada tubuh El. Ia melingkarkan tangan suaminya pada tubuhnya.


"Aku takut Mas"


"Ada aku, kamu tidak perlu takut apapun"


"Bagaimana jika tiba-tiba Mas El berubah lagi? Aku takut Mas El pergi meninggalkan aku, lalu bagaimana aku bisa melewati semuanya sendiri lagi?"


Sebesar itukah cintamu padaku Asya? Jangan menangis, maafkan aku. Jika tiba-tiba aku berubah, kumohon percayalah dan bawa aku kembali padamu. Aku milikmu Asya, hanya milikmu.


El mendekap istrinya sangat erat. Menciumi pipi istrinya dan menggigitnya kecil. Asya hanya bisa tertawa melihat suaminya begitu nakal. Ia senang kala El memperlakukannya seperti ini, sangat manis.


Dalam hitungan detik, El sudah menidurkan istrinya di tempat tidur. Ia memandangi Asya dengan senyuman nakal.


"Bener ya kata Pak Agus, kelemahan kamu tuh perempuan"


"Apa? Gak gitu kok, aku kan cuma cinta sama kamu Sya"


"Iya itu Mas, kelemahan kamu itu nafsu. Dasar cowok mesum. Aku tau alasan kamu gak mau punya anak cewek, karena kamu takut dia ketemu cowok brengsek kayak Ayahnya dulu kan?"


El mengangguk, ia masih memainkan pipi Asya dengan gemas.


"Tapi Mas, aku mau anak cewek. Nanti kalau anak-anak kita menikah mereka pasti sibuk sama keluarga kecilnya. Kalau anak cewek kan pasti ingat Bundanya terus"


"Kai dan Key tidak akan jauh darimu. Mereka tak bisa hidup jauh dari Bundanya, seperti Ayahnya. Kau adalah kehidupan kami Asya"


"Iih kamu nyebelin banget sih Mas, kenapa selalu bisa buat aku yakin sama kata-kata mu itu, sebel"

__ADS_1


"Karena kamu sangat mencintai aku Asya. Sudahlah, otak kecilmu butuh istirahat"


El merebahkan tubuhnya di samping Asya. Ia tidur sambil memeluk istrinya.


__ADS_2