
El tengah duduk menikmati minuman, sambil berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya. Asya dan Zio seperti biasa sedang berkeliling menikmati makanan.
"Tuan El, anda tidak ingin menikmati ruangan VIP?"
"Saya sudah tidak tertarik lagi"
"Anda serius? Ada banyak wanita seksi dan, kesukaan mu" jelas pria itu.
El hanya tersenyum dan kembali menikmati acara minumnya. Baru sebentar dia menikmati minumannya, tetapi para kolega El membawakan wanita untuk sang Presdir. Para wanita nakal itu, mulai mengerubungi El.
"Sayang, kau akan terus makan atau kita pulang? Lihat apa yang mereka lakukan padaku" teriak El sembari menatap Asya dan Zio yang tak jauh darinya.
"Oke kita pulang" jawab Asya dan Zio berbarengan.
El berdiri dari kursinya dan hendak pergi, tetapi tuan rumah acara tersebut mencoba mencegah El yang hendak pergi. Bahkan beberapa koleganya juga meminta maaf atas tindakan konyol mereka. Mereka pikir, penolakan El hanyalah sebuah alasan saja.
Sekeras apapun mereka mencoba menahan El agar tak pulang, pemuda itu lebih suka jika acara ini berakhir dengan cepat. Karena ia bisa berpesta dengan Asya dirumah lebih lama.
El, Zio, dan Asya pergi berjalan menuju mobil mereka. Zio lalu melajukan mobilnya pulang kerumah.
Di rumah.....
Asya sedang mengganti pakaiannya, sembari menatap cermin.
"Sayang, udah tugas aku sebagai suami untuk memujimu. Jadi kamu gak perlu bercermin seperti ini" ucap El seraya menciumi pipi istrinya.
"Mas, tadi aku ketemu Mbak Adel. Kayaknya dia lagi ada masalah deh Mas, gimana..."
"Biarin aja"
Mood El tiba-tiba saja berubah drastis. Ia melepaskan pelukannya pada Asya dan berjalan menuju tempat tidur. Berbaring disana sambil memainkan ponselnya. Asya semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Selesai mengganti pakaiannya, dan menghapus make up, Asya mengikuti suaminya berbaring diatas ranjang.
"Katanya suami istri, tapi masalah masih masing-masing. Ya udah deh, aku tidur di kamar bawah aja"
"Dasar perempuan itu.."
"Apa?"
__ADS_1
"Hm.. Baiklah Nyonya El, akan aku ceritakan setelah satu permainan"
Asya memutar bola matanya malas, ia hendak berdiri tapi El menahannya lagi. Dasar El, ini bukan saatnya bernegosiasi seperti itu. El bangun dan duduk bersandar, ia menatap Asya sejenak. Sebelum menceritakan kebenaran lain dalam hidupnya.
Pernikahan Farel dan Adelia tak berbeda jauh dengan El dan Asya, semua karena perjodohan. Tapi Farel dan El juga terkenal dengan sikap serta sifat yang bertentangan. Walau keduanya sama-sama pengusaha yang hebat, tapi Farel tidak sebar-bar El yang terkadang suka berlaku seenaknya. El bahkan lebih berani mengambil resiko apapun.
Setelah kurang lebih dua bulan berjalan pernikahan Farel terlihat baik-baik saja. Tapi El, ia tak sengaja memergoki Iparnya dengan pria lain. Ke klub malam dan menginap di hotel. Saat El mencoba bertanya pada Farel, Kakaknya itu beralasan jika istrinya sedang berada dirumah mertuanya.
Satu bulan berlalu, Adelia hamil, dan El satu-satunya orang yang tak percaya jika itu adalah anak Kakaknya. Seminggu setelah kehamilan Adelia, Farel mendatangi El dengan air mata.
"El, aku bahkan belum pernah menyentuhnya sama sekali" ucap Farel diselingi isak tangis.
Kini Farel percaya apa yang El katakan, ia meminta Adelia untuk pergi darinya tapi lelaki yang menghamili Adelia sudah memiliki wanita lain. Seakan diserang oleh ribuan tombak yang tajam, hati Farel terkoyak. Adelia berkali-kali mencoba menggugurkan anak dalam kandungannya, bahkan tak sekali ia mencoba mengakhiri dirinya.
Tapi Farel, selalu mencoba membimbing istrinya kembali kejalan yang benar. Menasihati Adelia, walau terkadang perkataannya itu hanya angin lalu.
"Ceraikan dia Mas, masih banyak wanita diluar sana. Aku akan memberitahu Ayah dan Bunda"
"Jangan El, aku, aku mencintai istriku. Aku tak ingin Kakek sakit setelah mendengar semua ini"
"Mas, hidupmu akan terus terluka. Jangan pikirkan orang lain, kau..."
El menerima permintaan Kakak nya, tapi sebagai konsekuensinya, hubungan antara El dan Farel harus renggang. Karena El masih tak menyetujui pikiran bodoh Kakaknya itu.
Begitulah bagaimana kedua nya jauh. Walau Farel mencoba memperbaikinya, tapi hati El tak bisa. Itu juga alasan mengapa El tak menyukai Aqilla. Bahkan Adelia pun enggan mengurus putrinya sendiri.
"Mas, Mas Farel itu benar, Aqilla tidak salah Mas"
"Tapi dia bukan keluarga kita"
Asya menggenggam tangan suaminya, menepuk-nepuk punggung tangan El perlahan. Pasti beban ini selalu El rasakan kala bertemu dengan keluarga besarnya.
Ttokkkk.... Ttokkkk.....
"El, Eellll" panggil seseorang.
El dan Asya saling berpandangan, kemudian berjalan turun kebawah. Ini sudah sangat larut malam, tapi masih saja ada yang menganggu mereka.
Ceklek....
__ADS_1
Pintu rumah terbuka, terlihat Farel, Adelia dan juga Aqilla di depan pintu itu. Tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat deras, seolah inilah takdir yang harus El lewati. Aqilla masih tertidur pulas dalam gendongan Farel.
"Aku sudah bilang, jangan ikut campurkan aku dalam masalah kalian" sentak El kesal. Seakan ia tahu jika kehadiran sang Kakak karena lari dari masalah besar.
"Mas El, ini sudah malam, biarkan mereka istirahat"
Asya membantu mengangkat barang bawaan keduanya ke kamar tamu. Walau ada banyak pertanyaan, Asya lebih memilih diam dan membiarkan para Iparnya untuk beristirahat.
Adelia dan Aqilla sudah berada didalam kamar tamu. Asya kemudiaan keluar kamar menghampiri El dan Farel yang tengah berbincang dengan emosi di ruang tamu.
"Sekarang istrimu berulah apalagi?"
"El, ini, aku titip mereka ya. Seseorang berusaha menyakiti Adelia dan Aqilla. Aku tidak tahu siapa mereka El"
"Kenapa kemari? Pergilah kerumah Ayah dan Bunda atau kerumah mertuamu itu. Kalian mengganggu kami"
"Bagaimana mungkin El, mereka akan tahu jika para preman itu datang kerumah. Hanya beberapa hari saja, kumohon"
"Mas El, tidak apa-apa, aku jadi memiliki teman dirumah"
Sekali lagi El menyetujui permintaan istrinya, hanya karena Asya ia mau menerima keluarga sang Kakak. Ia mengajak Asya untuk kembali masuk ke kamar, dan seperti biasa meminta Zio untuk mencari tahu semuanya.
"Kau tahu Asya, Kakak ku sangat bodoh. Ia terlalu berhati-hati dalam segala hal, tapi berlagak melindungi seseorang yang bahkan tak..."
"Dia memang lelaki idaman, Mas Farel keren"
El menghembuskan napasnya kasar, satu lagi orang bodoh yang satu pemikiran dengan Kakaknya. Padahal El juga seperti itu, ia rela melakukan apapun untuk Asya, orang yang ia cintai. Hanya saja, El tak menyadari hal itu.
"Mas, jangan marah dong, katanya mau bikin baby El"
"Gak nafsu"
"Bagus dong, aku tidur aja kalau gitu, capek" ucap Asya kemudian membaringkan tubuhnya diatas kasur.
Mata El sejenak menatap sang istri, perkataannya memang sering tak sesuai dengan keinginannya. Ia mematikan lampu kamar dan melucuti pakaian istrinya.
"Enak aja kamu, aku udah nunggu lama"
"Iih Mas El, nakal banget sih. Auh pelan-pelan dong"
__ADS_1