Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 86


__ADS_3

"Jihan, ingat ya, kau harus membantuku melindungi Adik ipar ku dari mantannya yang jahat"


"Sesuai permintaan anda Nyonya El"


"Tunggu" ujar penjaga menghentikan keduanya.


Asya dan Jihan saling berpandangan, mereka tak melihat El dan juga Zio didekat mereka. Sedangkan para penjaga itu meminta undangan agar mereka bisa masuk kedalam. Asya mencoba menjelaskan, namun penjaga itu tak mau mengerti.


Hingga pada akhirnya El mengangkat telepon Asya dan kedua pemuda itu kembali menuju pintu masuk.


"Mas El ini gimana sih? Kenapa aku ditinggal?"


"Aa..anu maaf sayang, kita pikir kalian ada dibelakang kita tadi"


"Hm..."


"Jangan marah dong sayang. Zio, Jihan, kalian pergilah lebih dulu, aku harus ke kamar mandi"


Zio dan Jihan berpamitan pergi, Asya juga hendak mengikuti mereka, namun El menahan tangannya. El menarik Asya dalam dekapan, sambil berbisik agar memberikan waktu untuk pasangan baru itu. Dengan mudahnya Asya terbujuk tipu rayu El.


"Sayang, kamu cantik banget hari ini"


"Biasanya gak cantik?"


"Hm... salah mulu, mau liburan berapa hari kita disini? Aku udah booking hotel yang bagus buat kita"


"Aku sih terserah Mas El aja. Lagian aku free kapan aja tuh, kan yang sibuk Mas El"


"Kalau buat kamu mah pekerjaan nomor dua"


Asya menarik hidung suaminya yang romantis itu. El mengajak Asya untuk menghampiri pemeran utama di pesta tersebut, sang pengantin. Wajah pasangan pengantin baru itu tampak bahagia dan cerah, membuat Asya merasa iri. Ia refleks memeluk El, tak bisa Asya pungkiri jika ia juga menginginkan pernikahan seperti ini, seperti impiannya.


El mengelus rambut panjang istrinya. Ia tahu apa yang sedang istrinya pikirkan, hidup beberapa bulan bersama Asya, membuat El memahami siapa istrinya dan bagaimana cara Asya berpikir. Sebab istrinya selalu mudah ditebak, seperti gadis remaja yang polos.


"Tuan Elvin Adhitama, apa yang kau lakukan disana? Kemari cepat" teriak sang pengantin pria.


Hal itu membuat beberapa mata menatap ke arah El. Pemuda itu tidak peduli dengan mata yang memandangnya, ia mengajak Asya untuk menemui kedua pengantin.


"El, ku kira kau tidak akan datang" ujar pengantin pria.

__ADS_1


"Aku memang tidak ingin datang, tapi Nyonya ku memaksa"


"Nyonya El terimakasih sudah memaksanya datang. Anda terlihat sangat cantik"


Asya tersenyum dan memberikan selamat pada pengantin baru. Mereka berfoto sejenak sebelum El dan sang pengantin pria membahas pekerjaan tentunya. Asya menarik pakaian El karena kesal, bisa-bisanya para lelaki itu membahas pekerjaan disaat seperti ini.


"Maaf jika aku menyela, tapi jangan bahas pekerjaan dihari bahagia seperti ini. Terkadang kalian tidak menyadari, ada yang terluka karenanya" ujar Asya seraya menatap pengantin wanita yang tersenyum padanya.


El akhirnya memutuskan untuk berhenti berbincang dan pergi. Ia mengajak Asya untuk duduk dan menikmati jamuan yang ada. Tentu saja El dengan minumannya.


"Kakak Ipar, kau terlihat cantik hari ini" puji Reno yang ikut bergabung bersama Darel dan Brian.


"Terimakasih, kalian juga terlihat tampan" balas Asya.


"Apa? Tunggu, tadi kau memarahiku karena berkata hal seperti itu. Sekarang kau malah balik memuji mereka" sela El.


"Mas, mereka tidak melihatku setiap hari. Tapi Mas El? Setiap hari, setiap waktu bersamaku bukan?"


"Tapi Nyonya El itu tidak adil"


"Apa yang gak adil Mas? Hm... Apa?"


Teman-teman El tertawa melihat seseorang yang bisa mengendalikan El, terlebih saat sosok itu adalah seorang wanita.


"Kakak Ipar, coba minum deh" tawar Darel seraya memberikan segelas minuman untuk Asya.


"Kau mau aku memukulmu? Jangan memberi istriku minuman semacam ini" sentak El kesal.


Asya menoleh ke arah suaminya, ia mencoba menenangkan El yang emosi. El menyenderkan tubuhnya di sofa, seraya memainkan ponselnya mengecek pekerjaan tentunya. Sedangkan Asya berbincang ringan dengan teman-teman El.


"Kalian gak bawa pasangan? Istri atau pacar?"


"Kami masih terlalu muda untuk menikah Kakak ipar" ujar Brian.


"Yaps, kalau pacar sih, kita mah ikutin El aja. Gak punya pacar tapi ceweknya banyak hahaha" sambung Reno.


Hampir saja El melempar gelas ke arah teman-temannya, untung saja Asya dengan sigap menahannya.


"Kakak Ipar, aku tidak tahu apa yang El lihat darimu. Kau pasti sangat istimewa" sahut Darel.

__ADS_1


"Istimewa bagaimana? Karena mendapatkan Mas El?"


"Itu salah satunya. Tapi lihatlah, kau membangunkan sesuatu yang sulit dibangunkan oleh wanita lain" jawab Darel seraya memandangi bagian bawah El. Hanya dengan sentuhan tangan Asya di paha, milik El tak terkendali.


"Bukankah Mas El sering tidur dengan banyak wanita?"


"Kau pikir aku pria macam apa Asya? Kenapa aku harus tidur dengan banyak wanita?" Sela El.


"Hm..."


"Sayang, aku tidak pernah tidur dengan mereka"


"Hm..."


"Aku melihat semua milik mereka, tapi mereka tidak boleh melihat milikku. Aku hanya menyentuh mereka bukan meniduri mereka semua. Aku tidak bodoh Asya, bagaimana jika aku tertular penyakit atau apalah itu"


Walau sudah berusaha baik-baik saja, membicarakan hal ini tetaplah menyakitkan. Asya tak ingin lagi membahasnya, ia ingin mencari makanan karena merasa lapar setelah perbincangan ini.


"Ingat ya, jika istriku tidak memaafkan ku, aku tarik semua investasi ku dibisnis kalian"


"Mas El ih, jahat banget sih. Udah gak marah kok"


El mengecup bibir istrinya singkat lalu memeluknya. Mudah sekali membuat Asya lupa akan amarahnya.


Tak lama, Zio dan Jihan bergabung. Teman-teman El mulai menggoda Zio dan Jihan. Walau keduanya biasa saja dan hanya tersenyum menanggapi ejekan itu.


Asya yang penasaran bertanya banyak hal pada Jihan. Tentang bagaimana perasaannya, perlakuan Zio, apa yang mereka lakukan dan masih banyak lagi. Ia juga bertanya apakah Jihan bertemu dengan seorang wanita gila yang mencoba mendekati Zio.


"Gue ketemu dia, beraninya dia jambak rambut gue, pakai segala ngomongin loe. Langsung aja gue tonjok"


"Uwaaaa Jihan hebattt"


Berbeda dengan reaksi Asya yang antusias, ketiga teman El menatap Jihan tak percaya. Secara tidak langsung Jihan membuat ketiganya terkesan. Baru saja mendengar sedikit kisah tentang Jihan, mereka sudah mulai meminta nomor Jihan.


"Tidak-tidak, jangan berikan nomormu pada mereka Jihan. Jika mereka datang menemui, beritahu aku" sela Zio menghentikan aksi konyol ketiga temannya.


"Aaahh so sweet" seru Asya malu-malu. Ia tertawa kecil seraya sesekali menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Kau mengatakan sesuatu sayang?" Tanya El seraya membuka matanya lebar.

__ADS_1


Asya tak menggubris pertanyaan El, ia hanya fokus pada Zio dan Jihan. Walau beberapa kali El mencoba menarik perhatiannya, tapi Asya sama sekali tak tertarik. Hal itu sukses membuat teman-teman El termasuk Jihan tertawa karenanya.


__ADS_2