
Wajah Asya menjadi merona setelah mendengar deheman Dirga. Ia lupa jika mereka sedang berada dirumah orang tua Asya. Gadis itu memukul El lalu pergi menghampiri Airin yang tengah sibuk di dapur.
"Ma, ini ku kok nyeri ya, cenut-cenut gitu" ucap Asya seraya menunjuk dua gundukan didadanya.
"Kamu lagi haid ya?"
Asya mengangguk, Airin tiba-tiba saja tertawa kecil karenanya.
"Pantes aja El kelihatan murung"
"Ih Mama apa'an sih"
"Ajak El bulan madu diwaktu subur kamu gih, biar Mama bisa cepat punya cucu"
"Mama sama Mas El sama aja, nyebelin"
Airin menggelitik tubuh putrinya, Asya tertawa terbahak-bahak karenanya. Asya mengikuti Airin mengeluarkan beberapa camilan untuk para pria yang masih asik berbincang mengenai pekerjaan.
"Kalian mau bulan madu kemana?" Tanya Dirga.
"Pa, aku sama Mas El sudah bulan madu"
"Cuma sekali? Papa kan belum dapat cucu. Papa mau gendong cucu Sya. Teman-teman Papa selalu membahas cucu saat kami bertemu"
"Asya gak mau Pa"
"Mas El ih, gak gitu Pa"
Asya yang kesal mencubit pipi suaminya, padahal El yang menolak bukan dirinya. Walau begitu ia tak coba menjelaskan pada Dirga, karena El terlihat menikmati momen ini. Momen yang El rindukan, bersama keluarga.
Sayangnya, Airin melihat bagaimana pandangan putrinya tak pernah lepas dari El saat itu. Ada cinta yang begitu besar dimata Asya untuk El.
Airin mulai memikirkan ide jail untuk mengerjai Asya, ia tahu benar jika putrinya itu akan sangat mudah terpancing.
"El ganteng ya Sya"
"Iya Ma, eh Mama ih"
__ADS_1
Para lelaki itu tertawa melihat Asya yang salah tingkah, ini adalah bentuk keluarga yang selama ini Asya impikan. Bercanda ria dengan sang Papa.
Ponsel El berdering, ia pergi sejenak untuk mengangkat telepon lalu kembali dengan wajah sedih. Sebenarnya El tak ingin merusak hari istrinya, tapi dirinya harus pergi ke kantor untuk bertemu klien penting.
El sudah meminta Zio untuk mengaturnya, tapi klien itu bersikukuh bertemu dengan El langsung. Dirga tentu saja meminta Asya untuk membiarkan suaminya pergi. Ia bahkan meminta Asya untuk ikut atau lebih baik pulang kerumahnya. Karena beliau sudah merasa baikan setelah berbincang dengan menantu kesayangannya.
"Mas El masih jadi kesayangan Papa ya"
"Kamu itu kesayangan Papa Asya. Kalau Papa tidak punya kamu, Papa juga tidak akan jadi mertua El. Sudah jangan seperti anak kecil"
"Aku itu sayang Papa, bangeeeetttt"
"Papa juga sayang kamu. Papa memang berencana membeberkan semua ini setelah usiamu lebih dari dua puluh tahun Asya. Papa pikir saat itulah kamu telah tumbuh dewasa"
"Pa, Mas El bilang, dewasa itu bukan dilihat dari usia"
"Iya Papa tahu, makanya kamu masih aja manja. Jangan nyusahin suamimu, tidak baik"
Asya kembali merengek dan bertingkah seperti anak kecil dihadapan Dirga. Walau bagi Dirga putrinya telah dewasa, tapi menurut Asya, ia seperti terlahir kembali karena kasih sayang Dirga kini bisa ia rasakan.
Mau tidak mau, Asya harus pergi ikut bersama El pergi ke kantor. Ia tak pernah melepaskan tangannya dari tangan El. Sepanjang jalan menuju ruangan El, Asya terus menggenggam tangan suaminya.
"Kamu mau masuk atau disini aja?"
"Masuk lah, aku harus jagain Mas El"
El terkekeh melihat istrinya, ia pun ikut menyusul masuk bersama sang istri. Sekali lagi Asya harus dihadapkan dengan wanita penggoda suaminya. Sepertinya El sangat disukai oleh para wanita, mereka selalu saja mencoba mendekati El. Terlebih El sangat mudah digoda jika wanita itu mengenakan pakaian yang menonjolkan bagian yang sudah menonjol.
Awalnya pembicaraan mereka berjalan dengan lancar, kerjasama juga sudah didepan mata. Asya yang sudah tak tahan, meminta ijin untuk berpamitan pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai buang air kecil, Asya kembali dan memasuki ruangan El. Baru saja ia pergi sebentar, wanita itu sudah membuka blazer nya, lihatlah betapa seksinya sang wanita. Ia alihkan pandangannya menatap El yang duduk disamping sang wanita, sedikit heran karena biasanya tangan nakal suaminya akan berada di bagian tubuh wanita itu.
Namun kini, bahkan El tidak melirik wanita itu sama sekali. Ia mencoba membahas lanjutan bisnis dengan koleganya itu. Bagi para calon kolega El, mereka sudah tahu cara mengambil hati sang Presdir. Datang, dan beri El wanita nakal, maka semuanya lancar. Tetapi El, tentu tidak main-main dengan pekerjaannya.
Asya yang geram melihat tangan wanita itu menyentuh paha suaminya, segera ia berjalan mendekat dan menjambak nya tanpa ampun. Ia menarik lengan wanita itu lalu mendorongnya keluar ruangan. Kini keduanya tengah menjadi tontonan karyawan kantor.
"Apa kau gila? Kenapa menyakitiku? Pak Elvin akan memarahimu"
__ADS_1
"Dengar ya, aku istrinya, dan hanya aku yang berhak atas suamiku. Kau mengerti?"
"Jangan mengada-ada, Pak Elvin tidak memiliki istri"
"Pergi atau aku akan memukulmu dengan ini?" Ancam Asya sambil menyambar vas bunga di meja salah satu karyawan.
Wanita itu terlihat kesal, ia segera berjalan pergi keluar setelah mengenakan blazer nya lagi. El tidak peduli, ia masih terus berbincang dengan koleganya. Walau sebenarnya kolega El ingin tahu apa yang terjadi dengan wanita sewaannya.
"Adik Ipar dengar, buat peraturan tidak boleh mengenakan rok terlalu pendek dan juga pakaian yang ketat"
"Tapi, nanti El akan marah"
"Turuti saja permintaannya Zio, kau mau dia memukulmu dengan vas itu?" Teriak El dari dalam ruangannya.
Zio menatap Asya, Kakak Iparnya terlihat begitu kesal. Tetapi ia juga senang karena permintaan Asya akan sangat membantu perubahan dalam diri El. Zio menggiring Asya untuk kembali masuk kedalam, kehadiran Kakak Ipar nya sudah membuat suasana menjadi tegang saat itu. Beberapa karyawan bahkan tak fokus dibuatnya.
El terlihat telah selesai dengan kerja samanya. Ia kini duduk dengan santai sambil berbincang.
"Maaf Pak, tapi tolong jangan membawanya lagi saat anda bertemu suami saya"
"Baiklah Nyonya El, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini" ucap kolega El lalu berpamitan pergi.
Asya menatap El dengan amarah, padahal suaminya berjanji akan berubah, tapi masih saja. Dan alasan yang sama itu membuat Asya semakin kesal.
"Iya aku tahu bukan Mas El, tapi tolak dong Mas, jangan dibiarkan"
"Sayang, aku tidak bisa menolak semua wanita yang mendekat. Kau pikir kenapa aku selalu menuruti kemauan mu?"
"Karena aku istri Mas El, mereka bukan. Jangan samakan aku dengan mereka" sentak Asya semakin kesal.
El bodoh, padahal ia tahu istrinya sedang dalam masa dimana moodnya bisa naik turun kapan saja. Terlebih saat emosinya dipancing, Asya akan langsung meledak.
"Sayang gak gitu maksud aku"
"Apa-apa terus apa?"
"Iya udah maaf, aku salah"
__ADS_1
...Bodoh, selalu saja dia seperti ini jika sedang haid. Istriku menyebalkan, pikir El dengan senyuman kaku....